KABARBURSA.COM – Suasana duka menyelimuti Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, saat jenazah Michael Bambang Hartono tiba pada Jumat, 20 Maret 2026 pukul 11.30 WIB. Sosok yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam lanskap bisnis Indonesia itu kini memasuki rangkaian penghormatan terakhir yang berlangsung lintas kota, dari Jakarta hingga Kudus.
Setibanya di rumah duka, jenazah langsung dibawa ke ruang mortuary untuk proses perawatan sebelum dipindahkan ke ruang persemayaman. Prosesi penghormatan di Jakarta dijadwalkan berlangsung hingga 22 Maret 2026, dengan beberapa ruang disiapkan untuk menampung pelayat.
Misa tutup peti akan digelar pada 21 Maret pukul 19.00 WIB, menjadi bagian penting dalam rangkaian penghormatan sebelum jenazah diberangkatkan ke Kudus.
Perjalanan selanjutnya membawa jenazah kembali ke kota yang menjadi titik awal perjalanan bisnis keluarga Hartono. Di Kudus, jenazah akan disemayamkan di GOR Jati hingga 25 Maret 2026. Misa malam dijadwalkan berlangsung pada 24 Maret, sebelum prosesi pelepasan dan pemakaman di Godo, Rembang, pada 25 Maret.
Rangkaian ini mencerminkan perjalanan simbolik dari pusat aktivitas bisnis nasional kembali ke akar historis keluarga.
Profil Singkat Bambang Hartono
Kepergian Bambang Hartono pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura, menandai berakhirnya satu generasi pelaku usaha yang membentuk struktur konglomerasi modern di Indonesia.
Lahir di Kudus pada 2 Oktober 1939 dengan nama Oei Hwie Siang, ia tumbuh dalam lingkungan usaha keluarga yang kemudian berkembang menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Tanah Air.
Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, Bambang Hartono melanjutkan usaha rokok warisan ayahnya, Oei Wie Gwan. Perusahaan tersebut sempat mengalami kebakaran besar sebelum akhirnya dibangun kembali dan berkembang pesat.
Pada dekade berikutnya, Djarum tidak hanya memperkuat pasar domestik tetapi juga memperluas distribusi hingga ke pasar internasional.
Transformasi bisnis kemudian bergerak melampaui sektor tembakau. Grup Djarum mengembangkan portofolio usaha ke berbagai sektor strategis, termasuk perbankan melalui kepemilikan di Bank Central Asia (BCA), elektronik melalui Polytron, agribisnis, hingga platform digital seperti Blibli dan Tiket.com.
Diversifikasi ini membentuk struktur bisnis yang terintegrasi lintas sektor, dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Di luar dunia bisnis, Bambang Hartono juga dikenal sebagai atlet bridge yang aktif membawa nama Indonesia di kancah internasional. Ia mencatatkan prestasi di berbagai kejuaraan dunia serta Asian Games 2018, menunjukkan keterlibatan yang tidak terbatas pada aktivitas korporasi.
Pengalihan Tongkat Estafet
Dalam struktur keluarga, tongkat estafet kini berada di tangan generasi ketiga. Empat anak Bambang Hartono, yakni Stefanus Hartono, Vanessa Hartono, Tessa Natalia Damayanti Hartono, dan Roberto Hartono, menjadi bagian dari lapisan penerus yang berjalan berdampingan dengan generasi berikutnya dari Budi Hartono, yaitu Victor, Martin, dan Armand Hartono.
Kehadiran generasi ini mencerminkan keberlanjutan struktur kepemilikan dan pengelolaan dalam Grup Djarum. Nama Victor Hartono sempat menjadi sorotan dalam dinamika hukum yang berkembang, sebelum kemudian pencekalan yang dikenakan kepadanya dicabut oleh Kejaksaan Agung.
Dalam konteks yang lebih luas, kepergian Bambang Hartono tidak hanya menjadi peristiwa keluarga, tetapi juga menandai pergeseran dalam lanskap kepemimpinan salah satu grup usaha terbesar di Indonesia.
Struktur bisnis yang telah terbentuk selama beberapa dekade kini sepenuhnya berada di tangan generasi penerus, seiring berakhirnya perjalanan salah satu tokoh sentral dalam sejarah korporasi nasional.(*)