KABARBURSA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengirim sinyal keras soal arah kebijakan moneter negaranya. Ia menyatakan akan menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve atau The Fed, Kevin Warsh, sebagai Ketua lembaga itu berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell pada Mei 2026 mendatang. Di mata Trump, figur Warsh dianggap sebagai kunci untuk mewujudkan janji lama yang terus ia ulang kepada pemilih, yakni ekonomi Amerika yang tumbuh kencang dan agresif.
Saat menyebut Warsh berasal dari “central casting”, Trump sebenarnya sedang membuka cara pandangnya sendiri. Istilah itu bukan hanya soal pengalaman teknokratis, tetapi juga soal citra. Warsh, yang kini berusia 55 tahun, dinilai memiliki tampilan dan latar belakang yang cocok untuk memimpin bank sentral paling berpengaruh di dunia, di saat The Fed berada pada fase yang tidak lazim. Trump secara terbuka menginginkan ketua baru The Fed yang lebih sejalan dengan keinginan Gedung Putih, terutama soal pemangkasan suku bunga acuan.
“Dia sangat pintar, sangat bagus, kuat, muda, cukup muda,” ujar Trump, dikutip dari AP, Sabtu, 31 Januari 2026. “Dia adalah orang central casting yang diinginkan banyak orang.”
Trump bahkan menambahkan komentar yang mengundang senyum sekaligus tanda tanya. “Penampilan tidak berarti apa-apa, tapi dia punya tampilan itu,” katanya.
Keinginan Trump untuk pemangkasan suku bunga yang agresif memang berpotensi memberi dorongan jangka pendek pada pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, langkah itu membawa risiko ekonomi yang memanas berlebihan, terutama ketika inflasi masih menjadi isu sensitif dan biaya hidup membebani banyak rumah tangga Amerika.
Warsh bukan nama baru dalam radar politik moneter AS. Pada 2017, ia sempat menjadi kandidat kuat Ketua The Fed sebelum akhirnya Trump memilih Jerome Powell. Kini, Trump terang-terangan menyebut bahwa keputusan memilih Powell kala itu didasarkan pada saran yang keliru.
Dari sisi latar belakang, Warsh punya jejak akademik dan jejaring elite. Ia mengantongi gelar dari Stanford University dan Harvard University Law School. Ia juga menikah dengan Jane Lauder, putri dari Ronald Lauder, pewaris kerajaan kosmetik dan donatur besar Partai Republik.
Karier Warsh di Federal Reserve dimulai di usia yang relatif muda. Pada umur 35 tahun, ia menjadi gubernur termuda dalam dewan tujuh anggota The Fed, menjabat dari 2006 hingga 2011. Sebelumnya, ia sempat menjadi penasihat ekonomi di pemerintahan Presiden George W. Bush serta berkarier sebagai bankir investasi di Morgan Stanley.
Nama Warsh ikut tercatat dalam sejarah krisis keuangan global 2008–2009. Ia bekerja dekat dengan Ketua The Fed saat itu, Ben Bernanke, dalam upaya menyelamatkan sistem keuangan dan menghadapi resesi besar. Bernanke bahkan menulis dalam memoarnya bahwa Warsh adalah “salah satu penasihat dan orang kepercayaan terdekat saya”, seraya menambahkan bahwa kecakapan politik dan pemahamannya atas pasar, serta jejaringnya di Wall Street, sangat berharga di masa krisis.
Namun rekam jejak Warsh tidak sepenuhnya mulus. Di beberapa momen krusial, ia dinilai keliru membaca kedalaman masalah ekonomi Amerika. Ketika risiko deflasi mengintai dan ekonomi terancam runtuh, Warsh justru mendorong The Fed untuk menahan suku bunga tetap tinggi. Pada 2008, ia juga mengingatkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut bisa memicu inflasi. Kenyataannya, bahkan setelah suku bunga dipangkas mendekati nol, inflasi tetap rendah.
Pada 2011, Warsh sempat menyatakan keberatan terhadap rencana The Fed membeli obligasi pemerintah senilai USD600 miliar atau setara sekitar Rp10.110 triliun dengan kurs Rp16.850, kebijakan yang dikenal sebagai quantitative easing untuk menekan suku bunga jangka panjang. Meski demikian, ia akhirnya tetap mendukung keputusan tersebut atas permintaan Bernanke.
Dalam beberapa aspek, Warsh juga menunjukkan wajah Partai Republik sebelum era Trump. Dalam pidato tahun 2010, ia menyerukan penghentian “merayapnya proteksionisme perdagangan” yang ia nilai bertentangan dengan kebijakan pro-pertumbuhan. Sikap itu kontras dengan arah kebijakan Trump yang kemudian mendorong kenaikan tajam pajak impor dan menetapkannya secara sepihak dengan dalih keadaan darurat ekonomi.
Saat ini, Warsh aktif sebagai visiting fellow bidang ekonomi di Hoover Institution, lembaga pemikir konservatif di Stanford University. Ia juga menjadi dosen di Stanford Graduate School of Business dan partner di Duquesne Family Office, pengelola kekayaan investor miliarder Stanley Druckenmiller.
Dalam beberapa bulan terakhir, Warsh tampak semakin terbuka menyuarakan ambisinya. Ia rajin tampil di televisi dan menulis opini, sembari melontarkan kritik keras terhadap The Fed. Ia menyerukan apa yang ia sebut sebagai “perubahan rezim” dan mengkritik Powell karena membawa isu perubahan iklim serta keberagaman dan inklusi ke dalam diskursus bank sentral, yang menurut Warsh berada di luar mandat The Fed.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Juli 2025 lalu, Warsh mengatakan kebijakan The Fed telah rusak sejak cukup lama. “Bank sentral yang ada sekarang ini sangat berbeda dengan bank sentral yang saya masuki pada 2006,” ujarnya.
Ia menilai keputusan membiarkan inflasi melonjak pada 2021–2022 sebagai kesalahan kebijakan makro terbesar dalam 45 tahun yang memecah belah negara.
Dalam artikel opini di The Wall Street Journal pada November, Warsh kembali menantang pandangan arus utama soal inflasi. Ia menulis bahwa The Fed seharusnya meninggalkan dogma bahwa inflasi muncul ketika ekonomi tumbuh terlalu cepat dan pekerja dibayar terlalu mahal. Inflasi terjadi ketika pemerintah membelanjakan terlalu banyak dan mencetak terlalu banyak uang.
Warsh juga bertaruh pada teknologi sebagai penahan inflasi. Ia meyakini kecerdasan buatan akan mendorong lonjakan produktivitas yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi tanpa tekanan harga. Pandangan ini sejalan dengan keyakinan Trump bahwa inflasi telah dikalahkan dan pembangunan infrastruktur AI akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Amerika tahun ini.
“Kecerdasan buatan akan menjadi kekuatan disinflasi yang signifikan, meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing Amerika,” kata Warsh.(*)