Logo
>

Batu Bara Menguat ke USD116 per Ton, Importir Asia Berebut Pasokan

Harga batu bara Newcastle naik ke USD116,10 per ton dipicu kekhawatiran pasokan Indonesia dan ekspektasi penurunan impor Asia.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Batu Bara Menguat ke USD116 per Ton, Importir Asia Berebut Pasokan
Ilustrasi kenaikan harga batu bara global. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Harga batu bara acuan global menguat setelah pelaku pasar kembali mencermati risiko pasokan dari Indonesia yang menjadi salah satu eksportir utama batu bara termal dunia.

Data pasar yang dirangkum Trading Economics menunjukkan, kontrak batu bara yang melacak benchmark Newcastle ditutup di level USD116,10 per ton pada 12 Februari 2026. Harga tersebut naik sekitar USD1,20 atau 1,04 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Pergerakan ini mencerminkan penguatan harian seiring perhatian pasar terhadap perkembangan suplai di kawasan Asia.

Sementara itu, data perdagangan yang ditampilkan Investing.com menunjukkan harga kontrak Newcastle futures sempat bergerak di kisaran USD114,50 per ton.

Jumlah ini lebih rendah dibanding harga penutupan sebelumnya. Hal ini menandakan adanya fluktuasi intraday meskipun tren harian masih mencerminkan penguatan.

Penguatan harga tersebut tidak terlepas dari perhatian pasar terhadap kondisi pasokan dari Indonesia, yang selama ini menjadi pemasok utama batu bara bagi sejumlah negara importir besar di Asia, terutama China, Jepang, dan Korea Selatan.

Laporan kantor berita Reuters menyebutkan bahwa pelaku pasar menimbang ekspektasi penurunan impor batu bara dari Indonesia ke China. Ekspektasi tersebut muncul usai muncul isu terkait penyesuaian kuota produksi dan kebijakan ekspor yang berpotensi memengaruhi arus perdagangan regional.

Dalam laporan yang sama, pelaku industri Indonesia mengakui bahwa produksi dan pengapalan belum sepenuhnya kembali normal sambil menunggu kepastian kebijakan pemerintah terkait kuota produksi.

Ketua asosiasi pertambangan batu bara Indonesia, APBI/ICMA, Kristiono, mengatakan, produksi masih berlangsung namun belum berjalan penuh.

“Produksi masih berjalan, tetapi belum pada kapasitas penuh, dan pengiriman batu bara akan dibatasi sampai ada keputusan final mengenai kuota pemerintah,” ujar H. Kristiono seperti dilansir Reuters beberapa waktu lalu.

Keterbatasan pengapalan tersebut kemudian memicu kenaikan premi harga di pasar regional karena sejumlah importir mulai berebut suplai alternatif. Reuters juga mengutip komentar pelaku pasar yang menyebut dampak gangguan pasokan Indonesia sudah terasa di kawasan Asia.

“Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong kenaikan premi batu bara lainnya. Penawaran dari Jepang, China, dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang stabil,” ujar seorang trader dari perusahaan utilitas besar Asia, dikutip Reuters.

Sementara itu, media komoditas internasional juga mencatat bahwa ketidakpastian kebijakan produksi membuat sebagian produsen menahan penawaran di pasar spot, yang pada akhirnya ikut memengaruhi keseimbangan pasokan regional.

Kondisi ini membuat pelaku pasar global kini tidak hanya memantau data produksi dan ekspor, tetapi juga perkembangan kebijakan produksi Indonesia yang dinilai dapat memengaruhi arah perdagangan batu bara global dalam jangka pendek.

Hal ini berlaku, terutama bagi negara-negara Asia yang masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama pembangkit listrik mereka.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.