Logo
>

Investor Wajib Tahu, ini Deretan Sektor Unggulan dalam Investasi B57+

B57+ buka peluang investasi di sektor halal, pertanian, dan energi hijau, jadi magnet baru bagi investor global termasuk dari Timur Tengah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Investor Wajib Tahu, ini Deretan Sektor Unggulan dalam Investasi B57+
B57+ dorong investasi di sektor halal, pertanian, dan energi hijau, membuka peluang baru bagi Indonesia dalam rantai pasok global. Foto: Dok. Kemenag RI.

KABARBURSA.COM – Kehadiran Regional Headquarters Business 57 Plus (B57+) di Jakarta bukan sekadar memperkuat diplomasi ekonomi, melainkan membuka keran investasi pada sektor-sektor strategis masa depan. Dalam ekosistem yang menghubungkan 57 negara anggota ini, sejumlah sektor diprediksi akan menjadi magnet utama bagi para pemilik modal global, terutama dari kawasan Teluk.

Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Prof. Nur Hidayah, Ph.D, mengungkapkan efektivitas investasi B57+ akan sangat bergantung pada bagaimana negara anggota, termasuk Indonesia, mampu mengelola sektor yang memiliki nilai tambah tinggi atau value-added.

Dalam diskusi bersama KabarBursa, Prof. Nur menekankan pentingnya pergeseran dari sekadar ekspor bahan mentah menuju industrialisasi bersama. Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk mengambil peran sentral dalam rantai pasok global melalui sektor-sektor unggulan yang lebih produktif.

“Indonesia misalnya dapat mengambil peran dalam pengolahan makanan halal industri kreatif halal ataupun logistik halal. Negara lain yang unggul di bahan baku bisa menjadi pemasok utama. Skema ini akan menciptakan industrialisasi bersama yang saling menguntungkan," jelas Prof. Nur dalam webinar Insight Emiten KabarBursa, Jumat, 17 April 2026.

Tak hanya soal profit, B57+ juga mulai melirik investasi yang sejalan dengan tanggung jawab lingkungan. Prof. Nur menyarankan agar aliran modal diarahkan pada proyek-proyek yang mampu menjaga keseimbangan alam, seperti energi terbarukan.

"B57 sebaiknya mengarahkan investasi ke proyek-proyek hijau seperti energi terbarukan pengelolaan limbah pertanian berkelanjutan dan green sukuk,” ujarnya.

Berdasarkan paparan Prof. Nur Hidayah, terdapat tiga pilar sektor strategis yang akan menjadi fokus utama dalam platform B57+:

Manufaktur Halal & Hilirisasi Pangan

Sektor manufaktur halal dan hilirisasi pangan dinilai paling strategis dalam konteks B57+ karena menyasar persoalan mendasar ekonomi negara-negara OKI, yakni rendahnya nilai tambah produk. Selama ini, banyak negara anggota—termasuk Indonesia—masih bergantung pada ekspor bahan mentah seperti kelapa sawit, hasil perikanan, atau komoditas pertanian lain.

Padahal, pasar konsumen halal global terus tumbuhndengan belanja makanan halal dunia yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari USD1 triliun per tahun. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki posisi unik. Negeri ini bukan hanya produsen bahan baku, tetapi juga memiliki basis industri makanan dan minuman yang relatif matang. Dengan skema B57+, potensi integrasi rantai pasok menjadi lebih terbuka—misalnya bahan baku dari Asia Tenggara diproses di Indonesia, lalu didistribusikan ke Timur Tengah dan Afrika.

Jika skema ini berjalan, maka Indonesia tidak lagi menjadi “price taker” komoditas, melainkan naik kelas sebagai produsen produk jadi dengan margin lebih tinggi. Dalam jangka menengah, sektor ini juga berpotensi menarik investasi pada industri pengolahan, cold storage, hingga logistik halal yang selama ini masih menjadi bottleneck dalam perdagangan intra-OKI.

Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan menjadi pilar penting karena dunia Islam secara kolektif merupakan net-importer pangan, terutama di kawasan Timur Tengah yang memiliki keterbatasan lahan dan air. Di sisi lain, negara seperti Indonesia, Pakistan, dan sebagian Afrika memiliki kapasitas produksi, namun masih terkendala produktivitas dan efisiensi distribusi.

Di sinilah B57+ berpotensi memainkan peran sebagai penghubung antara supply dan demand melalui investasi lintas negara. Modal dari negara kaya likuiditas seperti Arab Saudi atau Qatar dapat diarahkan untuk modernisasi sektor pertanian di negara produsen, mulai dari mekanisasi, digital farming, hingga penguatan sistem logistik pangan. Tidak hanya itu, pendekatan berkelanjutan menjadi kunci karena tekanan global terhadap isu lingkungan semakin kuat, termasuk dari investor institusional.

Dengan demikian, sektor ini tidak lagi sekadar berbicara soal produksi, tetapi juga efisiensi air, pengurangan emisi, hingga ketahanan pangan jangka panjang. Jika berhasil, integrasi ini dapat menciptakan ekosistem pangan intra-OKI yang lebih stabil, sekaligus mengurangi ketergantungan negara-negara Muslim terhadap impor dari Barat.

Energi Terbarukan

Energi terbarukan menjadi sektor yang semakin relevan seiring pergeseran global menuju investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Bagi negara-negara OKI, ini merupakan strategi diversifikasi ekonomi, terutama bagi negara berbasis minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dalam konteks B57+, energi terbarukan membuka ruang kolaborasi baru yang lebih setara, yakni tidak lagi didominasi ekspor minyak mentah, tetapi investasi bersama dalam teknologi energi masa depan seperti solar, geothermal, hingga bioenergi. Indonesia, misalnya, memiliki potensi besar di panas bumi dan biomassa yang bisa menjadi magnet investasi dari sovereign wealth fund Timur Tengah yang mulai mengalihkan portofolionya ke aset hijau.

Selain itu, instrumen seperti green sukuk juga dapat menjadi jembatan pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah. Namun, tantangannya adalah kesiapan proyek, mulai dari regulasi, kepastian tarif, hingga kesiapan teknologi. Jika hambatan ini bisa diatasi, sektor energi transisi tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan baru, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai energi global yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, tantangan bagi pelaku bisnis di Indonesia adalah bagaimana menyiapkan proyek yang tidak hanya "halal" secara finansial, tetapi juga kompetitif secara teknologi dan bertanggung jawab secara ekologis agar bisa bersaing di panggung B57+.

Bagi investor yang ingin mendalami lebih jauh strategi investasi dan sektor primadona di ekosistem B57+, simak ulasan lengkapnya dalam Webinar KabarBursa bersama CSED-INDEF di kanal YouTube KabarBursa atau Klik di Sini.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).