Logo
>

TLKM Mau Buyback Rp1 Triliun, Sinyal Kuat atau Ada yang Ditahan?

Rencana buyback TLKM muncul saat laporan keuangan kuartal I-2026 belum dirilis, membuat pasar menunggu bukti angka terbaru.

Ditulis oleh Yunila Wati
TLKM Mau Buyback Rp1 Triliun, Sinyal Kuat atau Ada yang Ditahan?
Keterlambatan laporan keuangan Telkom Indonesia dan rencana buyback jumbo hingga Rp1 triliun membuat pasar bertanya, ada rencana apa dengan TLKM? (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Rencana PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk pembelian kembali saham, menaruh tanda tanya besar. Sebabnya, aksi itu berjalan beriringan dengan keterlambatan penyampaian laporan tahunan 2025 dan laporan keuangan kuartal I-2026.

Secara umum, buyback saham seringkali dibaca sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap nilai dan prospek perusahaan. Namun di sini, sinyal itu datang bersama catatan lain yang tidak bisa diabaikan.

TLKM menjadwalkan persetujuan buyback dalam RUPS pada 8 Juni 2026. Jika disetujui, pelaksanaan akan berlangsung mulai 9 Juni 2026 sampai 8 Juni 2027. Adapun nilai maksimal buyback mencapai Rp1 triliun, termasuk seluruh biaya transaksi.

Buyback ini tidak hanya mencakup saham TLKM di Bursa Efek Indonesia, tetapi juga saham yang ada di American Depositary Receipt atau ADR, yang diperdagangkan di New York Stock Exchange. Artinya, aksi ini tidak hanya menyasar investor domestik, tetapi juga menyentuh basis investor global yang memegang instrumen TLKM di pasar Amerika Serikat.

Dari sisi regulasi, TLKM menyatakan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Keputusan ini sudah sesuai POJK 29/2023. Perusahaan juga memastikan buyback tidak akan menurunkan porsi free float di bawah 15 persen, sehingga likuiditas perdagangan tetap dijaga.

Laporan Keuangan yang Terlambat

Di atas kertas, buyback tersebut bisa menjadi katalis positif bagi TLKM. Karena, ketika emiten membeli kembali sahamnya, pasar biasanya menangkap pesan bahwa manajemen menilai harga saham belum sepenuhnya mencerminkan fundamental jangka panjang (undervaluaded).

Namun sinyal ini bisa menjadi lebih kompleks karena muncul bersamaan dengan keterlambatan laporan keuangan. 

Telkom Indonesia menyampaikan bahwa laporan tahunan 2025 dan laporan keuangan konsolidasian kuartal I-2026 belum disampaikan lantaran proses audit dari Kantor Akuntan Publik masih berlangsung.

Hal ini disampaikan SVP Corporate Secretary Telkom Indonesia Jati Widagdo, melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 30 April 2026. Karena TLKM juga tercatat di New York Stock Exchange, perusahaan menggunakan masa perpanjangan waktu berdasarkan ketentuan Securities and Exchange Commission.

Untuk diketahui, manajemen telah mengajukan Form NT 20-F sebagai pemberitahuan resmi perpanjangan batas waktu. Dengan pengajuan tersebut, laporan tahunan ditargetkan disampaikan paling lambat 15 Mei 2026.

“Kejadian ini tidak berdampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan,” tulis Jati dalam laporan resminya, dikutip Jumat, 1 Mei 2026.

Jati juga menegaskan, operasional perusahaan tetap berjalan normal. Manajemen menargetkan laporan keuangan tahunan, laporan tahunan, dan laporan keberlanjutan 2025 selesai paling lambat 15 Mei 2026. Sedangkan laporan keuangan kuartal I-2026 ditargetkan selesai paling lambat 31 Mei 2026.

Jaga Kepercayaan Pasar

Dengan dua agenda tersebut, sinyal yang muncul dari TLKM tidak bisa dibaca satu arah. Buyback memberi pesan bahwa perusahaan ingin menjaga kepercayaan pasar, tetapi keterlambatan laporan membuat investor masih menunggu angka terbaru untuk menilai kondisi fundamental secara utuh.

Bagi pasar, isu utamanya bukan hanya berapa besar dana buyback yang disiapkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah laporan keuangan terbaru nanti akan memperkuat narasi fundamental yang menjadi dasar aksi pembelian kembali saham tersebut.

Dalam konteks ini, buyback TLKM dapat dibaca sebagai langkah menjaga valuasi dan sentimen, terutama di tengah dinamika pasar. Namun efektivitasnya tetap akan bergantung pada transparansi laporan keuangan, hasil audit, serta kinerja kuartal I-2026 yang belum dipublikasikan.

Jika laporan keuangan yang tertunda menunjukkan kinerja tetap solid, buyback dapat memperkuat persepsi bahwa manajemen sedang memberi sinyal positif ke pasar. Sebaliknya, jika angka terbaru menunjukkan tekanan yang lebih besar, buyback berpotensi dibaca sebagai upaya menahan sentimen negatif.

Karena itu, sinyal dari aksi TLKM saat ini berada di dua lapis. Lapis pertama adalah sinyal kepercayaan diri melalui buyback Rp1 triliun. Lapis kedua adalah kebutuhan pasar untuk mendapatkan kepastian dari laporan keuangan yang masih tertunda.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79