KABARBURSA.COM - Harga minyak mengalami penurunan lebih dari USD3 per barel pada hari Senin, 2 Februari 2026 setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyebut Iran serius berunding dengan Washington. Hal ini pun menandakan penurunan ketegangan dua negara itu.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun menjadi USD3,02, atau 4,4 persen, menjadi USD66,30 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka turun USD3,07, atau 4,7 persen menjadi USD62,14 per barel.
Iran dan AS akan melanjutkan pembicaraan pada hari Jumat, demikian disampaikan pejabat dari kedua negara kepada Reuters. Pada hari Sabtu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran sedang serius berdiskusi.
Diketahui, Presiden AS telah berulang kali mengancam Iran dengan intervensi jika negara itu tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau jika terus melakukan aksi berbahaya kepada para demonstran. Ancaman tersebut membuat sentimen bagi harga minyak sepanjang Januari 2026.
"Bersamaan dengan ketegangan di Timur Tengah, pusaran kutub di AS telah membantu harga minyak mentah WTI AS naik 14 persen dan Brent naik 16 persen pada bulan Januari," kata analis PVM dalam sebuah catatan.
Tak sentimen pembicaraan AS dan Iran, Ritterbusch and Associates mengatakan prakiraan cuaca yang lebih hangat di AS juga menekan harga minyak, karena harga berjangka diesel turun tajam lebih dari 6 persen.
Dengan adanya isu-isu tersebut, fokus pasar kini kembali tertuju pada peningkatan persediaan minyak global yang diperkirakan akan terjadi tahun ini.
Pada pertemuan hari Minggu, OPEC+ sepakat untuk mempertahankan produksi minyaknya pada bulan Maret. Pada bulan November 2025, kelompok tersebut telah membekukan rencana peningkatan lebih lanjut mulai Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang lebih lemah secara musiman.(*)