Logo
>

YUPI Ngegas Bagi Dividen Rp16,57 per Saham, Cair Akhir Mei

YUPI membagikan dividen interim Rp16,57 per saham dari laba kuartal I-2026 di tengah lonjakan biaya promosi dan tekanan arus kas operasional.

Ditulis oleh Yunila Wati
YUPI Ngegas Bagi Dividen Rp16,57 per Saham, Cair Akhir Mei
YUPI siapkan dana dividen dari laba bersih yang berhasil dikumpulkan dari tiga bulan pertama 2026. (Foto: dok Yupi Indo Jelly Gum)

KABARBURSA.COM – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) mulai tancap gas di awal 2026. Di tengah kenaikan beban pemasaran dan operasional, produsen permen kenyal ini tetap mencetak pertumbuhan laba sekaligus memutuskan membagikan dividen interim kepada pemegang saham.

Keputusan pembagian dividen tersebut disetujui Direksi dan Dewan Komisaris pada 4 Mei 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), YUPI akan membagikan dividen interim sebesar Rp16,57 per saham yang bersumber dari laba bersih periode tiga bulan pertama tahun ini.

Langkah ini menarik perhatian pasar karena dividen dibagikan saat perseroan baru menyelesaikan kuartal pertama. Artinya, YUPI cukup percaya diri terhadap kondisi arus bisnis dan profitabilitas perusahaan meski tekanan biaya mulai meningkat.

Histori Pembagian Dividen YUPI

Jika melihat histori pembagian dividen, YUPI memang termasuk agresif menjaga distribusi keuntungan kepada investor. Pada 2025, perseroan membagikan dividen sebesar Rp35,11 per saham dengan ex-date 4 Desember 2025. 

Sementara pada 2024, nilai dividennya bahkan mencapai Rp187,26 per saham.

Data perdagangan menunjukkan dividend yield YUPI saat ini berada di level sekitar 14,28 persen dengan payout ratio mencapai 62,36 persen. Angka tersebut mencerminkan sebagian besar laba perusahaan masih dialokasikan untuk pemegang saham.

Untuk dividen interim tahun buku 2026 ini, investor yang ingin memperoleh hak dividen harus memperhatikan jadwal cum date yang jatuh pada 18 Mei 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi. Sementara ex dividen dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei 2026.

Adapun daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen akan ditentukan pada 20 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Pembayaran dividen kemudian dijadwalkan berlangsung pada 29 Mei 2026 melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Pendapatan Naik 9,08 Persen

Di balik keputusan membagikan dividen tersebut, kinerja kuartal pertama YUPI memang masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp763,18 miliar hingga Maret 2026, naik sekitar 9,08 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp699,65 miliar.

Kenaikan pendapatan itu ditopang efisiensi beban pokok penjualan yang turun menjadi Rp430,27 miliar dari sebelumnya Rp462,84 miliar. Kondisi tersebut membuat laba bruto melonjak signifikan menjadi Rp332,90 miliar dari Rp236,81 miliar.

Lonjakan laba bruto ini menjadi salah satu titik paling menonjol dalam laporan keuangan YUPI. Secara margin, laba bruto tercatat meningkat sekitar 40,5 persen, menunjukkan perusahaan masih mampu menjaga efisiensi produksi di tengah tekanan biaya.

Namun, tekanan mulai terlihat pada sisi operasional. Beban penjualan naik tajam menjadi Rp52,92 miliar dari Rp33,11 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terbesar berasal dari biaya pemasaran dan promosi yang melonjak 80,9 persen menjadi Rp30,33 miliar. Situasi ini mengindikasikan YUPI sedang lebih agresif memperluas penetrasi pasar dan menjaga momentum pertumbuhan penjualan di tengah persaingan industri makanan ringan.

Beban umum dan administrasi juga ikut naik menjadi Rp42,94 miliar dari Rp25,66 miliar. Sementara itu, pendapatan usaha lainnya justru turun drastis menjadi Rp2,75 miliar dari sebelumnya Rp27,07 miliar.

Kombinasi faktor tersebut membuat pertumbuhan laba usaha tidak setinggi pertumbuhan laba bruto. Laba usaha tercatat naik menjadi Rp232,83 miliar dari Rp204,92 miliar.

Pada bottom line, laba periode berjalan YUPI tetap tumbuh sekitar 5,86 persen menjadi Rp177,02 miliar dari Rp167,22 miliar. Pertumbuhan laba inilah yang kemudian menjadi dasar pembagian dividen interim kepada pemegang saham.

Gerak Kas Melambat

Meski laba masih tumbuh, arus kas operasional justru menunjukkan perlambatan cukup dalam. Kas bersih dari aktivitas operasi turun drastis menjadi Rp48,39 miliar dibandingkan Rp305,69 miliar pada kuartal pertama tahun lalu.

Penurunan ini dipengaruhi turunnya penerimaan kas dari pelanggan menjadi Rp625,41 miliar dari sebelumnya Rp764,93 miliar. Di saat yang sama, pembayaran untuk beban usaha dan karyawan juga meningkat signifikan.

Dari sisi neraca, total aset YUPI meningkat menjadi Rp3,15 triliun per Maret 2026 dari Rp2,89 triliun pada akhir tahun lalu. Pertumbuhan aset terutama berasal dari kenaikan piutang usaha menjadi Rp550,43 miliar serta persediaan yang naik menjadi Rp400,27 miliar.

Kenaikan piutang dan persediaan biasanya menjadi sinyal aktivitas penjualan sedang bertumbuh. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menahan likuiditas jangka pendek karena dana perusahaan lebih banyak tersimpan dalam modal kerja.

Sementara itu, total liabilitas YUPI naik menjadi Rp1,42 triliun dari Rp1,33 triliun. Ekuitas perseroan juga ikut meningkat menjadi Rp1,73 triliun dari Rp1,55 triliun.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79