Logo
>

IEEFA: Efisiensi PLTS Lebih Hemat Rp67 Triliun per Tahun Ketimbang PLTD

IEEFA sebut PLTS lebih hemat dibanding PLTD, berpotensi tekan biaya listrik dan subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah per tahun.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IEEFA: Efisiensi PLTS Lebih Hemat Rp67 Triliun per Tahun Ketimbang PLTD
IEEFA ungkap PLTS bisa hemat Rp67 triliun per tahun, lebih efisien dibanding PLTD dan kurangi beban subsidi energi nasional. Foto: Dok. Kementerian ESDM.

KABARBURSA.COM — Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS hingga 100 gigawatt mulai dilirik sebagai jalan keluar dari mahalnya biaya listrik berbasis diesel. Tahap awalnya dimulai dari konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD sebesar 13 gigawatt.

Langkah ini dinilai bukan sekadar proyek energi, tetapi upaya menekan beban fiskal yang selama ini terseret oleh impor bahan bakar. Efisiensi anggaran yang dihasilkan bahkan diperkirakan bisa mencapai USD4 miliar per tahun (Rp67,6 triliun).

Ketergantungan pada diesel selama ini menjadi titik lemah elektrifikasi, terutama di wilayah terpencil. Biaya listrik dari PLTD melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, dari Rp4.746 per kWh pada 2020 menjadi Rp8.748 per kWh pada 2023.

Lonjakan ini memperlihatkan betapa mahalnya listrik berbasis bahan bakar impor, apalagi di tengah gejolak harga minyak global. Konflik di Timur Tengah semakin mempertegas risiko tersebut, ketika pasokan energi global menjadi tidak pasti.

Dalam hitungan terbaru Institute for Energy Economics and Financial Analysis atau IEEFA, kombinasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai atau BESS menawarkan biaya yang jauh lebih rendah. 

Biaya listriknya berada di kisaran USD0,08 hingga USD0,20 per kWh (Rp1.352 hingga Rp3.380), jauh di bawah PLTD yang bisa mencapai USD0,29 hingga USD0,40 per kWh (Rp4.901 hingga Rp6.760), bahkan sempat menembus USD0,55 hingga USD0,65 per kWh (Rp9.295 hingga Rp10.985).

“Peralihan ke sistem PLTS akan mengubah struktur biaya elektrifikasi di pulau-pulau terpencil. Dibanding harus mengimpor bahan bakar dan menghadapi logistik kompleks, Indonesia dapat memanfaatkan sinar matahari yang melimpah, menyimpannya secara lokal, dan mendistribusikannya secara andal selama lebih dari satu dekade,” ujar Research & Engagement Lead IEEFA, Mutya Yustika, dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.

Selain menekan biaya listrik, konversi ini juga membuka ruang penghematan dari sisi impor. IEEFA memperkirakan pengurangan impor diesel bisa menghemat hingga USD2 miliar (Rp33,8 triliun).

Di sisi subsidi, dampaknya juga signifikan. Penghematan diperkirakan mencapai USD1,5 hingga USD2 miliar per tahun (Rp25,3 triliun hingga Rp33,8 triliun), setara sekitar 15 persen hingga 18 persen dari total subsidi dan kompensasi listrik yang mencapai USD11 miliar pada 2024.

Namun, jalan menuju transisi energi ini tidak sepenuhnya mulus. Tantangan utama datang dari ketidakpastian regulasi, terutama terkait skema tarif listrik untuk proyek PLTS dan BESS. Tanpa kepastian tarif yang jelas dan layak secara finansial, investor cenderung menahan diri.

Masalah lain muncul dari kebutuhan investasi awal yang besar, diperkirakan mencapai USD15 miliar hingga USD19,5 miliar (Rp253,5 triliun hingga Rp329,6 triliun). Kenaikan suku bunga global juga ikut menekan biaya pembiayaan, terutama untuk proyek di wilayah kepulauan yang skalanya terbatas.

Selain itu, persoalan klasik seperti pengadaan lahan dan tumpang tindih regulasi masih menjadi hambatan di lapangan. Integrasi tata ruang, pembentukan bank tanah, hingga keterlibatan masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Meski begitu, potensi manfaatnya dinilai terlalu besar untuk diabaikan. “Jika hambatan tersebut dapat diatasi, konversi PLTD ke PLTS tidak hanya akan menurunkan biaya listrik, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di Indonesia,” kata Mutya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).