Logo
>

EDITORIAL : Dana Umat di Tengah Krisis Global

Ratusan Triliun Mengalir, Dampaknya Masih Minim

Ditulis oleh Uslimin Usle
EDITORIAL : Dana Umat di Tengah Krisis Global
Reformasi tata kelola dana umat seperti zakat dan qurban menjadi solusi rill memperkuat ketahanan pangan serta bantalan ekonomi nasional di tengah krisis global.

KABARBURSA.COM - Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, disrupsi rantai pasok, hingga ancaman perlambatan ekonomi global menjadi tekanan yang nyata. Banyak negara mulai mencari bantalan ekonomi domestik untuk meredam guncangan dari luar.

Indonesia sebenarnya memiliki satu kekuatan besar yang sering luput dari perhatian. Dana umat.

Dengan populasi lebih dari 288 juta jiwa dan sekitar 87 persen di antaranya Muslim, Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 240 juta Muslim. Ini bukan sekadar keunggulan demografis, melainkan fondasi ekonomi yang sangat besar. Sebuah potensi dana kolektif yang mengalir sepanjang tahun.

Dalam konteks krisis global, dana umat seharusnya dapat berperan sebagai shock absorber. Penopang ekonomi berbasis komunitas yang relatif tahan terhadap gejolak eksternal. Namun, potensi besar itu hingga kini belum sepenuhnya menjadi kekuatan nyata.

Berbagai instrumen dana umat terus bergerak. Zakat, infak, sedekah, dana haji, dam, aqiqah, fidyah, kafarat, hingga qurban. Sebagiannya rutin. Sebagian musiman. Dan lainnya insidental. Jika dihitung secara agregat, nilainya mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama. Seberapa besar dampaknya?

Untuk menjawab itu, perlu melihat dari hulu. Demografi.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan penduduk Indonesia berada di kisaran 1,09 hingga 1,13 persen per tahun. Dengan populasi sekitar 288 juta jiwa, ada tambahan sekitar 3 juta jiwa setiap tahun. Jika mayoritas adalah Muslim, maka jutaan kelahiran baru setiap tahun menjadi basis potensi aqiqah.

Dengan pendekatan konservatif, kebutuhan hewan aqiqah mencapai sekitar 4,2 juta ekor kambing per tahun. Jika harga rata-rata Rp2,5 juta per ekor, nilainya menyentuh sekitar Rp10,5 triliun.

Itu baru satu sektor.

Jika dkelola secara terintegrasi, aqiqah dapat menjadi motor penggerak peternakan rakyat dan memperkuat ketahanan pangan domestik. Namun saat ini, ia masih berjalan sporadis. Individual, tidak tercatat, dan belum menjadi bagian dari sistem ekonomi nasional.

Kondisi serupa terjadi pada dam haji. Dengan lebih dari 200 ribu jemaah per tahun, kebutuhan dam mencapai ratusan ribu unit setiap tahun. Nilainya triliunan rupiah. Namun pengelolaannya belum optimal, distribusinya belum efisien, dan dampaknya belum terukur secara luas.

Padahal, dalam situasi krisis global, sektor pangan, terutama protein hewani, menjadi salah satu isu strategis. Dam haji seharusnya bisa menjadi bagian dari solusi.

Fidyah bahkan menyimpan potensi yang lebih besar, meski jarang dibicarakan. Diperkirakan lebih dari 10 persen Muslim Indonesia berpotensi membayar fidyah. Jika separuhnya saja terealisasi, akan tercipta ratusan juta porsi makanan setiap tahun.

Dalam konteks global yang dibayangi ancaman krisis pangan, angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah kekuatan logistik pangan berbasis umat.

Namun lagi-lagi, potensi itu belum terorganisir. Fidyah masih bersifat individual, tidak terintegrasi, dan belum menjadi bagian dari sistem distribusi pangan nasional.

Zakat, sebagai instrumen utama, memiliki potensi terbesar—hingga ratusan triliun rupiah. Namun realisasi penghimpunannya masih jauh dari optimal. Masalah utamanya adalah kepercayaan. Publik belum sepenuhnya yakin pada transparansi dan akuntabilitas pengelolaannya.

Akibatnya, dana zakat tersebar, tidak terkonsolidasi, dan dampaknya tidak terasa signifikan dalam skala ekonomi makro.

Infak dan sedekah, terutama saat Ramadan, juga berputar dalam jumlah besar. Namun tanpa data nasional yang solid, potensi tersebut sulit diukur, apalagi dioptimalkan.

