Logo
>

Arah The Fed Berubah, Dampaknya Bisa Menjalar ke Pasar Indonesia

Perubahan kepemimpinan dan arah kebijakan Federal Reserve berpotensi memengaruhi rupiah, arus modal asing, hingga pergerakan IHSG dan obligasi pemerintah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Arah The Fed Berubah, Dampaknya Bisa Menjalar ke Pasar Indonesia
Perubahan arah kebijakan The Fed berpotensi memengaruhi rupiah, IHSG, dan arus modal asing ke Indonesia. Simak dampaknya bagi pasar keuangan RI. Foto: NBC4 Washington.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) membuka bab baru dalam relasi panas antara Gedung Putih dan bank sentral paling berpengaruh di dunia. Jika disetujui Senat, Warsh akan memimpin lembaga yang kebijakannya bukan hanya menentukan arah ekonomi Amerika, tetapi juga mengguncang pasar global, dari nilai tukar hingga harga komoditas.

    Pasar keuangan langsung membaca sinyal politik di balik nama itu. Warsh bukan sosok sembarangan. Ia pernah duduk sebagai anggota Dewan Gubernur Federal Reserve pada periode 2006 hingga 2011, bahkan tercatat sebagai gubernur termuda dalam sejarah The Fed saat diangkat pada usia 35 tahun. Kini, di usia 55 tahun, ia kembali dipanggil ke pusat panggung, kali ini di bawah bayang-bayang presiden yang terang-terangan menginginkan suku bunga jauh lebih rendah.

    Warsh akan menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Ironisnya, Powell justru dipilih Trump sendiri pada 2017, sebelum kemudian menjadi sasaran kritik tanpa henti karena dianggap terlalu lambat memangkas suku bunga.

    Antara Independensi dan Tekanan Politik

    Jika dilantik, tantangan utama Warsh bukan sekadar mengelola inflasi dan pertumbuhan, tetapi menjaga independensi Federal Reserve dari tarik-menarik politik harian. Trump dikenal vokal menekan bank sentral agar memangkas suku bunga jauh lebih agresif, bahkan pernah menyebut suku bunga ideal di level 1 persen, angka yang dinilai banyak ekonom tidak realistis dengan kondisi ekonomi saat ini. Suku bunga acuan The Fed kini berada di kisaran 3,6 persen.

    Raghuram Rajan, profesor ekonomi Universitas Chicago dan mantan Gubernur Bank Sentral India, menilai Warsh punya modal intelektual dan temperamen yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan tersebut.

    “Kevin Warsh memiliki temperamen yang bijaksana serta pemahaman intelektual yang kuat, ditambah kemampuan diplomasi yang diharapkan bisa membantunya menavigasi posisi yang sangat menantang saat ini,” kata Rajan, dikutip dari AP, Sabtu, 31 Januari 2026.

    Dukungan personal juga menjadi faktor. Keluarga Warsh memiliki kedekatan dengan Trump, yang dinilai bisa meredam tekanan langsung dari Gedung Putih. Trump sendiri secara terbuka memuji Warsh di media sosial.

    “Saya telah mengenal Kevin sejak lama, dan saya tidak ragu dia akan tercatat sebagai salah satu Ketua The Fed TERBAIK, mungkin yang terbaik,” tulis Trump. “Dia benar-benar ‘central casting’ dan tidak akan pernah mengecewakan Anda.”

    Meski begitu, Trump mengaku tidak meminta komitmen eksplisit soal pemangkasan suku bunga. “Itu pertanyaan yang tidak pantas,” ujar Trump di Oval Office. “Saya ingin menjaga semuanya tetap murni.”

    Namun ia menambahkan, “Tapi dia jelas ingin memangkas suku bunga.”

    Rekam Jejak yang Tidak Selalu Sejalan

    Menariknya, Warsh bukan figur yang sejak awal sejalan dengan pandangan Trump. Dalam periode krisis keuangan global 2008–2009, ia justru dikenal sebagai pendukung suku bunga lebih tinggi untuk mengendalikan inflasi. Ia sempat mengkritik kebijakan suku bunga rendah ekstrem yang diterapkan The Fed pasca resesi besar, serta berulang kali memperingatkan potensi lonjakan inflasi, meski faktanya inflasi tetap rendah selama bertahun-tahun.

