Logo
>

WTI Terbang ke USD96,60, Pasar AS Masih Wait and See

Harga minyak AS melonjak lebih dari 44 persen sejak perang Iran pecah, namun perusahaan migas Amerika masih menahan ekspansi sambil menunggu arah pasar lebih jelas.

Ditulis oleh Yunila Wati
WTI Terbang ke USD96,60, Pasar AS Masih Wait and See
Harga minyak global hampir menyentuh USD100 per barel. Namun para pengusaha minyak AS memilih wait and see, menunggu apakah reli bersifat lama atau hanya sesaat. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia sedang panas-panasnya. Namun, para produsen minyak di Amerika belum ikut tancap gas.

Di tengah lonjakan harga minyak yang sudah naik lebih dari 44 persen sejak perang pecah pada akhir Februari, perusahaan-perusahaan migas AS masih bergerak sangat hati-hati. Mereka belum buru-buru membuka keran investasi besar-besaran atau menghidupkan rig pengeboran secara agresif.

Pasar minyak saat ini memang terlihat menggiurkan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level USD96,60 per barel pada Jumat waktu AS. Level itu menjadi salah satu posisi tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir.

Tetapi di balik harga tinggi tersebut, produsen shale Amerika tampaknya belum sepenuhnya percaya reli ini akan bertahan lama.

Mark Bohrer dari Divisi Minyak dan Gas North Dakota, mengatakan sebagian besar operator masih berpegang pada anggaran lama yang sudah disusun sejak akhir tahun lalu. Artinya, lonjakan harga minyak belum otomatis langsung diterjemahkan menjadi ekspansi produksi besar-besaran.

Bagi perusahaan shale, pengalaman pahit beberapa tahun terakhir masih membekas.

Mereka pernah terlalu agresif mengebor saat harga tinggi, lalu terpukul ketika harga minyak tiba-tiba anjlok. Karena itu, kali ini perusahaan migas AS memilih bergerak pelan sambil membaca arah perang dan daya tahan harga energi.

Continental Resources menjadi salah satu contoh paling menarik.

Perusahaan milik miliarder minyak Harold Hamm itu sebelumnya justru menghentikan sebagian aktivitas pengeboran pada awal tahun. Namun setelah harga minyak melonjak akibat konflik Iran, Continental mulai mempertimbangkan kembali penambahan rig baru di wilayah Bakken Basin, North Dakota.

Wilayah Bakken sendiri dikenal sebagai salah satu pusat revolusi shale oil Amerika Serikat.

Harold Hamm selama ini dianggap sebagai salah satu tokoh utama yang mengubah Bakken menjadi ladang minyak raksasa lewat teknologi fracking. Kini, ketika minyak kembali mahal, perusahaan tersebut mulai memanggil kembali kru pengeboran yang sempat dirumahkan.

Meski begitu, langkah ekspansi masih dilakukan secara bertahap.

Data regulator North Dakota menunjukkan jumlah rig aktif di negara bagian itu pada Mei tetap berada di angka 26 unit, sama seperti April. Aktivitas hydraulic fracturing juga relatif stabil dengan 13 kru aktif.

Produksi minyak North Dakota memang mulai naik, tetapi lajunya belum terlalu agresif. Pada Maret, produksi bertambah sekitar 9 ribu barel per hari menjadi 1,14 juta barel per hari.

Sementara produksi dari Bakken dan Three Forks meningkat sekitar 11 ribu barel per hari dibanding Februari.

Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa produsen mulai bergerak kembali, tetapi belum dalam mode ekspansi penuh.

Bohrer memperkirakan produksi minyak AS, khususnya dari North Dakota, kemungkinan hanya naik tipis dalam beberapa bulan ke depan kecuali harga minyak benar-benar bertahan tinggi lebih lama.

Di sisi lain, beberapa raksasa energi AS mulai diam-diam mengalihkan sumber daya ke proyek pengeboran baru.

ConocoPhillips, EOG Resources, hingga Diamondback Energy mulai memperluas aktivitas di Permian Basin, wilayah penghasil minyak terbesar AS saat ini.

Permian menjadi area favorit karena biaya produksi relatif lebih efisien dan respons pengeboran bisa lebih cepat dibanding ladang konvensional.

Namun pasar juga sadar satu hal penting: lonjakan harga minyak kali ini bukan didorong pertumbuhan ekonomi yang sehat, melainkan ketegangan geopolitik.

Investor masih meragukan apakah pembicaraan damai antara AS dan Iran benar-benar akan menghasilkan terobosan. Selama konflik belum mereda, harga energi masih berpotensi tetap tinggi.

Masalahnya, produsen shale Amerika kini tidak lagi sekadar mengejar volume produksi seperti era ledakan shale sebelumnya.

Fokus utama mereka berubah menjadi disiplin modal dan profitabilitas.

Itulah sebabnya, meski harga minyak hampir menyentuh USD100 per barel, perusahaan migas AS belum langsung berpesta. Mereka memilih menunggu, memastikan reli ini bukan sekadar ledakan sesaat akibat perang yang bisa berubah arah kapan saja.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79