Logo
>

Krisis Iklim Pukul Kebun Kopi, Harga Kopi RI Terkerek 15 Persen

Gelombang panas akibat perubahan iklim menekan produksi kopi global, harga robusta Indonesia naik 15 persen dan petani kecil paling terdampak.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Krisis Iklim Pukul Kebun Kopi, Harga Kopi RI Terkerek 15 Persen
Petani memetik biji kopi arabika yang menjadi andalan masyarakat Gayo. Perubahan iklim picu gelombang panas dan turunkan produksi. Harga kopi RI naik 15 persen, petani kecil menghadapi tekanan adaptasi. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

KABARBURSA.COM — Kenaikan suhu global mulai terasa di cangkir kopi. Gelombang panas yang kian sering terjadi menekan produksi dan mendorong lonjakan harga biji kopi, baik di pasar dunia maupun domestik. Indonesia, salah satu pemasok utama kopi global, mencatat kenaikan harga robusta sekitar 15 persen di tengah meningkatnya hari-hari panas ekstrem.

Data Climate Central dalam laporan More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution menunjukkan tekanan iklim pada rantai pasok kopi semakin nyata. Secara global, harga kopi melonjak 45,89 persen dalam dua tahun, dari USD2,63 per kilogram pada 2023 menjadi USD4,86 per kilogram pada 2025. Kenaikan ini sejalan dengan penurunan produktivitas di sejumlah negara produsen utama.

Lima negara pemasok terbesar—Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia—mengalami tambahan 57 hari gelombang panas akibat perubahan iklim. Negara-negara tersebut menyumbang sekitar 75 persen pasokan kopi dunia.

“Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas. Seiring waktu, dampak ini dapat menyebar dari perkebunan ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan biaya kopi yang diminum setiap hari,” kata Wakil Presiden Sains Climate Central Kristina Dahl.

Indonesia sendiri berkontribusi sekitar 6 persen terhadap pasokan kopi global. Pada 2025, rata-rata tercatat 129 hari dengan suhu panas yang berisiko merusak tanaman, termasuk tambahan 73 hari yang dikaitkan langsung dengan perubahan iklim. Kondisi tersebut mengganggu siklus produksi dan berujung pada inflasi harga di tingkat domestik.

Tanaman kopi membutuhkan kondisi iklim yang relatif stabil. Komoditas ini umumnya tumbuh di wilayah “sabuk kopi” di sekitar garis khatulistiwa, dengan suhu ideal di bawah 30 derajat Celsius dan curah hujan tinggi. Kenaikan suhu di atas ambang tersebut memicu stres panas pada tanaman arabika maupun robusta, menurunkan produktivitas, memengaruhi kualitas biji, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap hama dan penyakit.

Dalam jangka panjang, tekanan iklim juga mengancam ketersediaan lahan. Tanpa langkah adaptasi, luas area yang cocok untuk budidaya kopi diperkirakan menyusut hingga 50 persen pada 2050.

Dampak terbesar dirasakan petani kecil yang menyumbang sekitar 60 persen pasokan kopi dunia. Mereka mengelola sekitar 80 persen kebun kopi global, namun akses terhadap pembiayaan adaptasi masih terbatas. Pada 2021, pendanaan yang diterima petani kecil untuk menghadapi perubahan iklim hanya setara USD2,19 per hari per hektare.

Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan Yosi Amelia menilai sistem agroforestri dapat menjadi salah satu strategi adaptasi. Menurut dia, pola tanam dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembapan tanah, dan menekan dampak suhu ekstrem.

“Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola perkebunan kopi. Sebagian besar kopi Indonesia diproduksi oleh petani kecil dengan akses terbatas terhadap penyuluhan, pembiayaan, informasi iklim, dan pasar yang adil. Tanpa sistem tata kelola yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” ujarnya.

Tekanan iklim yang merambat dari kebun hingga pasar menunjukkan bahwa perubahan cuaca tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga memengaruhi stabilitas pasokan dan harga komoditas yang dikonsumsi sehari-hari.

Kinerja Emiten Kopi di Bursa Tertekan

Tekanan krisis iklim yang merembet ke sektor hulu mulai tercermin di lantai bursa. Sejumlah emiten berbasis komoditas kopi mencatatkan kinerja yang belum sepenuhnya pulih, baik dari sisi harga saham maupun laba bersih.

Saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN), misalnya, sepanjang tahun berjalan bergerak fluktuatif di kisaran 107 hingga 156 sebelum kembali ke area 130-an. Kapitalisasi pasarnya sekitar Rp190 miliar dengan jumlah saham beredar 1,44 miliar lembar dan free float 7,96 persen. Dari sisi kinerja, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sekitar Rp19 miliar secara trailing twelve months (TTM) hingga kuartal III 2025, di mana tekanan ini melanjutkan tren negatif sejak tahun sebelumnya.

Kondisi serupa terlihat pada PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA). Harga sahamnya terkoreksi dua digit secara year to date dan sempat menyentuh level terendah 167 sebelum bergerak di kisaran 170–180. Emiten perkebunan ini membukukan laba bersih sekitar Rp25 miliar secara TTM kuartal III 2025, berbalik dari kerugian besar pada 2023 dan 2024 yang masing-masing mencapai Rp302 miliar dan Rp 193 miliar. Belum lagi, free float sahamnya masih terbatas di level 7,50 persen dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,8 triliun.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada sektor komoditas tidak hanya tercermin pada harga fisik, tetapi juga pada persepsi investor terhadap prospek bisnis. Keterbatasan likuiditas saham akibat free float yang kecil turut memengaruhi volatilitas harga di pasar. Di tengah kenaikan harga biji kopi dan tantangan produksi akibat suhu ekstrem, kinerja emiten kopi dan perkebunan menjadi cermin bagaimana dampak iklim merambat dari kebun hingga ke pasar modal.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).