Logo
>

SILO Mulai Kehilangan Ritme: Cetak Laba 1Q26, tapi Tak Lagi Agresif

Pendapatan SILO masih tumbuh pada awal 2026, tetapi laba dan margin mulai melandai saat analis tetap mempertahankan dominasi rekomendasi buy.

Ditulis oleh Yunila Wati
SILO Mulai Kehilangan Ritme: Cetak Laba 1Q26, tapi Tak Lagi Agresif
Pendapatan SILO memang naik sekitar 7,9 persen, namun tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih. (Foto: dok SILO)

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mulai kehilangan ritme. Meninggalkan jauh periode ekspansi agresif beberapa tahun terakhir. Pendapatan memang masih tumbuh, tetapi laju profitabilitasnya mulai melambat. Bahkan, margin bisnis rumah sakit terlihat tidak lagi sekuat sebelumnya.

Dalam laporan keuangan kuartal I 2026, tampah bahwa SILO membukukan pendapatan sebesar Rp3,27 triliun. Angka ini memang naik sekitar 7,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,03 triliun.

Namun pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih. SILO hanya mencatat laba bersih sebesar Rp294 miliar pada kuartal I 2026, atau naik sekitar 14,8 persen dibanding Rp256 miliar pada kuartal I 2025.

Sekilas angka ini masih terlihat solid. Tetapi jika dibandingkan secara kuartalan, ritme pertumbuhan SILO mulai kehilangan tenaga. Pada kuartal IV 2025, laba bersih perusahaan masih berada di level Rp367 miliar. Artinya, laba kuartal I 2026 turun sekitar 19,8 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Penurunan tersebut juga terlihat di laba usaha yang turun dari Rp507 miliar pada kuartal IV 2025 menjadi Rp413 miliar pada kuartal I 2026. Margin operasi perlahan mulai tertekan seiring kenaikan beban usaha dan normalisasi bisnis layanan kesehatan pasca periode lonjakan layanan medis beberapa tahun terakhir.

Beban usaha SILO pada kuartal I 2026 tercatat Rp838 miliar. Nilainya memang relatif stabil dibanding kuartal sebelumnya, tetapi kenaikan biaya operasional membuat ruang ekspansi margin menjadi lebih sempit.

Kondisi itu membuat pasar mulai membaca bahwa fase pertumbuhan eksplosif rumah sakit kemungkinan mulai bergeser menuju fase pertumbuhan yang lebih moderat. Apalagi, sektor kesehatan sekarang menghadapi tantangan baru berupa normalisasi kunjungan pasien, kompetisi layanan medis, dan tekanan efisiensi operasional.

Meski begitu, posisi SILO sebenarnya masih tergolong cukup sehat dibanding banyak emiten rumah sakit lainnya. Margin laba kotor tetap bertahan tinggi di kisaran 38 persen dengan laba kotor mencapai Rp1,25 triliun pada kuartal I 2026.

Selain itu, kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas juga masih terlihat dari return on equity (ROE) sebesar 2,81 persen dan return on assets (ROA) 1,83 persen pada kuartal berjalan.

Interest coverage ratio juga berada di level 11,36 kali. Angka tersebut menunjukkan kemampuan SILO dalam menutup beban bunga masih relatif kuat dan tekanan utang belum menjadi masalah besar bagi operasional perusahaan.

Namun yang mulai menjadi perhatian pasar justru valuasi sahamnya. Dengan EPS kuartalan sebesar 21,53 dan price to earnings ratio (PER) sekitar 125,87 kali, valuasi SILO masih tergolong premium dibanding banyak emiten kesehatan lain di Bursa Efek Indonesia.

Di titik inilah pasar mulai terbagi dua arah. Sebagian investor melihat SILO masih punya posisi dominan sebagai jaringan rumah sakit swasta besar dengan potensi pertumbuhan jangka panjang. Tetapi sebagian lain mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan laba perusahaan masih cukup agresif untuk menopang valuasi setinggi sekarang.

Sepuluh Analis Berikan Rekomendasi Buy

Meski demikian, konsensus analis ternyata belum sepenuhnya kehilangan keyakinan terhadap SILO. Dari total 14 analis yang memantau saham ini, sebanyak 10 analis masih memberikan rekomendasi buy, sementara empat analis memilih hold. Belum ada analis yang memberikan rekomendasi sell.

Target harga rata-rata analis juga masih berada di level Rp2.992. Angka ini sekitar 23 persen di atas harga pasar saat ini yang berada di area Rp2.420.

Bahkan target tertinggi analis masih dipatok di Rp3.500, sedangkan estimasi terendah berada di Rp2.500. Artinya, pasar institusi masih melihat ruang kenaikan harga saham SILO meski laju pertumbuhan labanya mulai melandai.

Konsensus laba juga menunjukkan cerita yang cukup menarik. Pada 2025, pendapatan SILO diperkirakan mencapai Rp12,84 triliun dengan laba bersih Rp1,11 triliun.

Untuk 2026, pendapatan diproyeksikan naik menjadi Rp14,22 triliun. Namun laba bersih justru sedikit turun ke Rp1,09 triliun. Ini menunjukkan analis mulai memperhitungkan adanya tekanan margin dan kenaikan biaya operasional di tengah ekspansi bisnis yang terus berjalan.

Baru pada 2027, laba bersih diperkirakan kembali naik menjadi Rp1,31 triliun dengan EPS mencapai 119,38. Pasar tampaknya masih percaya SILO punya ruang pertumbuhan jangka panjang, tetapi prosesnya kemungkinan tidak lagi secepat fase pascapandemi.

Di tengah kondisi tersebut, cerita SILO sekarang mulai berubah. Jika dulu pasar melihat emiten rumah sakit sebagai mesin pertumbuhan tinggi berbasis lonjakan layanan kesehatan, kini investor mulai lebih fokus membaca kemampuan perusahaan menjaga efisiensi, margin, dan kualitas ekspansi bisnis.

Karena itu, semester pertama 2026 menjadi fase penting bagi SILO. Bukan lagi sekadar soal tumbuh atau tidak, melainkan apakah perusahaan mampu mempertahankan premium valuation di tengah pertumbuhan laba yang mulai melambat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79