Logo
>

AS–Iran Lanjutkan Pembicaraan, Pasar Minyak Bergerak Tanpa Arah

Dinamika negosiasi tidak langsung di Jenewa menjadi katalis utama, dengan tujuan meredakan friksi seputar ambisi nuklir Iran

Ditulis oleh Pramirvan Datu
AS–Iran Lanjutkan Pembicaraan, Pasar Minyak Bergerak Tanpa Arah
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak menutup perdagangan Kamis dengan pelemahan tipis, setelah melalui sesi yang sarat turbulensi. Pelaku pasar bergerak hati-hati. Fokus mereka tertambat pada perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran.

Minyak mentah berjangka Brent—acuan internasional—ditutup turun 10 sen atau 0,14 persen ke level USD70,75 per barel. Laporan tersebut disampaikan oleh Reuters dari Houston, Jumat 27 Februari pagi WIB.

Di sisi lain, patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), terkoreksi 21 sen atau 0,32 persen menjadi USD65,21 per barel. Pelemahan ini mencerminkan pasar yang masih menimbang arah. Belum ada konklusi.

Sepanjang sesi, harga bergerak fluktuatif. Dinamika negosiasi tidak langsung di Jenewa menjadi katalis utama, dengan tujuan meredakan friksi seputar ambisi nuklir Iran. Sentimen berubah cepat. Dalam hitungan menit.

Perundingan berlangsung di tengah peningkatan tensi, setelah Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan penambahan kekuatan militer di kawasan tersebut. Langkah itu mempertebal spekulasi akan potensi eskalasi.

Harga minyak sempat melonjak lebih dari USD1 per barel ketika laporan media mengindikasikan pembicaraan menemui kebuntuan. Pemicu utamanya adalah tuntutan Washington agar Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium serta menyerahkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen. Permintaan yang keras. Dan sensitif.

Namun reli tersebut tak bertahan lama. Harga kembali tergerus setelah kedua negara sepakat memperpanjang dialog hingga pekan depan, sehingga mereduksi probabilitas serangan dalam waktu dekat.

Vice President Rystad Energy, Janiv Shah, menilai keputusan melanjutkan negosiasi berhasil meredakan kecemasan pasar atas risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyebut putaran kali ini sebagai yang paling substansial sejauh ini. Ia menegaskan posisi Teheran terkait pencabutan sanksi serta mekanisme implementasinya, sekaligus memastikan dialog akan berlanjut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, menyatakan perundingan mencatat kemajuan signifikan. Pernyataan ini menambah nuansa optimisme, meski belum sepenuhnya menghapus kehati-hatian pasar.

Pelaku pasar memandang pelemahan harga lebih dipicu penyusutan premi risiko geopolitik ketimbang perubahan fundamental sisi pasokan. Persepsi berubah. Struktur belum.

Seorang trader minyak berbasis di Dubai, Shohruh Zukhritdinov, mengungkapkan bahwa pasar mulai mendiskon potensi pengetatan sanksi atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.

Namun secara fundamental, lanskap suplai relatif stabil. Pasokan global masih berlimpah, kelompok OPEC+ berpotensi meningkatkan produksi pada April, dan Iran juga memperbesar ekspor. Dengan demikian, pergerakan harga lebih merefleksikan dinamika sentimen ketimbang pergeseran struktural.

Meski risiko konflik jangka pendek mereda, pasar minyak tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Hasil akhir negosiasi AS–Iran masih menjadi variabel kunci.

Setiap perkembangan baru berpotensi memicu volatilitas lanjutan—terutama jika berdampak pada arus pasokan dari kawasan Timur Tengah, salah satu episentrum produksi minyak dunia. Pasar siaga. Dan responsnya bisa seketika.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.