Logo
>

Kisah Yulianti, Pelaku UMKM Kue di Lampung yang Tumbuh Didampingi BRI

Berawal dari dapur rumahan, Yulianti sukses mengembangkan usaha kue dengan dukungan pembiayaan dan digitalisasi dari BRI hingga banjir pesanan.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Kisah Yulianti, Pelaku UMKM Kue di Lampung yang Tumbuh Didampingi BRI
UMKM kue kering milik Yulianti mampu melejit setelah didukung layanan BRI. Foto: dok. BRI

KABARBURSA.COM - Ketekunan dan keberanian memulai dari skala kecil mengantarkan Yulianti Yusup mengembangkan usahanya.

Yulianti sebagai pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) asal Lampung, mampu menekuni usaha kue semprong dan kue kering hingga mengalami kebanjiran pesanan.

Di balik pertumbuhan usaha Yulianti tersebut, dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI turut berkontribusi.

Diketahui, ia memulai usahanya dari dapur rumah dengan modal terbatas dan resep keluarga. Ia memasarkan produk secara sederhana, mulai dari tetangga hingga pasar sekitar.

Konsistensi kualitas dan kepercayaan pelanggan kemudian mendorong peningkatan permintaan kue semprong dan kue kering secara signifikan, terutama pada momentum Ramadan hingga Lebaran Idulfitri.

“Saya berusaha menggunakan pengetahuan saya untuk mengembangkan produk kue yang diminati warga sekitar. Alhamdulillah banyak yang suka. Biasanya momen Ramadan dan Lebaran menjadi puncak pesanan. Permintaan kue semprong dan kue kering meningkat seiring kebutuhan masyarakat akan hidangan Lebaran maupun bingkisan untuk kerabat. Kondisi ini membuat aktivitas produksi meningkat drastis dibandingkan hari biasa,” ujarnya lewat keterangan resmi, Selasa 7 April 2026.

Lonjakan permintaan saat Ramadan dan Lebaran justru menjadi momentum penting bagi Yulianti untuk memperluas dampak usahanya. Ia melibatkan warga sekitar dalam proses produksi guna memenuhi pesanan tepat waktu, sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.

“Walaupun produksinya jadi lebih padat, di situ saya malah merasa paling senang, karena bisa berbagi kesempatan dengan warga sekitar untuk menambah penghasilan, sehingga mereka ikut merasakan manfaatnya. Itu yang paling berarti bagi saya,” sebutnya.

Dari sisi pengembangan usaha, BRI memberikan akses pembiayaan mikro yang dimanfaatkan Yulianti untuk meningkatkan kapasitas produksi, mulai dari pembelian bahan baku hingga pengadaan peralatan. Dukungan tersebut memperkuat fondasi bisnis agar lebih optimal.

Selain permodalan, BRI juga mendorong digitalisasi transaksi melalui layanan QRIS. Fasilitas ini memudahkan pelanggan dalam bertransaksi dan membuat operasional usaha menjadi lebih efisien.

“Meski saya pelaku usaha kecil, namun saya tetap didampingi oleh BRI dan merasakan manfaat atas kehadiran BRI. Kami dibantu diajarkan oleh petugas BRI mengenai pengelolaan keuangan dan kiat mengembangkan usaha. Dukungan ini menjadi kunci bagi saya untuk dapat tumbuh,” sebut Yulianti.

Ke depan, Yulianti menargetkan perluasan pasar sekaligus mempertahankan komitmen pemberdayaan masyarakat sekitar melalui penciptaan lapangan kerja.

“Harapannya usaha ini bisa semakin dikenal luas dan terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menilai kisah Yulianti dapat menjadi contoh kuatnya peran perempuan dalam mendorong ekonomi kerakyatan.

“Dengan dukungan berkelanjutan dari BRI, kisah Yulianti menjadi bukti bahwa usaha UMKM perempuan yang dikelola dengan ketekunan dan didukung oleh ekosistem yang tepat, akan mampu tumbuh, berdaya saing, serta memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat,” pungkas Akhmad. (info-bks/*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.