KABARBURSA.COM – PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) menutup 2025 dengan pertumbuhan laba bersih dua digit di tengah tekanan pendapatan yang relatif menurun. Namun, masih ada pekerjaan rumah (PR) yang besar, terutama dari pergerakan harga saham.
Laba bersih BTPN Syariah F25 tercatat sebesar Rp1,2 triliun atau setara Rp156 per saham, tumbuh 13,15 persen dibandingkan Rp1,06 triliun atau Rp138 per saham pada 2024. Kenaikan laba ini terjadi ketika pendapatan bersih justru turun tipis 3,31 persen menjadi Rp5,22 triliun dari Rp5,39 triliun pada tahun sebelumnya.
Struktur pendapatan menunjukkan pergeseran komposisi. Pendapatan dari jual beli marjin murabahah turun 5,33 persen menjadi Rp4,55 triliun dari Rp4,81 triliun. Namun pendapatan bagi hasil musyarakah meningkat menjadi Rp34,56 miliar dan pendapatan usaha utama lainnya naik menjadi Rp625,02 miliar.
Kombinasi ini menahan penurunan total pendapatan dan menopang perbaikan laba bersih. Artinya, ada efisiensi atau perbaikan kualitas pembiayaan di tengah tekanan margin.
Dari sisi intermediasi, pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp10,03 triliun sepanjang 2025, tumbuh 10,83 persen dibandingkan Rp9,04 triliun pada 2024. Dana pihak ketiga juga meningkat 7,27 persen menjadi Rp2,27 triliun dari Rp2,13 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK menunjukkan ekspansi yang relatif agresif, dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas yang lebih ketat.
Total aset BTPS per Desember 2025 tercatat Rp22,75 triliun, naik 4,61 persen dari Rp21,74 triliun pada akhir 2024. Liabilitas berada di Rp2,85 triliun dan ekuitas Rp9,96 triliun.
Struktur ini mencerminkan basis permodalan yang masih kuat untuk menopang ekspansi pembiayaan, dengan pertumbuhan aset yang sejalan dengan peningkatan penyaluran dana.
Performa Harga Saham BTPS
Di sisi pasar, harga saham BTPS pada perdagangan terakhir turun 2,02 persen ke level 1.215. Saham dibuka di 1.245, sempat menyentuh level tertinggi 1.250 dan terendah 1.210, lalu ditutup mendekati level low intraday.
Nilai transaksi tercatat Rp12,7 miliar dengan volume 103,77 ribu lot dan rata-rata harga 1.224, Tekanan jual masih relatif dominan pada sesi berjalan ini.
Struktur orderbook memperlihatkan keseimbangan yang cenderung tipis antara bid dan offer. Total antrean bid mencapai 69.164 lot dengan 798 frekuensi, sementara offer 58.475 lot dengan 872 frekuensi.
Di level 1.210 sebagai harga penutupan, antrean beli mencapai 12.479 lot, sementara di 1.215 terdapat 2.305 lot di sisi jual. Meski total lot bid lebih besar, harga tetap melemah, mengindikasikan bahwa tekanan jual terjadi melalui eksekusi transaksi, bukan sekadar antrian di atas pasar.
Secara historis, performa harga BTPS dalam jangka pendek masih tertekan. Dalam satu minggu turun 4,33 persen dan dalam satu bulan melemah 2,41 persen. Dalam tiga bulan terkoreksi 11,96 persen dan enam bulan turun 15,63 persen.
Namun secara year-to-date masih mencatat kenaikan tipis 0,83 persen, sementara dalam satu tahun terakhir naik 35 persen dari level sekitar 800 menuju area 1.200-an.
Kombinasi kinerja fundamental yang membaik dan pergerakan harga jangka pendek yang terkoreksi menunjukkan adanya fase konsolidasi di pasar. Laba yang tumbuh dua digit menjadi katalis positif dari sisi fundamental, tetapi tekanan harga intraday mencerminkan respons pasar yang lebih berhati-hati terhadap dinamika pendapatan dan tren jangka pendek.
Selama harga mampu bertahan di atas area 1.200 sebagai penopang psikologis, struktur jangka menengah masih terjaga, meski volatilitas jangka pendek tetap menjadi faktor dominan dalam perdagangan harian BTPS.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.