Logo
>

Krisis Minyak Akibat Perang Iran, Energi Terbarukan Jadi Pilihan Aman

Perang Iran picu krisis energi global, dorong negara beralih ke energi terbarukan demi keamanan pasokan dan stabilitas harga.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Krisis Minyak Akibat Perang Iran, Energi Terbarukan Jadi Pilihan Aman
Krisis minyak akibat perang Iran dorong energi terbarukan jadi pilihan utama demi keamanan pasokan dan stabilitas ekonomi global. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Gejolak energi global akibat perang Iran mulai mengubah cara pandang banyak negara. Jika sebelumnya energi terbarukan didorong karena isu iklim, kini alasan utamanya bergeser menjadi soal keamanan pasokan.

Dalam forum energi dunia di Houston, para pelaku industri melihat krisis minyak justru mempercepat peralihan ke energi bersih. Gangguan pasokan minyak dan gas akibat konflik membuat harga energi melonjak dan pasokan semakin tidak pasti.

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memangkas jutaan barel pasokan minyak per hari dari pasar global. Dampaknya langsung terasa, harga energi naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sementara negara-negara yang bergantung pada jalur Selat Hormuz mulai mengalami tekanan pasokan.

Krisis ini bukan yang pertama. Dalam empat tahun terakhir, pasar energi global sudah dua kali terguncang besar, setelah sebelumnya perang Rusia dan Ukraina pada 2022 juga memicu lonjakan harga.

Dalam situasi seperti ini, energi terbarukan mulai dilihat bukan lagi sebagai pilihan idealis, melainkan kebutuhan praktis.

“Pelajaran dari beberapa tahun terakhir adalah harga itu penting. Kombinasi angin, surya, dan baterai menjadi tawaran ekonomi yang semakin menarik, dan negara-negara mengejarnya bukan sebagai tujuan iklim, tetapi untuk akses energi yang lebih terjangkau dan bahkan sebagai opsi keamanan energi,” kata Geoffrey Pyatt, mantan Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Urusan Sumber Daya Energi, dikutip dari Reuters, Kamis, 2 April 2026.

Energi seperti angin dan matahari dinilai lebih stabil karena bisa diproduksi secara lokal. Berbeda dengan minyak dan gas yang sangat tergantung pada perdagangan global dan risiko geopolitik.

Kekhawatiran bahkan mulai mengarah ke krisis yang lebih dalam. Pemerintah Jerman memperingatkan potensi kekurangan energi bisa terjadi pada akhir April atau Mei jika konflik tidak segera berakhir.

Di sisi lain, negara seperti Prancis dinilai lebih siap menghadapi tekanan karena masih mengandalkan energi nuklir. Sekitar 44 persen listriknya berasal dari sumber tersebut, memberi bantalan terhadap gejolak pasar global.

“Prancis memiliki jejak karbon rendah bukan karena ingin menyelamatkan planet ini, tetapi untuk mencegah situasi seperti yang terjadi sekarang,” kata Jeff Currie, Direktur Strategi Energy Pathways di Carlyle.

Ia menilai krisis ini justru akan mempercepat perubahan besar dalam sistem energi global. “Salah satu prediksi terbesar dari situasi saat ini adalah ini akan mempercepat transisi energi,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak juga mulai mengubah perilaku konsumen. Dalam jangka panjang, permintaan energi fosil bisa tertekan jika masyarakat beralih ke kendaraan listrik atau mengurangi mobilitas. “Ini kemungkinan tidak akan mudah berbalik,” kata Karim Fawaz, Direktur Global Pengilangan dan Pasar Produk di S&P Global Energy.

Tekanan utama datang dari Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia. Serangan Iran ke fasilitas energi di kawasan Teluk juga memperparah situasi, membuat pasokan semakin ketat.

Eropa pun mulai mempercepat strategi keluar dari ketergantungan energi impor. Uni Eropa meningkatkan investasi pada elektrifikasi, energi terbarukan, hingga penyimpanan energi. “Inilah yang kita butuhkan untuk aman, agar tidak lagi bergantung pada pasar global yang volatil dan berisiko,” kata Ditte Juul Jørgensen.

Beberapa negara bahkan bergerak lebih cepat. Lithuania menargetkan 60 persen kebutuhan energinya berasal dari energi terbarukan tahun ini, naik dari 50 persen pada 2025. Di tengah krisis, arah kebijakan energi global kini makin jelas. Diversifikasi sumber energi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama.

“Keamanan energi harus diselesaikan di tingkat negara, dan masuk akal bagi negara untuk mendiversifikasi pasokan sekaligus memastikan energi tetap terjangkau dan berkelanjutan,” kata CEO Equinor, Anders Opedal.

Perang Iran mungkin belum berakhir. Namun dampaknya sudah mulai menggeser arah besar energi dunia, dari ketergantungan global menuju kemandirian yang lebih lokal dan tahan terhadap guncangan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).