    Namun dalam beberapa tahun terakhir, sikap Warsh tampak melunak. Dalam pidato dan kolom opini, ia mulai menyuarakan dukungan terhadap suku bunga yang lebih rendah, sejalan dengan narasi ekonomi Trump.

    Respons pasar muncul cepat dan tajam. Nilai tukar dolar menguat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang naik, sementara saham AS turun sekitar 0,5 persen. Gejolak terbesar justru terjadi di pasar logam. Harga emas anjlok lebih dari 5 persen, sedangkan perak terjun lebih dari 13 persen, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang berpotensi lebih tinggi dalam jangka panjang.

    Di Kongres, resistensi muncul dari lintas partai. Senator Republik Thom Tillis dari North Carolina menyatakan akan menolak pencalonan Warsh hingga penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Jerome Powell diselesaikan. “Melindungi independensi Federal Reserve dari intervensi politik atau intimidasi hukum adalah hal yang tidak bisa ditawar,” tulis Tillis, meski ia mengakui Warsh sebagai “calon yang berkualitas”.

    Penolakan ini berpotensi menggagalkan proses konfirmasi. Ketua Mayoritas Senat John Thune bahkan mengakui bahwa tanpa dukungan Tillis, peluang Warsh untuk lolos kemungkinan tidak akan tercapai.

    Dari kubu Demokrat, Senator Elizabeth Warren menuding Warsh mengubah pandangannya demi menyenangkan Trump. “Saya tidak tahu bagaimana menafsirkan ini selain mengatakan itulah yang dilakukan boneka kaus kaki,” kata Warren. “Jika Donald Trump mengatakan sesuatu, Kevin Warsh mengulanginya, meskipun itu bertentangan dengan apa yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.”

    Arah Baru Kebijakan The Fed

    Warsh juga dikenal sebagai pengkritik keras neraca jumbo Federal Reserve yang kini mencapai USD6,6 triliun atau setara sekitar Rp111.210 triliun. Ia menilai pembelian obligasi besar-besaran pasca krisis dan pandemi memberi ruang bagi Kongres untuk meningkatkan belanja tanpa memikirkan biaya utang.

    Namun mengurangi neraca tersebut bukan perkara mudah. Sistem perbankan telah terbiasa dengan limpahan likuiditas besar, sehingga pengetatan berisiko memicu guncangan baru. Dalam kolomnya di The Wall Street Journal pada November, Warsh menulis bahwa model ekonomi The Fed keliru dalam memandang inflasi.

    “Inflasi disebabkan ketika pemerintah membelanjakan terlalu banyak dan mencetak uang terlalu banyak,” tulisnya.

    Trump dan Ambisi Mengendalikan Bank Sentral

    Pencalonan ini datang setelah proses pencarian yang panjang dan terbuka, sesuatu yang jarang terjadi untuk posisi Ketua The Fed. Trump dalam beberapa tahun terakhir semakin agresif mencoba mengendalikan bank sentral. Pada Agustus 2015 lalu, ia bahkan berupaya memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed, demi mengamankan mayoritas suara di dewan.

    Upaya itu kandas setelah Cook menggugat dan Mahkamah Agung memberi sinyal kuat untuk mempertahankan posisinya selama proses hukum berjalan. Jerome Powell sendiri mengungkap bulan ini bahwa The Fed menerima panggilan paksa dari Departemen Kehakiman terkait kesaksiannya di Kongres mengenai renovasi gedung senilai USD2,5 miliar atau sekitar Rp42,125 triliun. Powell menyebut panggilan tersebut sebagai “dalih” untuk menekan The Fed agar memangkas suku bunga.

    Jika disetujui, Warsh tidak akan berkuasa sendirian. Ia hanya satu dari 19 anggota Komite Pasar Terbuka Federal, dengan 12 anggota memiliki hak suara. Komite ini sendiri terbelah antara kubu yang khawatir inflasi masih membandel dan mereka yang melihat sinyal perlambatan ekonomi dari meningkatnya pengangguran.

