KABARBURSA.COM – Pasar emas global terus tergelincir. Setelah sempat menjadi pelarian utama investor di tengah perang dan ketidakpastian global, logam mulia kini bergerak limbung dihantam harga minyak yang mahal, inflasi panas, dan ancaman suku bunga tinggi lebih lama.
Harga emas spot pada perdagangan Jumat waktu setempat, 22 Mei 2026, turun 0,6 persen ke level USD4.515 per ons troi. Dalam sepekan, emas sudah melemah sekitar 0,4 persen dan mencatat pelemahan mingguan kedua berturut-turut.
Padahal, beberapa pekan lalu emas bergerak agresif, pasar mencari aset aman di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat. Namun kini arahnya berubah. Investor tidak lagi hanya melihat perang sebagai pemicu permintaan safe haven. Mereka mulai melihat efek lanjutan yang jauh lebih berbahaya, yaitu lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Pasar sangat fokus pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Ketika konflik Timur Tengah meningkat dan pembicaraan damai Iran-AS belum menunjukkan hasil jelas, kekhawatiran gangguan pasokan energi langsung melonjak.
Harga minyak pun ikut naik. Masalahnya, kenaikan harga minyak hampir selalu membawa efek domino ke inflasi global. Ketika inflasi kembali memanas, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkan bunga lebih agresif.
Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga AS
Ketakutan inflasi membuat investor mulai meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve belum selesai dengan kebijakan ketatnya. Data CME FedWatch bahkan menunjukkan pasar kini melihat peluang sebesar 58 persen bahwa The Fed masih bisa menaikkan suku bunga, setidaknya sekali lagi sebelum akhir tahun.
Pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller ikut memperkuat kegelisahan tersebut. Waller, yang sebelumnya cenderung mendukung penurunan bunga, kini justru meminta bank sentral menghapus pelonggaran dan membuka ruang kenaikan suku bunga baru.
Perubahan nada itu langsung mengubah psikologi pasar emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun memang sedikit turun pada akhir perdagangan, tetapi masih bertahan dekat level tertinggi lebih dari satu tahun terakhir. Situasi itu membuat investor lebih tertarik memegang obligasi dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di saat yang sama, dolar AS juga masih kuat. Kombinasi yield tinggi dan dolar perkasa menjadi pasangan yang sangat berat bagi emas. Sebab, logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain, sementara biaya peluang memegang emas ikut meningkat.
Permintaan Emas India Masih Lemah
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar global, tetapi juga mulai terasa di Asia.
Di India, salah satu konsumen emas terbesar dunia, perdagangan emas minggu ini berlangsung sangat lesu. Diskon harga emas memang mengecil dibanding pekan sebelumnya, tetapi permintaan tetap melemah karena pembeli bingung menghadapi volatilitas harga yang terlalu liar.
Pemerintah India sebelumnya menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15 persen dari sebelumnya 6 persen. Kebijakan itu diambil untuk menekan impor logam mulia sekaligus menjaga cadangan devisa di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Akibatnya, pasar ritel India mulai melambat.
Pedagang emas di Kolkata mengatakan banyak pembeli memilih menunggu sampai harga benar-benar stabil sebelum kembali masuk pasar.
Di Mumbai, dealer bullion bahkan mulai menahan pembelian stok baru karena musim pernikahan segera berakhir dan permintaan ritel masih penuh ketidakpastian.
Premi Emas China Menurun
Sementara di China, tekanan terhadap emas juga mulai terlihat.
Premi emas di pasar domestik China turun dibanding pekan sebelumnya. Investor di Negeri Tirai Bambu mulai menahan transaksi karena khawatir terhadap kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, dan ancaman suku bunga tinggi The Fed.
Bernard Sin dari MKS PAMP mengatakan pasar emas fisik di Asia kini berada di posisi yang serba sulit.
Di satu sisi, konflik geopolitik masih menciptakan permintaan aset aman. Namun di sisi lain, kebijakan moneter ketat dan kenaikan yield justru menjadi hambatan besar bagi emas.(*)