Sementara itu, qurban setiap Iduladha menghasilkan perputaran dana puluhan triliun rupiah. Namun distribusinya belum merata, rantai pasok belum efisien, dan peternak kecil belum menikmati manfaat maksimal.

Jika seluruh instrumen ini disatukan, Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan ekonomi umat yang sangat besar.

Aqiqah sekitar Rp10,5 triliun per tahun.

Qurban puluhan triliun.

Zakat ratusan triliun (potensi).

Fidyah ratusan juta porsi makanan.

Dam haji triliunan rupiah.

Infak dan sedekah dalam jumlah besar namun belum terpetakan.

Dalam situasi normal, ini sudah signifikan. Dalam situasi krisis global, ini seharusnya menjadi penopang utama.

Namun hingga kini, dana umat belum menjadi sebuah sistem ekonomi. Ia masih terfragmentasi. Masalah utamanya tetap sama. Tata kelola.

Lembaga pengelola memang ada, tetapi standar belum seragam, transparansi belum maksimal, dan akuntabilitas belum kuat. Dampaknya pun sulit diukur. Akibatnya, kepercayaan publik belum sepenuhnya pulih.

Padahal, jika dikelola secara terintegrasi, dana umat dapat menjadi instrumen strategis. Ia bisa memperkuat sektor riil, menopang UMKM, menjaga daya beli masyarakat, hingga menjadi bantalan sosial di tengah tekanan ekonomi global.

Di sinilah pentingnya reformasi.

Integrasi data nasional menjadi keharusan. Transparansi harus menjadi standar, bukan pilihan. Audit independen perlu diperkuat. Pengawasan publik harus dibuka seluas-luasnya. Dan yang terpenting, paradigma harus bergeser dari sekadar charity menjadi empowerment.

Peran negara tetap penting, namun tidak boleh dominan. Negara cukup menjadi regulator dan fasilitator. Karena dana umat bertumpu pada kepercayaan, dan kepercayaan tidak bisa dipaksakan.

Jika reformasi ini berhasil, dampaknya akan besar. Dana umat dapat menjadi bantalan ekonomi nasional yang mandiri, mengurangi ketimpangan, dan mempercepat pengentasan kemiskinan.

Namun jika tidak, Indonesia akan terus berada dalam paradoks. Potensi besar, dampak kecil. Bahkan di tengah krisis global yang seharusnya menjadi momentum perubahan.

Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal amanah.

Jutaan umat menitipkan harapan dalam setiap zakat, setiap sedekah, setiap aqiqah, dan setiap fidyah.

Setiap rupiah adalah bentuk kepercayaan. Dan ketika kepercayaan itu tidak dikelola dengan baik, yang hilang bukan hanya potensi ekonomi, tetapi juga fondasi sosial itu sendiri.

Waktu tidak banyak. Tekanan global terus meningkat. Potensi sudah jelas. Masalah sudah terlihat.

Yang belum hadir adalah keberanian untuk berbenah.

Tanpa itu, dana umat akan terus mengalir. Namun tidak pernah benar-benar menjadi solusi. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Uslimin Usle

Jurnalis jenjang utama (November 2012) dan penguji nasional pada Aliansi Jurnalistik Independen sejak 2013.

Aktif sebagai jurnalis pertama kali pada Desember 1993 di koran kampus PROFESI IKIP Ujungpandang (kini Universitas Negeri Makassar).

Bergabung sebagai reporter Majalah Dwi Mingguan WARTA SULSEL pada 1996-1997. Hijrah ke majalah DUNIA PENDIDIKAN (1997-1998) dan Tabloid PANCASILA (1998), lalu bergabung ke Harian Fajar sebagai reporter pada Maret 1999. 

Di grup media yang tergabung Jawa Pos Grup, meniti karier secara lengkap dan berjenjang (reporter-redaktur-koordinator liputan-redaktur pelaksana-wakil pemimpin redaksi hingga posisi terakhir sebagai Pemimpin Redaksi  pada Januari 2015 hingga Agustus 2016).

Selepas dari Fajar Grup, bergabung ke Kabar Grup Indonesia sebagai Direktur Pemberitaan pada November 2017-Mei 2018, dan Juni 2023 hingga sekarang, merangkap sebagai Pemimpin Redaksi KabarBursa.Com (Januari 2024) dan KabarMakassar.Com (Juni 2023). (*)