Logo
>

Krisis Hormuz Picu Lonjakan Energi Terbarukan

Krisis energi akibat konflik Iran mempercepat peralihan global ke energi terbarukan, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan investasi.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Krisis Hormuz Picu Lonjakan Energi Terbarukan
Ilustrasi peningkatan pemanfaatan energi hijau di tengah konflik di Selat Hormuz. Foto: Dok. Xurya Daya Indonesia

KABARBURSA.COM – Konflik energi global yang dipicu perang Iran mulai menggeser arah investasi dunia ke energi terbarukan. Reuters pada Kamis, 30 April 2026, melaporkan bahwa krisis tersebut mempercepat peralihan global dari bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih stabil dan tidak bergantung pada jalur distribusi yang rentan konflik.

Sekretaris Iklim PBB Simon Stiell menyebut konflik justru memperkuat momentum energi hijau. Menurutnya, pihak yang berjuang agar dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil secara tidak langsung sedang mempercepat ledakan energi terbarukan global.

“Energi terbarukan menawarkan energi yang lebih aman, lebih murah, dan lebih bersih, yang tidak dapat disandera oleh selat pelayaran sempit atau konflik global,” ujar Simon, dikutip dari Reuters, Jumat 1 Mei 2026.

Krisis energi ini tidak hanya dipicu faktor lingkungan, tetapi juga keamanan pasokan. World Bank memperkirakan harga energi global melonjak 24 persen pada 2026, level tertinggi sejak krisis energi 2022.

Berdasarkan data World Bank Commodity Market Outlook, pada 28 April 2026 menyebutkan, harga minyak Brent diproyeksikan rata-rata USD86 per barel, dengan risiko naik hingga USD115 per barel jika gangguan di Timur Tengah berlanjut. Kondisi ini menegaskan bahwa energi fosil kembali menjadi sumber tekanan inflasi dan fiskal global.

Sementara itu, Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut dunia menghadapi krisis energi terbesar akibat konflik Iran. Negara-negara kini melihat energi surya, angin, baterai, dan kendaraan listrik bukan hanya sebagai upaya dekarbonisasi, tetapi sebagai perlindungan dari volatilitas harga minyak dan gas.

Perubahan arah investasi global juga semakin terlihat. IEA mencatat investasi energi dunia mencapai USD3,3 triliun pada 2025, dengan sekitar USD2,2 triliun mengalir ke energi bersih. Jumlah ini dua kali lipat dari investasi energi fosil sebesar USD1,1 triliun.

Di sisi kapasitas, energi terbarukan global mencapai 5.149 gigawatt pada 2025, bertambah 692 gigawatt dalam satu tahun dengan pertumbuhan 15,5 persen.

Saat ini Eropa menjadi salah satu kawasan yang mempercepat transisi ini. Jerman, misalnya, menyiapkan investasi EUR8 miliar untuk pengembangan energi angin dan kendaraan listrik sebagai bagian dari target pengurangan emisi 65 persen pada 2030 dan netral karbon pada 2045. Kebijakan ini sekaligus ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Transisi Energi Hijau RI Mulai Bergerak

Di Indonesia, arah kebijakan energi terbarukan sudah ditetapkan, tetapi realisasi masih tertinggal dari target. Kebijakan Energi Nasional menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mencatat realisasi bauran EBT baru mencapai 15,75 persen pada 2025.

Di sektor listrik, capaian relatif lebih baik. Bauran EBT ketenagalistrikan mencapai 16,3 persen, melampaui target RUKN sebesar 15,9 persen. Kapasitas pembangkit EBT mencapai 15.630 megawatt, dengan kontribusi terbesar dari PLTA, bioenergi, dan panas bumi.

Dari sisi investasi, transisi energi Indonesia masih menghadapi kesenjangan pembiayaan. Realisasi investasi EBT dan konservasi energi tercatat USD2,4 miliar pada 2025, sementara kebutuhan untuk menambah kapasitas energi terbarukan hingga 8,2 gigawatt diperkirakan mencapai USD14,2 miliar.

PLN menempatkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 sebagai peta jalan utama. Dalam rencana tersebut, total penambahan kapasitas pembangkit mencapai 69,5 gigawatt, dengan 76 persen berasal dari energi terbarukan dan sistem penyimpanan. PLN juga menyiapkan pembangunan jaringan Green Super Grid sepanjang 47.758 kilometer untuk mendukung distribusi energi hijau.

Tantangan Infrastruktur dan Ketergantungan Fosil

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan tantangan utama transisi energi Indonesia bukan hanya kapasitas pembangkit, tetapi juga konektivitas jaringan. 

“Indonesia memiliki potensi EBT besar, tersebar, dan beragam untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil dalam keterangannya, 3 Juni 2025.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo juga menekankan pentingnya jaringan transmisi. “Tidak ada transisi energi tanpa transmisi, Green Super Grid tidak hanya mampu menghadirkan energi hijau, tapi juga mewujudkan swasembada energi berbasis kekuatan lokal,” kata Darmawan dalam keterangannya.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi. Data EIA pada 25 Agustus 2025 menunjukkan impor minyak Indonesia mencapai sekitar 354.000 barel per hari pada 2024 dan terus meningkat sejak 2021. Kondisi ini membuat kenaikan harga energi global langsung berdampak pada biaya impor dan fiskal negara.

Transisi Perlu Dipercepat

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menilai energi terbarukan perlu didorong lebih agresif, terutama di sektor industri. Menurutnya, salah satu langkah penting adalah meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor industri agar dapat beroperasi lebih efisien dan mengurangi emisi karbon.

“Pemerintah daerah harus lebih proaktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mitigasi perubahan iklim,” tambah Fabby.

IESR dalam laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2025 juga menilai investasi energi terbarukan Indonesia masih belum cukup cepat, sementara investasi fosil masih dominan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.