    Pasar keuangan juga bisa menjadi pengimbang terakhir. Jika The Fed memangkas suku bunga terlalu agresif dan dinilai tunduk pada tekanan politik, investor bisa melepas obligasi pemerintah AS. Imbal hasil jangka panjang akan melonjak, termasuk suku bunga kredit perumahan, yang justru berlawanan dengan tujuan pemangkasan suku bunga.

    Warsh sebenarnya pernah dipertimbangkan Trump sebagai Ketua The Fed pada periode pertama, sebelum akhirnya memilih Powell. Faktor keluarga juga tak bisa diabaikan. Ayah mertuanya, Ronald Lauder, adalah pewaris kerajaan kosmetik Estee Lauder sekaligus donatur lama dan orang kepercayaan Trump.

    Kini, dengan ekonomi global kembali rapuh dan politik AS kian terpolarisasi, pencalonan Warsh bukan sekadar soal suku bunga. Ia menjadi simbol pertaruhan besar antara independensi bank sentral dan ambisi politik presiden yang ingin meninggalkan jejaknya di jantung sistem keuangan dunia.

    Dampaknya ke Indonesia

    Perubahan arah kebijakan The Fed nyaris selalu menjalar ke negara berkembang, dan Indonesia termasuk yang paling sensitif. Setiap sinyal pergeseran di bank sentral AS akan langsung dibaca pasar sebagai penentu arah arus modal global, nilai tukar, hingga biaya pendanaan.

    Jika Kevin Warsh benar-benar terpilih menjadi Ketua The Fed dan mendorong pendekatan suku bunga yang lebih longgar, tekanan terhadap aset negara berkembang berpotensi mereda. Secara historis, pelonggaran kebijakan moneter AS cenderung melemahkan dolar dan membuka ruang bagi dana global untuk kembali mengalir ke pasar berisiko, termasuk saham dan obligasi Indonesia.

    Dalam konteks ini, rupiah berpeluang mendapat sentimen positif. Melemahnya dolar AS biasanya mengurangi tekanan nilai tukar, sekaligus menurunkan kebutuhan intervensi agresif dari Bank Indonesia. Kondisi tersebut memberi ruang lebih luas bagi bank sentral domestik untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Namun dampak positif itu tidak datang tanpa catatan. Pasar global masih mencermati satu isu krusial, yakni independensi The Fed. Kekhawatiran bahwa bank sentral AS berada di bawah tekanan politik dapat memicu volatilitas baru di pasar keuangan global. Dalam situasi seperti itu, investor cenderung menahan diri atau bahkan menarik dana dari emerging market, termasuk Indonesia, meskipun arah suku bunga AS lebih longgar.

    Tekanan tersebut bisa tercermin pada pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara Indonesia selama ini bergerak seiring dengan imbal hasil US Treasury. Ketika ketidakpastian meningkat, selisih imbal hasil atau spread cenderung melebar, yang berarti biaya pendanaan pemerintah dan korporasi ikut meningkat.

    Dari sisi pasar saham, perubahan arah The Fed berpotensi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, likuiditas global yang lebih longgar mendukung penguatan indeks saham dan sektor-sektor berbasis konsumsi. Di sisi lain, jika investor menilai kebijakan moneter AS kehilangan kredibilitas, aksi jual berbasis sentimen bisa kembali menghantam pasar, terlepas dari kondisi fundamental domestik.

    Sejumlah ekonom menilai Indonesia masih memiliki bantalan yang relatif kuat dibanding banyak negara berkembang lain. Konsumsi domestik yang besar, posisi komoditas strategis seperti nikel dan minyak sawit, serta stabilitas sistem perbankan menjadi faktor penyangga. Namun, arah kebijakan moneter global tetap menjadi variabel eksternal yang tidak bisa diabaikan.

    Bagi Indonesia, perubahan arah The Fed bukan sekadar isu luar negeri. Ia akan menentukan ruang gerak kebijakan moneter domestik, persepsi risiko investor asing, hingga ketahanan pasar keuangan nasional dalam menghadapi guncangan global berikutnya.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).