Logo
>

Jika Dilihat dari Langit, Transisi Energi China Ternyata Segila Ini

Dari atap kota hingga gurun terpencil, ekspansi energi terbarukan China tampak masif jika dilihat dari udara, menandai percepatan transisi energi berskala raksasa.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Jika Dilihat dari Langit, Transisi Energi China Ternyata Segila Ini
transisi energi China, energi terbarukan China, panel surya China, ladang angin China, energi hijau China, ekspansi energi terbarukan China, transisi energi global, energi bersih China dari udara, kebijakan energi China, investasi energi terbarukan China. Foto: Caliber

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Dari udara, laju perubahan itu baru benar-benar terasa. China sedang berlari kencang di jalur energi terbarukan, dan langkahnya bukan main-main. Dalam setahun terakhir, ekspansi sistem energi bersih Negeri Tirai Bambu itu melonjak ke skala yang belum pernah terlihat sebelumnya hingga menempatkan China tepat di pusat pusaran transisi energi global.

    Sepanjang 2024, lebih dari separuh kapasitas baru tenaga angin dan surya dunia lahir di China. Pada puncaknya di bulan Mei, kecepatannya nyaris sulit dipercaya. Panel surya dipasang begitu cepat sampai-sampai kapasitas yang terbangun setara dengan kebutuhan listrik satu negara sekelas Polandia. Hitungannya sekitar seratus panel terpasang setiap detik. Angka itu terdengar seperti bualan, tapi faktanya memang demikian.

    Masalahnya, dari permukaan tanah, semua itu tampak biasa saja. Barisan panel dan turbin terlihat seperti proyek industri pada umumnya. Skala raksasa baru terasa ketika dilihat dari atas. Di sinilah peran fotografer China, Weimin Chu, menjadi penting. Dilansir dari Caliber, Minggu, 18 Januari 2026, selama tiga tahun terakhir, ia memotret proyek-proyek energi terbarukan menggunakan drone, mengamati perubahan lanskap dari ketinggian.

    Karya Chu dipamerkan dalam sebuah pameran Greenpeace yang meraih penghargaan tahun lalu. Foto-fotonya memberi catatan visual yang jarang tentang bagaimana transisi energi berlangsung secara fisik. Dalam sebuah liputan yang dimuat Yale School of Environment, Chu menekankan satu hal sederhana: perspektif mengubah pemahaman.

    Dari darat, skala pembangkit-pembangkit itu sulit dipahami. Namun ketika naik ke udara, pola dan iramanya muncul. Hubungannya dengan gunung, gurun, dan laut menjadi jelas.

    Transformasi ini tidak terjadi di satu tempat saja. Di provinsi-provinsi timur yang padat penduduk, panel surya kini makin sering terlihat di atap rumah, gedung perkantoran, dan pusat bisnis. Di sisi lain China, jauh di wilayah barat yang jarang penduduk, hamparan ladang angin dan basis surya raksasa membentang luas. Gurun dan dataran tinggi yang dulu nyaris tak tersentuh kini berubah menjadi pusat produksi energi bersih skala industri.

    Dalam foto-fotonya, Chu menangkap pertemuan antara infrastruktur raksasa dan alam. Ia terinspirasi oleh tradisi lukisan tinta China yang menekankan keseimbangan ruang dan bentuk. Awalnya, ia hanya memotret lanskap. Namun perlahan fokusnya bergeser seiring perubahan medan yang ia temui.

    Ia bercerita saat bepergian ke Guizhou, Yunnan, dan Qinghai pada 2022, turbin angin dan pembangkit surya terus-menerus muncul di bingkai kameranya. Dari situ ia sadar, inilah cerita zaman sekarang. Ironisnya, hampir tak ada yang mendokumentasikannya secara sistematis.

    Ledakan energi terbarukan ini berlangsung di tengah status China sebagai konsumen energi terbesar dunia sekaligus penghasil emisi gas rumah kaca paling besar. Di saat yang sama, negara itu justru menjalankan salah satu transisi energi paling ambisius yang pernah dicoba. Arah kebijakan nasional ditentukan oleh target puncak emisi karbon sebelum 2030 dan netral karbon pada 2060. Dua janji inilah yang mendorong perombakan besar-besaran sistem kelistrikan China.

    Angkanya berbicara sendiri. Sepanjang 2024, China menambah sekitar 360 gigawatt kapasitas angin dan surya. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan total kapasitas terpasang energi terbarukan China kini mencapai sekitar 1,4 terawatt. Jumlah itu setara dengan sepertiga kapasitas energi terbarukan dunia yang diperkirakan mencapai 4,5 terawatt.

    Listrik dari angin dan surya menghasilkan sekitar 366 terawatt-jam dan menjadi sumber utama penambahan pasokan listrik baru dalam bauran energi China. Namun pembangkit saja tidak cukup. China juga menggelontorkan investasi besar ke jaringan listrik agar mampu menampung pasokan energi yang sifatnya tidak stabil.

    Basis-basis angin dan surya raksasa dibangun di wilayah pedalaman yang kaya sumber daya. Sementara di kota-kota dan kawasan industri, pembangkit tersebar terus bertambah. Pada 2024, lebih dari 80 miliar dolar Amerika digelontorkan untuk infrastruktur jaringan listrik, termasuk jalur transmisi ultra tegangan tinggi yang dirancang membawa listrik dari lokasi produksi terpencil menuju pusat permintaan di wilayah pesisir.

    Dari atas, semua itu tampak seperti pola raksasa yang sedang digambar ulang. Dari bawah, ia mungkin hanya deretan panel dan turbin. Tapi dari udara, jelas terlihat bahwa China tidak sekadar menambah pembangkit. Negara itu sedang membentuk ulang wajah energinya sendiri.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).