KABARBURSA.COM — Perang di Iran bukan cuma soal rudal dan geopolitik. Dampaknya kini merambat ke dapur masyarakat Asia. Negara-negara di kawasan ini mulai kelabakan menjaga pasokan energi, sementara harga bahan bakar merangkak naik dan pasar ikut goyah.
Gangguan suplai minyak dan gas akibat serangan ke ladang energi dan kilang membuat distribusi tersendat. Asia menjadi pihak yang paling terpukul. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi, terutama yang melewati Selat Hormuz, kini berubah jadi titik rawan.
Sejak eskalasi konflik pada 28 Februari, hanya sekitar 90 kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut. Mayoritas berbendera India, Pakistan, dan China. Angka ini menunjukkan betapa ketatnya tekanan di salah satu jalur energi paling vital dunia.
Michael Williamson dari Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik mengingatkan dampak ini tidak merata secara global. “Negara-negara yang terpapar gangguan pasokan itu bukan di Eropa atau Amerika, melainkan benar-benar berada di kawasan Asia,” ujarnya, dikutip dari AP, Jumat, 20 Maret 2026.
Sementara itu, analis energi Ramnath Iyer mengingatkan efek yang lebih luas. “Asia harus bersiap menghadapi dampak berantai ke seluruh aktivitas ekonomi,” katanya.
Jepang Panik
Jepang menjadi salah satu negara paling rentan. Sekitar 93 persen impor minyaknya bergantung pada jalur Selat Hormuz. Harga bahan bakar negara ini pun mulai melonjak. Harga bensin mencapai 175 yen per liter atau sekitar USD1,09 setara Rp18.421, naik dari sebelumnya 144 yen atau USD0,91 sekitar Rp15.379 sebulan lalu.
Pemerintah Jepang mulai menguras cadangan minyak. Sebanyak 15 hari stok dari sektor swasta dilepas, disusul cadangan nasional untuk satu bulan. Total cadangan saat ini diperkirakan cukup untuk 250 hari.
Namun kekhawatiran publik meningkat. Banyak yang mengingat kembali krisis minyak 1970-an ketika antrean panjang dan kelangkaan terjadi akibat konflik Timur Tengah. Desakan untuk mempercepat energi terbarukan pun menguat.
Korea Selatan dan China Mulai Terasa, tapi Masih Bertahan
Korea Selatan mengimpor sekitar 70 persen minyak dan 20 persen gas dari Timur Tengah. Harga bahan bakar yang naik memicu antrean di SPBU murah. Pengemudi, pekerja logistik, hingga petani mulai terbebani biaya operasional.
Meski begitu, pemerintah menyebut cadangan masih aman hingga tujuh bulan. Sejumlah langkah diambil, mulai dari meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara, memperkuat nuklir, hingga membuka peluang impor energi dari Rusia.
China relatif lebih tahan. Cadangan energi strategis yang besar dan kontribusi energi terbarukan sekitar 30 persen membantu meredam dampak langsung.
Namun tekanan tetap terasa. Harga tiket pesawat melonjak. Maskapai bahkan menggandakan tarif pada rute tertentu untuk menutup biaya bahan bakar.
Vietnam dan Thailand Ikut Tertekan, Industri Mulai Tersendat
Di Vietnam, kenaikan biaya bahan bakar langsung memukul sektor industri. Pabrik baja, tekstil, dan alas kaki menghadapi lonjakan biaya produksi. Pemasok mulai menaikkan harga bahkan menunda pengiriman.
Harga diesel yang naik juga menekan sektor transportasi dan pertanian. Pemerintah memperingatkan potensi kekurangan bahan bakar pesawat dan meminta maskapai menyiapkan pengurangan jadwal.
Thailand pun tak luput. Lebih dari separuh listriknya bergantung pada gas alam cair, dengan sekitar 40 persen impor berasal dari Timur Tengah. Pemerintah menghentikan ekspor minyak, meningkatkan produksi batu bara, dan meminta instansi negara menghemat energi.
Namun langkah ini punya konsekuensi. Ketika Thailand mulai membeli LNG mahal di pasar spot, beban subsidi energi kian berat.
Indonesia Dilema, Tahan Harga atau Risiko Inflasi
Indonesia sejauh ini masih menahan kenaikan harga energi. Namun kondisi itu diperkirakan tidak akan bertahan lama, kemungkinan hanya sampai setelah Idul Fitri.
Jika konflik berlanjut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit. Tetap menanggung subsidi yang mahal atau mulai menaikkan harga dengan risiko inflasi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa stabilitas harga energi bukan lagi sekadar kebijakan ekonomi, tetapi taruhan fiskal di tengah tekanan global.
Negara Lain Mulai Berhemat, dari Bantuan Tunai hingga Sekolah Libur
Filipina mulai menyalurkan bantuan tunai 5.000 peso atau sekitar USD83 setara Rp1.402.700 kepada sekitar 139.000 pengemudi angkutan. Subsidi juga diperluas ke nelayan dan petani.
Pakistan mengambil langkah ekstrem. Sekolah diliburkan dua minggu, jatah bahan bakar kendaraan pemerintah dipangkas 50 persen, bahkan parade nasional dibatalkan demi penghematan energi.
India meningkatkan produksi gas domestik untuk rumah tangga, tetapi pasokan untuk sektor komersial seperti hotel dan restoran ikut tertekan.
Sementara Nepal memilih cara sederhana namun drastis. Gas LPG dijatah hanya setengah tabung, sekitar 7,1 kilogram, agar bisa dibagi ke lebih banyak rumah tangga.
Krisis ini memperlihatkan satu hal. Ketika konflik pecah di Timur Tengah, yang berguncang bukan hanya wilayah perang. Asia menjadi penanggung beban utama, dari antrean bensin hingga kebijakan darurat. Energi yang selama ini dianggap pasti, kini berubah jadi sumber ketidakpastian. Seperti biasa, yang paling cepat merasakan dampaknya adalah masyarakat biasa.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.