KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mulai memanas menjelang cum dividen 13 Mei 2026. Dalam sepekan terakhir, saham bank syariah terbesar di Indonesia ini bergerak sangat agresif. Perubahan arus asing sangat tajam, reli cepat berlangsung disusul tekanan jual yang sangat besar.
Di satu sisi, perseroan baru saja mengumumkan pembagian dividen tunai Rp1,51 triliun atau setara Rp32,81 per saham. Di sisi lain, BRIS juga mulai membawa ekspansi baru lewat kerja sama digitalisasi pendidikan bersama PP Muhammadiyah.
Momentum tersebut membuat aktivitas perdagangan BRIS melonjak signifikan sepanjang awal Mei 2026. Pada 4 Mei, saham BRIS masih berada di level 1.790 dengan nilai transaksi Rp34,52 miliar. Asing saat itu mulai masuk tipis dengan net foreign buy sekitar Rp312 juta.
Pergerakan mulai berubah sehari kemudian. Pada 5 Mei, BRIS naik ke 1.820, tetapi investor asing justru mulai melakukan distribusi dengan net sell Rp8,82 miliar. Meski begitu, tekanan tersebut belum langsung menjatuhkan harga karena pasar masih membaca sentimen dividen sebagai penopang utama.
Fase paling agresif muncul pada perdagangan 7 Mei 2026. Saham BRIS mendadak melesat 9,64 persen ke level 1.990 dan sempat menyentuh area psikologis 2.000. Nilai transaksi langsung melonjak menjadi Rp103,46 miliar dengan volume mencapai 536,65 ribu lot dan frekuensi transaksi menembus 13,66 ribu kali.
Lonjakan tersebut tidak datang sendirian. Investor asing juga masuk cukup besar dengan foreign buy mencapai Rp55,08 miliar, sementara foreign sell berada di Rp46,05 miliar. Alhasil, BRIS mencatat net foreign buy Rp9,03 miliar dalam sehari.
Reli cepat itu sempat membuat pasar mulai berspekulasi bahwa BRIS sedang memasuki fase akumulasi menjelang cum dividen. Namun euforia tersebut ternyata tidak bertahan lama.
Pada 8 Mei, saham BRIS langsung terkoreksi 4,02 persen ke level 1.910. Tekanan jual asing juga berubah jauh lebih agresif. Data perdagangan menunjukkan foreign sell melonjak ke Rp50,79 miliar, sementara foreign buy berada di Rp34,41 miliar. Artinya, terjadi net foreign sell Rp16,38 miliar hanya dalam satu hari perdagangan.
Koreksi kembali berlanjut pada 11 Mei ketika saham BRIS turun ke 1.845 atau melemah 3,40 persen. Meski tekanan jual mulai membesar, aktivitas transaksi BRIS sebenarnya masih tergolong tinggi dengan nilai perdagangan Rp18,30 miliar dan frekuensi mencapai 4.000 kali.
BRIS sedang berada dalam fase tarik-menarik yang cukup intens. Sebagian pelaku pasar terlihat mulai mengamankan keuntungan setelah reli cepat menuju area 2.000. Sementara sebagian lain masih mencoba membaca potensi momentum dividen dan ekspansi bisnis syariah perseroan.
Jadwal Dividen
Dividen sendiri menjadi salah satu cerita utama BRIS saat ini. Perseroan resmi membagikan dividen tunai Rp1,51 triliun atau sekitar 20 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Nilai tersebut naik 44 persen dibanding pembagian dividen tahun sebelumnya sebesar Rp1,05 triliun.
Secara per saham, investor akan menerima Rp32,81 per lembar dengan indikasi yield sekitar 1,6 persen berdasarkan harga saham di area Rp1.950. Cum dividen pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 13 Mei 2026, sementara pembayaran dividen akan dilakukan pada 5 Juni 2026.
Kolaborasi Digital Syariah
Namun cerita BRIS saat ini tidak hanya berhenti di dividen. Pasar juga mulai memperhatikan langkah perseroan memperluas ekosistem digital syariah lewat kerja sama dengan PP Muhammadiyah.
Melalui nota kesepahaman digitalisasi pendidikan, BRIS resmi menjadi bank pengelola transaksi keuangan sekolah-sekolah Muhammadiyah melalui integrasi layanan Virtual Account dan aplikasi EduMu. Sistem tersebut juga terkoneksi dengan platform cash management BEWIZE milik BRIS.
BRIS mulai bergerak lebih dalam ke ekosistem pendidikan Islam nasional. Bukan hanya menyediakan layanan pembayaran sekolah, BRIS juga masuk ke pengelolaan payroll, tabungan siswa, pembiayaan sekolah, hingga solusi pembiayaan berbasis syariah untuk tenaga pengajar.
Pasar melihat strategi tersebut cukup penting karena memperkuat positioning BRIS sebagai bank syariah berbasis ekosistem, bukan sekadar bank pembiayaan konvensional berbasis syariah. Apalagi pengguna platform BEWIZE tercatat sudah naik 30 persen dalam setahun terakhir menjadi lebih dari 10.828 pengguna aktif.
Di tengah situasi tersebut, pergerakan saham BRIS saat ini akhirnya menjadi kombinasi antara momentum dividen, ekspansi bisnis digital syariah, dan permainan arus dana jangka pendek. Reli besar menuju area 2.000 menunjukkan saham ini masih punya daya tarik kuat di pasar.
Namun distribusi asing yang kembali membesar juga memperlihatkan bahwa volatilitas BRIS kemungkinan masih akan tinggi hingga periode cum dividen selesai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.