KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) menyebut penguatan literasi keuangan menjadi kunci agar peningkatan inklusi keuangan dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 92,74 persen. Namun, capaian ini perlu diimbangi dari sisi literasi keuangan, yang saat ini masih tercatat 66,46 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI terus mendorong inklusi dan literasi keuangan. Berbagai inovasi, seperti QRIS, BI-FAST, dan SNAP, telah memperluas integrasi masyarakat dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ke dalam ekosistem keuangan digital.
Saat ini, kata dia, QRIS telah digunakan masif oleh 59,98 juta pengguna, dengan 50 juta pengguna diantaranya adalah UMKM. Menurutnya akselerasi digitalisasi sistem pembayaran perlu diimbangi dengan penguatan literasi keuangan, khususnya keuangan digital.
"Insiatif yang diluncurkan pada hari ini menandai langkah bersama untuk mendorong inklusi dan literasi keuangan yang lebih berkualitas dan berdampak, dengan memperkuat ketahanan dan kemapanan keuangan, keberlanjutan usaha, serta kesejahteraan masyarakat", ujar dia dalam keterangannya dikutip, Minggu, 8 Maret 2026.
Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan sinergi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Asta Cita khususnya dalam mendorong UMKM dan kewirausahaan, menciptakan lapangan kerja berkualitas, pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.
"Karena itu, Pemerintah terus mendorong transformasi kebijakan dari pendekatan yang berfokus pada perluasan inklusi keuangan menuju kerangka kesejahteraan keuangan," ungkapnya. (*)