KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat, 30 Januari 2026. Pelemahan ini menandai fase konsolidasi setelah reli tajam yang membawa Brent kembali ke atas level USD70 per barel.
Tekanan muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang pembicaraan dengan Iran. Pembicaraan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah, yang sebelumnya mendorong lonjakan harga.
Kontrak berjangka Brent turun 68 sen atau hampir 1 persen ke level USD70,03 per barel pada pukul 09.58 GMT. Tekanan lebih besar terlihat pada kontrak April yang lebih aktif diperdagangkan, turun 80 sen atau 1,15 persen ke USD68,79 per barel. Di pasar AS, West Texas Intermediate melemah 72 sen atau 1,1 persen ke USD64,70 per barel.
Analis PVM Tamas Varga, menilai pelemahan tersebut merupakan aksi ambil untung setelah pasar merespons sinyal diplomasi AS–Iran. Menurutnya, pernyataan Trump membuat kemungkinan intervensi militer AS terhadap Iran menjadi lebih kecil dibandingkan sehari sebelumnya. Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS dan sinyal pasokan yang kembali stabil ikut menekan harga minyak.
Pelemahan harga terjadi menjelang pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Lima delegasi OPEC+ menyebut kelompok produsen diperkirakan mempertahankan kebijakan menahan kenaikan produksi untuk Maret, meskipun harga Brent sempat menanjak mendekati USD72 per barel akibat meningkatnya ketegangan terkait Iran.
Sebelumnya, delapan produsen utama OPEC+ telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari secara bertahap dari April hingga Desember 2025, sebelum memutuskan jeda kenaikan tambahan pada Januari hingga Maret karena permintaan musiman yang lebih lemah.
Sehari sebelumnya, Brent sempat melonjak 3,4 persen dan ditutup di USD70,71 per barel, menjadi penutupan tertinggi sejak 31 Juli. Kenaikan itu dipicu laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan langkah terhadap Iran, bersamaan dengan keputusan Uni Eropa menjatuhkan sanksi baru kepada Teheran terkait penanganan protes domestik.
Analis PVM John Evans, menyoroti risiko utama yang menjadi perhatian pasar saat itu, yakni potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak per hari ke pasar global.
Lonjakan tersebut mendorong Brent masuk wilayah overbought secara teknikal, sekaligus memperlebar premi Brent terhadap WTI hingga USD5,30 per barel. Selisih harga ini membuka insentif bagi peningkatan ekspor minyak mentah AS, yang pada akhirnya berpotensi menahan reli lanjutan di pasar global.
Pergerakan hari ini dinilai lebih sebagai langkah defensif menjelang akhir pekan dibandingkan perubahan arah tren. Faktor jatuh tempo kontrak bulan berjalan turut memberi tekanan tambahan ketika pelaku pasar melakukan rolling posisi ke kontrak berikutnya.
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Minyak
Di sisi lain, penguatan dolar AS menjadi faktor eksternal yang konsisten menekan harga minyak, mengingat komoditas ini diperdagangkan dalam denominasi dolar sehingga menjadi lebih mahal bagi pembeli non-AS saat mata uang tersebut menguat.
Dari sisi pasokan, sinyal yang muncul bersifat campuran. Produksi minyak AS dilaporkan mulai pulih setelah gangguan cuaca sebelumnya, sementara Kazakhstan berupaya menstabilkan output usai gangguan operasional. Kedua faktor ini mengurangi sebagian narasi pengetatan pasokan yang sempat mendominasi sentimen pasar.
Dalam jangka menengah, proyeksi fundamental masih membayangi potensi kenaikan harga. Survei Reuters terhadap 31 ekonom dan analis memproyeksikan harga rata-rata Brent pada 2026 berada di kisaran USD62,02 per barel, dengan kelebihan pasokan diperkirakan berada di rentang 0,75 juta hingga 3,5 juta barel per hari.
Kepala riset ekonomi dan next generation Julius Baer, Norbert Ruecker, menyebut geopolitik memang menambah volatilitas, namun pasar minyak secara struktural masih berada dalam kondisi surplus.
Dengan latar tersebut, keputusan OPEC+ akhir pekan ini menjadi titik fokus utama pasar. Investor menanti kejelasan arah pasokan Maret sekaligus sinyal lanjutan terkait dinamika hubungan AS–Iran. Di saat yang sama, perhatian juga tertuju pada arah kebijakan moneter AS, termasuk keputusan Trump terkait pimpinan Federal Reserve, yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dan permintaan minyak global ke depan.(*)