KABARBURSA.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa tabung Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram (kg) di masa depan tidak akan menggunakan material logam konvensional, melainkan langsung mengadopsi teknologi tabung paling mutakhir (advance) berbahan serat komposit penuh atau full fiber.
Langkah ini menjadi pembeda mendasar dengan tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg atau 'gas melon' yang jamak beredar di dapur masyarakat saat ini, yang seluruhnya masih mengandalkan material logam penuh.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pilihan menggunakan teknologi full fiber ini merupakan jawaban atas tingginya tekanan kompresi gas pada CNG. Logika sederhananya, CNG memerlukan wadah yang jauh lebih kuat karena karakteristik volumenya yang dipadatkan secara ekstrem.
"Maka kita berpikir gimana nih cara mengantarkan gas ini ke konsumen? Salah satu caranya, gas tersebut kita manfaatkan dikompres. Nah, kalau secara sederhananya itu dari jeruk kita kompres jadi kelereng. Jadi jeruk-jeruk yang besar-besar tadi dikecil-kecilin biar bisa diantarkan melalui tabung. Tapi memang tekanannya tinggi ya karena kan ditekan," kata Laode dalam sesi podcast Kementerian ESDM, dikutip Rabu 20 Mei 2026.
Tak main-main, Laode membeberkan bahwa tekanan di dalam tabung CNG berkisar antara 200 hingga 250 bar. Angka ini melonjak sangat jauh jika dibandingkan dengan tekanan tabung LPG biasa yang hanya berkisar di level 8 hingga 10 bar.
"Tekanan tinggi ini artinya dia bisa mendorong keluar begitu ya. Kalau wadahnya kurang kuat, dia keluar lagi. Yang kita pakai sekarang memang tekanannya sudah segitu, sudah 250 bar di dalam tabungnya," tambahnya.
Guna meredam kekhawatiran publik mengenai aspek keselamatan pada gas bertekanan tinggi tersebut, pemerintah menyiapkan infrastruktur wadah CNG dari klaster teknologi tertinggi, yaitu Tipe 4.
Laode memaparkan, secara umum ada empat klasifikasi teknologi tabung yang berkembang di dunia industri saat ini.
Tipe 1 merupakan tabung konvensional yang komposisinya 100 persen terbuat dari logam bumi. Beranjak ke Tipe 2 dan Tipe 3, materialnya mulai menggunakan campuran atau dilapisi oleh pelindung berbahan serat (fiber) sehingga bobotnya menjadi lebih ringan namun jauh lebih kuat.
"Nah, Tipe 4 sudah sama sekali fiber, sangat ringan dan sangat kuat, tetapi sangat mahal. Jadi makin ke tipe nambah itu dia makin mahal, makin advance teknologinya," urai Laode secara rinci.
Perbedaan kelas teknologi inilah yang membuat tabung CNG masa depan bernasib sangat kontras dengan tabung gas melon hari ini.
"Kalau LPG enggak, dia tabungnya kan beda, dia C3 C4. Ini yang saya bilang Tipe 1 sampai Tipe 4 ini hanya untuk CNG. Ketika sekarang Pak Menteri mencanangkan CNG ini, memang kita sudah sampai pada teknologi Tipe 4. Rencananya untuk menyimpan nanti CNG yang akan dibikin sebagai substitusi LPG 3 kilo menggunakan yang Tipe 4," tegas Laode.
Sementara itu, untuk tabung gas melon 3 kg yang saat ini beredar di pasar domestik, Laode mengonfirmasi materialnya tetap menggunakan bahan dasar besi baja utuh.
"Logam full, kalau itu logam. Dan harganya juga enggak setinggi tabungnya CNG," imbuhnya.
Meski teknologi Tipe 4 ini terdengar awam bagi konsumen rumah tangga, Laode meluruskan bahwa pemanfaatan gas berbasis CNG sejatinya sudah lama mengakar di ekosistem ekonomi nasional, khususnya untuk sektor transportasi domestik dan dunia usaha menengah ke atas.
"Sebenarnya CNG ini bukan hal baru. Jadi risetnya sudah banyak. Untuk saat ini, CNG sudah digunakan sebenarnya untuk di bahan bakar di kendaraan, kemudian di Horeka (Hotel, Restoran, Kafe), dan industri besar ya," papar Laode.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara blak-blakan mengenai kondisi ironis sektor energi nasional, di mana Indonesia masih terjebak dalam ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Oleh karena itu muncul misi besar untuk memangkas ketergantungan impor energi dengan melakukan uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah strategis ini diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara hingga Rp130 triliun.
Tidak hanya memperkuat ketahanan energi, transisi ini juga dibidik untuk menekan beban subsidi energi dalam APBN.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim bahwa secara ekonomi, CNG jauh lebih kompetitif dengan harga yang diperkirakan 30 persen lebih murah dibandingkan LPG.
Adapun keunggulan utama CNG terletak pada ketersediaan sumber daya dan infrastruktur yang sepenuhnya berbasis di dalam negeri. Hal ini menghilangkan komponen biaya impor yang selama ini membebani neraca perdagangan.
"Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan import," jelas Bahlil dalam pernyataan resminya, Rabu 6 Mei 2026.
Bahlil menambahkan bahwa distribusi CNG akan jauh lebih efisien karena titik sumber gas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sehingga mampu memangkas biaya logistik secara signifikan.(*)