KABARBURSA.COM – Laporan keuangan kuartal I 2026 PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memang belum memberikan kejutan positif bagi pasar. Laba bersih emiten telekomunikasi pelat merah tersebut turun cukup dalam menjadi Rp4,3 triliun atau merosot 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian itu bahkan hanya setara 19 persen dari estimasi laba bersih TLKM sepanjang 2026 berdasarkan konsensus analis. Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2025 kontribusi laba terhadap realisasi setahun penuh masih mencapai 31 persen.
Namun, di balik angka laba yang mengecewakan tersebut, sejumlah analis justru melihat fondasi bisnis Telkom masih relatif terjaga. Pertumbuhan pendapatan tetap bergerak positif, kualitas pelanggan membaik, dan peluang monetisasi aset infrastruktur dinilai masih menyimpan potensi besar untuk mendorong kinerja perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Stockbit Sekuritas menilai TLKM masih berpeluang memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan manajemen untuk tahun ini.
“Secara keseluruhan, berdasarkan kinerja 1Q26 ini, kami menilai TLKM masih dapat mencapai guidance 2026 yang ditetapkan manajemen, didukung oleh berlanjutnya ekspansi ARPU, perbaikan kualitas pelanggan, serta perlambatan pertumbuhan beban pada kuartal-kuartal mendatang,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya yang dilihat Rabu, 3 Juni 2026.
Jika dicermati lebih dalam, penyebab utama penurunan laba bukan berasal dari pelemahan pendapatan, melainkan dari meningkatnya tekanan biaya operasional. Laba bersih ternormalisasi TLKM pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp5,1 triliun atau turun 3,7 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, margin EBITDA terkontraksi menjadi 48,3 persen dibandingkan 49,8 persen pada kuartal I 2025.
Penyusutan margin tersebut terjadi seiring meningkatnya beban operasi, pemeliharaan, dan telekomunikasi yang naik 15 persen secara tahunan. Kenaikan biaya ini berkaitan dengan bertambahnya aktivitas operasional jaringan telekomunikasi, biaya leased line, serta meningkatnya biaya layanan digital yang tumbuh sejalan dengan pendapatan perusahaan.
Meski demikian, manajemen TLKM memperkirakan tekanan biaya tersebut akan mulai melandai pada kuartal-kuartal berikutnya. Dari sisi pendapatan, perusahaan masih bergerak sesuai target. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan TLKM tumbuh sekitar 2 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang target pertumbuhan tahunan sebesar 1 persen hingga 3 persen.
Selain itu, rasio belanja modal terhadap pendapatan atau capex-to-revenue ratio berada di level 13,2 persen, lebih rendah dibandingkan panduan manajemen sebesar 17 persen hingga 19 persen.
Pelanggan Berkurang, Nilai Pelanggan Naik
Salah satu dinamika menarik dalam laporan kuartal pertama TLKM terlihat pada bisnis seluler Telkomsel. Jumlah pelanggan Telkomsel kembali menurun menjadi 153,7 juta pelanggan. Angka tersebut turun 3,2 persen dibandingkan tahun lalu dan turun 1,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sekilas, tren ini terlihat negatif bagi perusahaan telekomunikasi yang selama bertahun-tahun identik dengan pertumbuhan basis pelanggan. Namun, di saat jumlah pelanggan berkurang, rata-rata pendapatan per pelanggan atau Average Revenue Per User (ARPU) justru meningkat.
ARPU Telkomsel mencapai Rp45.100 pada kuartal I 2026, naik 6,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut mencerminkan perubahan strategi yang kini dijalankan perusahaan.
Alih-alih mengejar jumlah pelanggan sebanyak mungkin, Telkomsel mulai fokus pada pelanggan yang lebih aktif dan memiliki tingkat konsumsi layanan yang lebih tinggi.
Manajemen menjelaskan bahwa kualitas basis pelanggan terus membaik, ditandai dengan menurunnya tingkat perpindahan pelanggan (rotational churn) dan meningkatnya loyalitas pengguna. Saat ini lebih dari 90 persen pelanggan Telkomsel tercatat telah menggunakan layanan perusahaan selama lebih dari 12 bulan.
Menariknya lagi, manajemen mengungkapkan bahwa ARPU pada akhir kuartal sebenarnya telah mencapai sekitar Rp47 ribu. Hal tersebut memberi sinyal bahwa ruang pertumbuhan pendapatan per pelanggan masih terbuka sepanjang 2026.
Ke depan, perusahaan tetap mengandalkan strategi harga yang disiplin sembari memperkaya nilai tambah layanan digital yang ditawarkan kepada pelanggan.
Menunggu Hasil Monetisasi Aset
Di luar bisnis inti telekomunikasi, perhatian investor kini mulai tertuju pada agenda restrukturisasi dan monetisasi aset yang tengah dijalankan TLKM. Perseroan telah menyelesaikan divestasi dua bisnis kesehatan, yakni Admedika dan Telkomedika. Selain itu, manajemen menargetkan sekitar sembilan hingga sepuluh unit bisnis akan menjalani proses streamlining sebelum akhir semester pertama tahun ini.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus membuka nilai tersembunyi dari sejumlah aset noninti. Pada saat yang sama, TLKM juga terus melanjutkan proses value unlocking pada bisnis fiber dan data center.
Untuk bisnis fiber melalui Infranexia, perusahaan menargetkan penyelesaian fase kedua pada kuartal III 2026. Jadwal ini sedikit mundur dari rencana awal akibat proses pembersihan aset, perizinan, dan kesiapan operasional.
Sementara pada bisnis data center, perusahaan telah memasuki tahap lanjutan dengan satu hingga dua kandidat investor strategis yang sedang menjalani proses seleksi akhir. Transaksi tersebut ditargetkan rampung tahun ini, dengan TLKM tetap mempertahankan status sebagai pemegang kendali.
Bagi pasar, langkah ini menjadi salah satu katalis yang paling ditunggu. Sebab, aset digital seperti pusat data dan infrastruktur fiber umumnya memperoleh valuasi lebih tinggi dibandingkan bisnis telekomunikasi tradisional. Stockbit juga menyoroti potensi monetisasi yang masih besar pada segmen infrastruktur B2B milik TLKM.
Menurut mereka, sekitar Rp13,9 triliun atau setara 37 persen pendapatan konsolidasi kuartal I 2026 masih berasal dari transaksi antarsegmen internal. Artinya, masih terdapat ruang yang cukup luas bagi perusahaan untuk meningkatkan nilai ekonomi aset tersebut melalui kerja sama eksternal maupun masuknya investor strategis.
Selain perkembangan bisnis data center dan fiber, investor kini juga menunggu hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Juni 2026. Dalam paparan kinerja kuartal pertama, manajemen mengindikasikan adanya peluang pembagian dividen pada tingkat yang tetap menarik bagi pemegang saham.
Bagi investor jangka panjang, kombinasi antara dividen, monetisasi aset digital, dan transformasi model bisnis berpotensi menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan pelemahan laba dalam satu kuartal.
Karena itu, meski laba TLKM pada awal tahun terlihat kurang menggembirakan, fokus pasar tampaknya mulai bergeser. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar berapa banyak pelanggan yang dimiliki Telkom, melainkan seberapa besar nilai yang mampu diciptakan perusahaan dari aset digital dan infrastruktur yang selama ini mereka bangun. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.