KABARBURSA.COM — Peta bisnis PT Harum Energy Tbk atau HRUM berubah cepat. Dalam waktu kurang dari dua tahun, perusahaan yang lama dikenal sebagai pemain batu bara ini mulai menggeser sumber uangnya ke nikel. Porsinya bahkan melonjak drastis hingga menyalip kontribusi batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan.
Data terbaru menunjukkan kontribusi batu bara terhadap pendapatan Harum Energy menyusut tajam. Jika pada 2023 porsinya mencapai 88 persen, pada 2025 tinggal sekitar 34,4 persen. Artinya, dalam tempo singkat perusahaan mulai memindahkan pusat gravitasinya ke sektor lain.
Perubahan ini bukan tanpa sebab. Industri batu bara tengah menghadapi tekanan dari berbagai arah. Di dalam negeri, pemerintah mulai memperketat kebijakan produksi melalui mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB. Pada saat yang sama, wacana pengenaan bea ekspor ikut menambah tekanan terhadap pelaku usaha.
Dari sisi global, permintaan batu bara juga mulai melambat seiring transisi energi yang berlangsung di banyak negara. Kombinasi faktor kebijakan dan pasar ini membuat sejumlah perusahaan tambang mulai mempertimbangkan arah bisnis baru.
Laporan terbaru Energy Shift Institute berjudul Navigating RKAB policy shifts and coal fundamental risk Harum Energy diversification strategy menilai diversifikasi menjadi langkah penting bagi perusahaan tambang yang ingin menjaga keberlanjutan usaha.
Analis Senior ESI Idham Muhammad Fachri menilai langkah diversifikasi tersebut tidak sekadar menjadi respons jangka pendek terhadap fluktuasi harga komoditas. Menurut dia, diversifikasi merupakan strategi struktural yang memungkinkan perusahaan membatasi reinvestasi pada sektor batu bara dan mengalihkan modal ke sektor lain yang dinilai lebih layak secara bisnis.
“Jika dijalankan dengan baik, diversifikasi dapat membuka peluang pada segmen-segmen dengan pertumbuhan yang lebih tinggi sekaligus membantu mengelola risiko, sementara bisnis batu bara tetap dapat berjalan demi menjaga keberlanjutan operasional. Diversifikasi ini juga berpotensi mendukung agenda nasional serta selaras dengan target net-zero,” ujar Idham dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 Maret 2026.

Menurut riset tersebut, langkah Harum Energy dapat dilihat sebagai contoh bagaimana perusahaan batu bara mulai beradaptasi dengan perubahan lanskap energi global.
Nikel Jadi Motor Baru
Strategi perubahan arah bisnis ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pada 2020, ketika harga batu bara sedang berada pada puncaknya, Harum Energy justru mulai masuk ke rantai pasok industri nikel. Selama periode 2020 hingga 2024, perusahaan mengalokasikan investasi sekitar USD1,3 miliar atau setara Rp21,90 triliun untuk pengembangan bisnis nikel. Sebagian besar pendanaan berasal dari kas internal perusahaan.
Sekitar 80 persen dana investasi tersebut berasal dari sumber internal. Sisanya diperoleh melalui pinjaman perbankan dan kemitraan strategis. Di sisi lain, investasi untuk bisnis batu bara justru dibatasi. Dalam kurun 2015 hingga 2025, rata-rata modal yang dialokasikan untuk sektor ini hanya sekitar 9 persen atau sekitar USD221,5 juta setara Rp3,73 triliun.
Hasilnya mulai terlihat. Pada September 2025, nikel menyumbang 64,8 persen atau sekitar USD664 juta setara Rp11,19 triliun dari total pendapatan konsolidasi Harum Energy. Angka tersebut meningkat 10,8 persen dibandingkan kontribusi pada 2023.
Pemimpin Transisi Batu Bara ESI Hazel Ilango menilai perubahan komposisi pendapatan tersebut menunjukkan adanya transformasi strategi bisnis yang cukup jelas di tubuh Harum Energy. Menurut dia, Harum Energy dapat dilihat sebagai salah satu contoh transformasi strategis dengan menggabungkan reinvestasi yang lebih terkendali pada bisnis batu bara dan pada saat yang sama mengalokasikan porsi modal yang lebih besar ke sektor nikel.
“Harum Energy merupakan salah satu studi kasus tentang transformasi strategis dengan menggabungkan reinvestasi batu bara yang terkendali dan mengalokasikan modal yang lebih besar pada nikel yang kini menjadi penggerak pendapatan utama perusahaan. Sementara batu bara dikelola sebagai aset penopang likuiditas dan mendukung stabilitas keuangan, bukan sebagai pendorong pertumbuhan bisnis,” jelas Hazel.
Dividen Ditahan Demi Ekspansi
Perubahan strategi ini juga tercermin dari kebijakan perusahaan terhadap pemegang saham. Sejak 2023, Harum Energy memutuskan menahan pembagian dividen. Langkah tersebut diambil untuk memastikan ketersediaan dana bagi ekspansi bisnis nikel. Manajemen memilih mengarahkan kas perusahaan untuk investasi jangka panjang ketimbang membagikan keuntungan dalam jangka pendek.
Keputusan ini sekaligus memperlihatkan arah strategi perusahaan yang lebih fokus pada transformasi bisnis dibandingkan menjaga imbal hasil jangka pendek bagi investor.
Meski menjadi motor baru pendapatan, bisnis nikel juga bukan tanpa risiko. Keuntungan sektor ini sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas dan kemampuan perusahaan menjalankan proyek dengan disiplin.
Data per September 2025 menunjukkan margin bisnis nikel Harum Energy hanya sekitar 3,9 persen. Angka tersebut jauh di bawah margin bisnis batu bara yang masih mencapai 24,1 persen. Artinya, batu bara tetap menjadi penopang likuiditas yang penting bagi perusahaan, meskipun tidak lagi diposisikan sebagai mesin pertumbuhan utama.
Hazel Ilango menegaskan bahwa strategi diversifikasi Harum Energy perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang, bukan sebagai upaya yang bertujuan meningkatkan pendapatan secara instan. Ia menilai perluasan bisnis ke komoditas lain yang memiliki peran dalam industri masa depan seperti nikel dapat membantu perusahaan mengurangi konsentrasi risiko dari fluktuasi komoditas,
“Dengan memperluas bisnis ke komoditas lain yang memiliki peran dalam industri masa depan seperti nikel, perusahaan dapat mengurangi konsentrasi risiko fluktuasi dan meningkatkan daya tahan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Transformasi yang dilakukan Harum Energy menunjukkan satu kenyataan baru dalam industri energi. Batu bara mungkin masih menghasilkan uang hari ini. Namun bagi banyak perusahaan tambang, masa depan bisnis mulai dicari di komoditas lain yang lebih relevan dengan arah ekonomi global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.