KABARBURSA.COM – Memasuki 2026, ekonomi global belum benar-benar keluar dari bayang-bayang perlambatan. Laporan UN Trade and Development atau UNCTAD yang dirilis pada Desember 2025 memberi gambaran jelas bahwa tekanan finansial dan ketidakpastian geopolitik sepanjang 2025 meninggalkan jejak panjang bagi perdagangan dan investasi global.
Dalam laporan Trade and Development Report 2025 On the Brink Trade, finance and the reshaping of the global economy, UNCTAD mencatat pertumbuhan ekonomi dunia melambat ke 2,6 persen pada 2025, turun dari 2,9 persen pada 2024. Perlambatan ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan global, volatilitas nilai tukar, serta tensi geopolitik yang terus mengganggu arus perdagangan dan investasi lintas negara.
UNCTAD menilai, perdagangan global tak lagi semata soal pergerakan barang. Dinamika keuangan kini ikut menentukan arah dan nasib perdagangan dunia, bahkan hampir sekuat aktivitas ekonomi riil itu sendiri. Dengan kata lain, arus kontainer di pelabuhan ekpsor-impor kini bergerak seiring denyut pasar keuangan, suku bunga, dan sentimen investor, bukan hanya ditentukan oleh permintaan barang dan kapasitas produksi.
Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan menegaskan keterkaitan tersebut makin sulit dipisahkan. “Perdagangan bukan hanya rantai pemasok. Ia juga merupakan rangkaian jalur kredit, sistem pembayaran, pasar mata uang, dan arus modal,” kata Grynspan, dikutip dari laman UNCTAD, Sabtu, 17 Januari 2026.
Sepanjang awal 2025, perdagangan global sempat tumbuh sekitar 4 persen. Kenaikan ini didorong oleh langkah banyak perusahaan yang mempercepat impor sebelum perubahan tarif berlaku. Namun di balik lonjakan itu, UNCTAD melihat perubahan struktural yang lebih dalam. Sektor jasa tumbuh lebih cepat, ditopang ekonomi digital dan kecerdasan buatan, sementara perdagangan antarnegara berkembang atau South–South trade tumbuh di atas rata-rata global.
Meski begitu, UNCTAD memperkirakan pertumbuhan perdagangan yang sesungguhnya hanya berada di kisaran 2,5 hingga 3 persen, dan cenderung melambat seiring keputusan produksi dan investasi semakin dipengaruhi kondisi keuangan global.
Ketergantungan perdagangan dunia pada sistem keuangan juga kian menebal. UNCTAD mencatat hampir 90 persen perdagangan global bergantung pada pembiayaan perdagangan. Likuiditas dolar dan sistem pembayaran lintas negara menjadi urat nadi aktivitas dagang internasional. Perubahan suku bunga atau sentimen investor di pusat keuangan utama bisa berdampak langsung ke volume perdagangan di berbagai belahan dunia.
Bagi negara berkembang, kondisi ini menjadi tekanan berlapis. Akses terhadap pembiayaan murah terbatas, sehingga gejolak keuangan global kerap menggagalkan transaksi perdagangan yang secara ekonomi sebenarnya layak.
Laporan UNCTAD juga menyoroti pergeseran di pasar komoditas, terutama pangan. Faktor keuangan kini memainkan peran semakin besar. Untuk sejumlah perusahaan perdagangan pangan utama, lebih dari 75 persen pendapatan berasal dari aktivitas keuangan, bukan dari pergerakan fisik barang. Kondisi ini membuat sistem pangan global lebih sensitif terhadap gejolak pasar keuangan.
Tekanan Berat Negara Berkembang pada 2026
UNCTAD memperkirakan ekonomi negara berkembang tumbuh 4,3 persen, lebih cepat dibanding negara maju. Namun laju tersebut dibayangi biaya pembiayaan yang tinggi, risiko arus modal yang mudah berbalik arah, serta meningkatnya risiko keuangan akibat perubahan iklim.
Negara-negara di kawasan global Selatan kini menyumbang lebih dari 40 persen output dunia, hampir separuh perdagangan barang global, dan lebih dari setengah arus investasi internasional. Namun peran mereka di pasar keuangan global masih timpang. Di luar China, negara berkembang hanya menguasai sekitar 12 persen nilai pasar saham global dan sekitar 6 persen penerbitan obligasi dunia.
Pasar keuangan domestik yang dangkal memaksa banyak negara berkembang bergantung pada pinjaman eksternal dengan bunga tinggi. Suku bunga pinjaman di kisaran 7 hingga 11 persen menjadi hal lazim, jauh di atas negara maju yang hanya 1 hingga 4 persen. UNCTAD menilai kondisi ini lebih mencerminkan masalah struktural arsitektur keuangan global ketimbang fundamental ekonomi negara peminjam.
Risiko iklim memperberat tekanan tersebut. Negara yang sering terdampak cuaca ekstrem kini diperkirakan membayar tambahan bunga sekitar USD20 miliar per tahun karena dianggap lebih berisiko oleh pemberi pinjaman. Sejak 2006, premi risiko ini telah menggerus sekitar USD212 miliar, dana yang sejatinya bisa digunakan untuk investasi sosial atau adaptasi iklim.
Meski ada upaya diversifikasi cadangan devisa, dolar AS tetap menjadi jangkar utama sistem keuangan global. Pangsa dolar dalam pembayaran internasional melalui SWIFT naik dari 39 persen menjadi sekitar 50 persen dalam lima tahun terakhir. Amerika Serikat juga menguasai sekitar setengah nilai pasar saham global dan 40 persen penerbitan obligasi dunia.
Dominasi ini memang memberi stabilitas di masa ketidakpastian, namun sekaligus mengikat negara berkembang pada siklus keuangan yang berada di luar kendali mereka.
Agenda Reformasi untuk Menahan Risiko 2026
Menghadapi tantangan tersebut, UNCTAD menyerukan serangkaian reformasi untuk mengurangi kerentanan keuangan dan memperkuat keterkaitan antara perdagangan, keuangan, dan pembangunan. Mulai dari perbaikan sistem penyelesaian sengketa perdagangan multilateral, pembaruan aturan perdagangan untuk ekonomi digital dan aksi iklim, hingga reformasi sistem moneter internasional guna meredam gejolak mata uang dan arus modal.
Grynspan menekankan stabilitas jangka panjang hanya bisa dicapai jika perdagangan dan keuangan dipahami sebagai satu kesatuan. “Apa yang dibutuhkan untuk ketahanan yang sesungguhnya. Kerangka kebijakan yang terintegrasi yang mengakui keterkaitan antara perdagangan, keuangan, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Pada dasarnya, kita tidak bisa memahami perdagangan secara terpisah dari keuangan.”
Bagi 2026, pesan UNCTAD jelas. Perlambatan 2025 bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan peringatan bahwa tanpa pembenahan sistemik, ekonomi global berisiko terus berjalan di tepi jurang ketidakpastian.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.