Logo
>

Bank Dunia Genjot Negara Kecil, Fokus Lapangan Kerja Jadi Kunci Bertahan

Bank Dunia dorong negara kecil fokus pada penciptaan lapangan kerja untuk menghadapi guncangan ekonomi dan memperkuat ketahanan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bank Dunia Genjot Negara Kecil, Fokus Lapangan Kerja Jadi Kunci Bertahan
Bank Dunia dorong negara kecil fokus ciptakan lapangan kerja untuk hadapi krisis ekonomi dan perkuat ketahanan jangka panjang. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Bank Dunia mulai mengubah pendekatan dalam membantu negara-negara kecil yang selama ini rentan terhadap guncangan ekonomi global. Fokusnya kini diarahkan pada penciptaan lapangan kerja sebagai fondasi utama ketahanan ekonomi.

Strategi baru ini diperkenalkan dalam pertemuan terbatas yang dihadiri para menteri dan gubernur bank sentral dari sekitar 50 negara kecil, di sela pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyebut pendekatan ini tidak lagi seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara yang memiliki karakteristik berbeda.

“Ini bukan pendekatan satu untuk semua. Negara kecil itu beragam, dan dukungan kami akan mencerminkan hal itu,” ujar Banga, dikutip dari Reuters, 19 April 2026.

Menurutnya, negara kecil menghadapi tantangan khas seperti keterisolasian, ekonomi yang sempit, serta kerentanan tinggi terhadap krisis, mulai dari lonjakan harga energi hingga penurunan sektor pariwisata. Dalam kondisi seperti itu, guncangan kecil saja bisa berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat.

“Bagi usaha kecil, satu badai, lonjakan harga bahan bakar impor, atau penurunan pariwisata bisa menghapus investasi dan pendapatan dalam hitungan hari.”

Melalui strategi ini, Bank Dunia mendorong penggunaan instrumen yang lebih fleksibel untuk menarik investasi swasta, memperbaiki regulasi bisnis, serta memperkuat sektor-sektor yang dinilai paling potensial menciptakan lapangan kerja. Fokus diarahkan pada sektor kesehatan, energi terjangkau, infrastruktur tangguh, serta usaha mikro dan kecil.

Langkah ini juga didukung dengan peningkatan komitmen pendanaan. Sepanjang tahun lalu, Bank Dunia mencatat penyaluran dukungan hingga USD3,3 miliar (Rp55,77 triliun) untuk negara-negara kecil.

Namun, biaya pembangunan di negara kecil juga jauh lebih tinggi. Banga mengungkapkan bahwa biaya operasional bisa mencapai empat kali lipat dibanding negara besar, sehingga diperlukan pendekatan pembiayaan yang lebih efisien dan adaptif.

Untuk itu, Bank Dunia mulai memperluas kemitraan dengan lembaga keuangan global lainnya. Salah satu contoh proyek yang sudah berjalan adalah pengembangan ketahanan perkotaan di Tonga yang dibiayai bersama Bank Pembangunan Asia.

Selain itu, penguatan sektor energi juga menjadi perhatian. Di Botswana, misalnya, Bank Dunia melalui International Finance Corporation turut mendukung proyek pembangkit listrik tenaga surya skala besar, termasuk pengembangan sistem penyimpanan energi.

“Ini bukan hanya soal membangun pembangkit listrik tenaga surya, tetapi juga menciptakan model yang dapat direplikasi untuk membuka akses pembiayaan swasta dan menciptakan lapangan kerja,” katanya.

Melalui pendekatan baru ini, Bank Dunia ingin memastikan bahwa negara kecil tidak hanya bertahan dari guncangan global, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat melalui penciptaan kerja yang berkelanjutan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).