KABARBURSA.COM — ChatGPT selama ini dikenal sebagai tempat orang bertanya macam-macam. Dari soal skripsi, curhat tengah malam, sampai minta saran hidup. Gratis pula. Tapi cerita itu sebentar lagi bakal berubah.
OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, mulai terang-terangan bicara soal iklan. Bukan sekadar wacana, perusahaan kecerdasan buatan yang bermarkas di San Francisco itu mengakui sedang menyiapkan iklan untuk pengguna ChatGPT yang tidak membayar versi premium.
Belum tayang sekarang, kata mereka. Tapi uji coba bakal dimulai dalam beberapa minggu ke depan. Pelan-pelan, seperti air naik ke gelas, tanpa banyak bunyi.
Langkah ini jadi sinyal paling jelas bahwa ChatGPT yang dipakai ratusan juta orang itu tidak bisa terus hidup dari kebaikan niat saja. OpenAI menyebut pengguna ChatGPT kini sudah lebih dari 800 juta orang. Sebagian besar menikmati layanan itu tanpa bayar sepeser pun.
Masalahnya, mesin kecerdasan buatan tidak hidup dari udara. Ia makan listrik, chip, dan pusat data yang biayanya bukan main. Meski valuasi OpenAI disebut mencapai USD500 miliar, kenyataannya perusahaan ini masih lebih banyak membakar uang ketimbang mencetak untung. Karena itulah iklan mulai dilirik. Bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan.
Di tengah kekhawatiran itu, OpenAI buru-buru pasang pagar. Mereka ingin meyakinkan pengguna bahwa iklan tidak akan ikut campur dalam jawaban ChatGPT.
“Yang paling penting, iklan tidak akan memengaruhi jawaban yang diberikan ChatGPT kepada Anda,” kata CEO aplikasi OpenAI, Fidji Simo, dikutip dari AP, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut OpenAI, iklan digital nanti akan muncul di bagian bawah jawaban ChatGPT. Itu pun hanya ketika ada produk atau layanan sponsor yang relevan dengan percakapan yang sedang berlangsung. Mereka menegaskan iklan akan diberi label jelas dan dipisahkan dari jawaban utama.
Janji ini terdengar manis. Tapi bagi banyak orang, tetap menyisakan tanda tanya.
Model bisnis berbasis iklan bukan barang baru di dunia teknologi. Google dan Meta sudah lama berjaya di sana. Bahkan keduanya sudah lebih dulu menyelipkan iklan ke dalam fitur kecerdasan buatan mereka. Bedanya, ChatGPT selama ini berdiri sebagai ruang dialog yang terasa lebih personal, lebih intim, dan bagi sebagian orang, lebih dipercaya.
OpenAI sendiri bukan lahir sebagai perusahaan iklan. Awalnya, ia didirikan sebagai organisasi nirlaba dengan misi membangun kecerdasan buatan yang aman dan bermanfaat bagi umat manusia. Namun tahun lalu, struktur itu berubah. OpenAI beralih menjadi perusahaan publik berbentuk public benefit corporation, sebuah entitas bisnis yang tetap mengklaim membawa misi sosial.
Perusahaan ini mengatakan upaya mencari uang lewat iklan akan selalu mendukung misi awal mereka agar teknologi AI tetap memberi manfaat bagi manusia. Namun tidak semua pihak ikut tenang.
Memasukkan iklan yang dipersonalisasi ke dalam chatbot dinilai membuka jalan berbahaya, jalur yang sebelumnya sudah ditempuh media sosial. Miranda Bogen dari Center for Democracy and Technology mengingatkan soal risiko ini.
“Orang menggunakan chatbot untuk berbagai alasan, termasuk sebagai teman dan penasihat,” kata Bogen, Direktur AI Governance Lab di CDT. “Ada banyak hal yang dipertaruhkan ketika alat itu mencoba mengeksploitasi kepercayaan pengguna untuk menjajakan barang para pengiklan.”
Kekhawatiran ini bukan isapan jempol. Chatbot bukan sekadar mesin pencari. Ia hadir dalam percakapan yang sering kali personal, emosional, bahkan rapuh. Di situlah kepercayaan pengguna terbangun, dan di situlah pula potensi benturan kepentingan mengintai.
Di sisi lain, OpenAI memang butuh uang. Langganan berbayar membantu, tapi belum cukup. Perusahaan ini harus menanggung kewajiban finansial lebih dari USD1 triliun untuk membayar chip dan pusat data yang menjadi tulang punggung layanan AI mereka.
Ketakutan bahwa OpenAI tidak sanggup memenuhi ekspektasi para pendukung besar seperti Oracle dan Nvidia ikut memperbesar kecemasan investor soal potensi gelembung AI.
CEO OpenAI, Sam Altman, mengakui realitas itu secara terbuka. “Jelas bagi kami bahwa banyak orang ingin menggunakan AI dan tidak ingin membayar,” kata Altman dalam unggahan di platform X. “Kami berharap model bisnis seperti ini bisa berjalan.”
Ia bahkan mengaku tidak keberatan dengan iklan. Altman mengatakan dirinya menyukai iklan di Instagram milik Meta karena sering memperlihatkan hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Namun persoalan terbesar bukan sekadar soal suka atau tidak suka. Ini soal data dan waktu.
OpenAI mengklaim tidak akan menggunakan informasi pribadi pengguna atau isi percakapan untuk mengumpulkan data iklan. Tapi janji semacam itu, bagi sebagian pengamat, terdengar rapuh.
Pertanyaannya bukan apakah itu benar sekarang, melainkan sampai kapan komitmen itu bertahan. “Layanan gratis sebenarnya tidak pernah benar-benar gratis dan platform AI publik ini perlu menghasilkan pendapatan,” kata Paddy Harrington, analis dari lembaga riset Forrester. “Dan itu membawa kita pada pepatah lama, jika layanannya gratis, maka Anda adalah produknya.”
ChatGPT mungkin masih menjawab dengan nada netral dan sopan. Tapi ketika iklan mulai ikut duduk di meja percakapan, hubungan antara mesin dan penggunanya tak lagi sesederhana tanya dan jawab.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.