KABARBURSA.COM – PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) menutup tahun buku 2025 dengan perubahan arah kinerja yang cukup tajam setelah berhasil keluar dari zona rugi dan kembali mencetak laba bersih.
Perbaikan ini terjadi di tengah pertumbuhan penjualan yang tidak terlalu tinggi, namun diikuti oleh perbaikan struktur operasional dan efisiensi biaya.
Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, entitas pengelola brand Pizza Hut ini mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp24,75 miliar atau setara Rp8,24 per saham. Angka ini berbalik dari posisi rugi bersih Rp72,83 miliar atau Rp24,23 per saham pada 2024, menandai pemulihan kinerja dalam satu tahun buku.
Perubahan kinerja ini berjalan seiring dengan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 8,93 persen menjadi Rp3,05 triliun dari Rp2,80 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas operasional, meskipun tidak disertai lonjakan signifikan dari sisi top line.
Di sisi biaya, beban pokok penjualan tercatat meningkat 6,11 persen menjadi Rp918,53 miliar dari Rp865,61 miliar. Kenaikan ini masih berada di bawah pertumbuhan penjualan, sehingga mendorong perbaikan pada laba bruto yang naik menjadi Rp2,13 triliun dari Rp1,93 triliun pada 2024.
Perbaikan margin mulai terlihat pada level operasional. PZZA mencatat laba operasi sebesar Rp70,44 miliar pada 2025, berbalik dari rugi operasi Rp44,41 miliar pada tahun sebelumnya, yang mencerminkan perubahan pada struktur biaya operasional dan pengendalian beban.
Pada level sebelum pajak, kinerja juga menunjukkan perbaikan dengan laba sebelum pajak sebesar Rp33,91 miliar dibandingkan rugi Rp97,72 miliar pada 2024. Pergerakan ini menggambarkan bahwa perbaikan tidak hanya terjadi pada sisi pendapatan, tetapi juga pada keseluruhan struktur biaya hingga ke level bawah laporan laba rugi.
Sementara itu, posisi neraca menunjukkan adanya penyesuaian struktur keuangan. Total aset tercatat turun 9,86 persen menjadi Rp1,92 triliun dari Rp2,13 triliun pada akhir 2024, yang berjalan bersamaan dengan penurunan total liabilitas sebesar 19,87 persen menjadi Rp894,62 miliar dari Rp1,117 triliun.
Penurunan liabilitas ini lebih dalam dibandingkan penurunan aset, sehingga mendorong pertumbuhan ekuitas meskipun dalam skala terbatas. Ekuitas tercatat naik 1,98 persen menjadi Rp1,03 triliun dari Rp1,01 triliun pada periode sebelumnya, mencerminkan perbaikan struktur permodalan.
Bisnis Baru PZZA
Di tengah pemulihan kinerja tersebut, PZZA juga mulai mengarahkan langkah ekspansi melalui pembentukan entitas baru di luar lini bisnis utama. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi usaha di tengah dinamika industri makanan dan minuman yang semakin kompetitif.
Ekspansi tersebut dilakukan melalui pendirian PT Tradisi Baru Bakeri (TBB), anak usaha yang berbasis di Jakarta Selatan. Perusahaan ini dirancang untuk menjalankan kegiatan usaha di bidang penyediaan akomodasi, penyediaan makan minum, serta perdagangan eceran roti dan kue.
Sekretaris Perusahaan PZZA Andromeda Hermawan Tristanto, menyampaikan bahwa entitas baru ini akan memperluas cakupan bisnis yang selama ini berfokus pada restoran, katering, pergudangan, distribusi, serta industri pengolahan makanan.
“PT TBB akan menjalankan kegiatan usaha antara lain di bidang penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum dan perdagangan eceran roti dan kue,” ujar Andromeda dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia.
Dari sisi struktur permodalan, PT Tradisi Baru Bakeri memiliki modal dasar sebesar Rp60 miliar yang terbagi atas 60.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp1 juta per saham. Dari jumlah tersebut, sebesar 25 persen atau 15.000 lembar saham telah ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai Rp15 miliar.
Dalam struktur kepemilikan, PZZA menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 55 persen. Sementara itu, kepemilikan lainnya terbagi antara PT Jumi Sarikencono sebesar 20 persen, PT Sriboga Raturaya sebesar 10 persen, serta PT Yummy Food Utama sebesar 1 persen, dengan sisanya dimiliki oleh investor lain.
Langkah pembentukan anak usaha ini menambah dimensi baru dalam peta bisnis PZZA yang selama ini identik dengan jaringan restoran Pizza Hut di Indonesia. Perluasan ke segmen roti dan kue serta layanan makan minum menunjukkan adanya upaya memperluas basis pendapatan di luar model bisnis inti yang telah berjalan.
Perubahan kinerja keuangan yang berbalik dari rugi menjadi laba, bersamaan dengan penyesuaian struktur neraca dan ekspansi usaha baru, memperlihatkan fase baru dalam perjalanan bisnis PZZA sepanjang 2025.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.