KABARBURSA.COM - Aktivitas perdagangan ritel di Tanah Air kembali menunjukkan gairah. Bank Indonesia (BI) melaporkan, kinerja sektor penjualan eceran sepanjang Oktober 2025 terus menanjak. Tanda daya beli masyarakat tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi.
Laporan tersebut memperlihatkan pertumbuhan tahunan yang solid, memperkuat keyakinan bahwa konsumsi domestik masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia. BI merilis data Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menjadi cerminan aktivitas konsumsi masyarakat. IPR September tercatat di level 218,3 — meningkat 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui capaian Agustus yang tumbuh 3,5 persen yoy.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh penguatan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, serta Tembakau. Sektor Barang Budaya dan Rekreasi juga menjadi pendorong penting dalam menjaga momentum ekspansi ritel nasional.
Namun, dari sisi bulanan (month-to-month/mtm), kinerja penjualan September justru mengalami kontraksi 2,4 persen. Pelemahan itu dipicu oleh turunnya permintaan pada Subkelompok Sandang, yang menjadi beban bagi laju penjualan ritel secara keseluruhan.
Untuk bulan Oktober, BI memperkirakan IPR akan menanjak ke posisi 219,7. Pertumbuhan diperkirakan mencapai 4,3 persen yoy — lebih tinggi dibandingkan peningkatan bulan sebelumnya sebesar 3,7 persen yoy.
Kinerja positif tersebut sebagian besar bersumber dari lonjakan penjualan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta sektor Barang Budaya, Rekreasi, dan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Permintaan yang mulai menguat di penghujung tahun menjadi motor penggerak utama.
Secara bulanan, penjualan eceran Oktober diprakirakan tumbuh 0,6 persen mtm. Lonjakan konsumsi ini didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat dalam rangka persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal, yang lazimnya membawa gelombang permintaan baru di berbagai sektor konsumsi.
Dari sisi harga, tekanan inflasi diperkirakan meningkat dalam tiga hingga enam bulan mendatang, khususnya pada Desember 2025 dan Maret 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) menunjukkan kenaikan signifikan ke level 157,2 dan 172,5 — lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di 134,6 dan 169,2. Tren ini selaras dengan meningkatnya permintaan menjelang perayaan HBKN Natal 2025 dan Idulfitri 2026, yang kerap menjadi puncak perputaran konsumsi masyarakat.(*)