KABARBURSA.COM – Kuartal pertama 2026 ternyata belum mampu menjadi ajang pembuktian kinerja PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA). Kinerja keuangannya merosot tajam, saham anjlok nyaris ke dasar, asing tidak meninggalkan jejak apapun sepanjang sepekan terakhir.
Dimulai dari kinerja keuangan, tekanan terlihat sangat tajam. Laba bersih yang berhasil dikumpulkan hanya Rp241,32 juta. Angka ini turun sekitar 87,8 persen secara tahunan, dari Rp1,97 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan ini terjadi lantaran pendapatan turun drastis menjadi Rp31,41 miliar dari sebelumnya Rp32,48 miliar.
Tekanan tidak hanya datang dari sisi pendapatan. Meningkatnya beban umum dan administrasi, menjadi Rp13,32 miliar dari Rp11,91 miliar, membuat laba sebelum pajak turun drastis menjadi Rp590,58 juta dari Rp2,64 miliar.
Dari sisi margin, penurunan mulai terlihat sejak tingkat laba kotor. Laba kotor tercatat Rp14,42 miliar, turun dari Rp15,05 miliar, meskipun beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp16,98 miliar. Artinya, ruang keuntungan sudah mulai menyempit sebelum masuk ke beban operasional.
Jika ditarik ke tingkat per saham, tekanan semakin terlihat. Laba per saham dasar turun ke Rp0,26 dari sebelumnya Rp2,13. Penurunan ini mencerminkan perubahan signifikan dalam kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dalam satu periode.
Namun kondisi neraca tidak menunjukkan tekanan yang sama. Total aset relatif stabil di Rp290,53 miliar dari Rp290,27 miliar, sementara liabilitas berada di Rp51,14 miliar atau turun tipis dari Rp51,19 miliar. Dengan demikian, tekanan pada kuartal I lebih banyak terjadi di sisi profitabilitas dibandingkan struktur keuangan.
Saham Anjlok 10 Poin
Pergerakan di pasar saham menunjukkan pola yang sejalan dengan kondisi tersebut. Dalam sepekan terakhir hingga 27 April 2026, harga saham SBMA turun dari level 125 menjadi 115. Penurunan ini terjadi secara bertahap sejak 21 April, tanpa adanya fase rebound yang signifikan.
Data harian memperlihatkan tekanan yang konsisten. Pada 23 April harga masih berada di 122, kemudian turun menjadi 120 pada 24 April, dan kembali melemah ke 115 pada 27 April. Rangkaian ini menunjukkan tren penurunan yang berlangsung beruntun dalam beberapa sesi perdagangan.
Jika dilihat lebih luas, tekanan tidak hanya terjadi dalam sepekan. Secara bulanan, harga saham SBMA telah turun dari 138 pada Januari menjadi 130 di Februari, kemudian 120 di Maret, dan kembali ke 115 pada April. Pola ini membentuk tren penurunan bertahap sepanjang kuartal pertama.
Dari sisi aktivitas perdagangan, likuiditas juga terlihat menurun. Volume harian berada di kisaran rendah, seperti 4,92 ribu lot pada 23 April dan 2,74 ribu lot pada 22 April, sebelum meningkat ke 13,03 ribu lot pada 27 April. Frekuensi transaksi juga relatif terbatas karena minimnya partisipasi pasar.
Aktivitas Asing Nol
Yang paling menonjol adalah tidak terlihatnya aktivitas investor asing. Dalam data perdagangan harian maupun bulanan, kolom foreign buy dan foreign sell tidak menunjukkan transaksi yang berarti. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan saham lebih didominasi oleh investor domestik.
Dari sisi orderbook, tekanan jual masih terlihat lebih dominan. Total antrean jual tercatat sebesar 24.053 lot, lebih tinggi dibanding antrean beli sebesar 21.653 lot. Selisih ini menunjukkan bahwa tekanan di sisi penawaran masih lebih besar dibanding permintaan dalam jangka pendek.
Dalam konteks ini, pergerakan SBMA memperlihatkan satu pola yang konsisten antara fundamental dan teknikal. Penurunan kinerja keuangan di kuartal I diikuti oleh pelemahan harga saham sepanjang periode yang sama.
Aktivitas perdagangan yang relatif sepi dan minimnya partisipasi asing semakin mempertegas kondisi tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.