KABARBURSA.COM — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan arah kebijakan moneter ke depan masih membuka ruang penurunan suku bunga, meski keputusan tetap akan bergantung pada perkembangan data ekonomi global dan domestik.
Hal itu disampaikan dalam sesi tanya jawab Rapat Dewan Gubernur (RDG) bersama sejumlah media yang menyoroti kebijakan suku bunga, nilai tukar rupiah, inflasi Ramadan, hingga penyaluran kredit perbankan.
“Ruang penurunan suku bunga itu masih terbuka dengan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu terus didorong. Tapi kondisi global masih penuh ketidakpastian, sehingga kebijakan akan tetap data dependent,” ujar Perry.
Untuk saat ini, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tetap kuat. Optimisme tersebut didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Imlek dan Idulfitri, stimulus moneter dan fiskal, serta realisasi program pemerintah.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, sinergi kebijakan antara bank sentral dan Kementerian Keuangan menjadi faktor penting menjaga momentum ekonomi. Koordinasi difokuskan pada penyediaan likuiditas di pasar keuangan, dukungan pembiayaan sektor riil, serta stabilisasi nilai tukar.
Menjawab pertanyaan media terkait pelemahan rupiah, BI menilai secara fundamental nilai tukar sebenarnya layak lebih kuat. Indikator makro seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan imbal hasil investasi dinilai mendukung penguatan rupiah.
“Tekanan yang terjadi lebih banyak berasal dari faktor teknikal global dan premi risiko jangka pendek. Karena itu kami meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar luar negeri maupun domestik,” jelasnya.
Langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi pasar valas, pengelolaan likuiditas, serta strategi menarik aliran modal asing melalui instrumen moneter dan pembelian surat berharga negara. BI mencatat arus investasi portofolio asing dalam dua bulan terakhir telah mencatat net inflow yang membantu menjaga stabilitas kurs.
Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI menekankan pentingnya mendorong transmisi penurunan suku bunga agar kredit perbankan bisa tumbuh lebih cepat. Upaya tersebut dilakukan lewat insentif likuiditas, koordinasi kebijakan, serta penguatan intermediasi sektor keuangan.
Bank sentral juga memastikan kesiapan distribusi uang tunai menjelang Idulfitri guna mendukung kebutuhan masyarakat serta menjaga kelancaran sistem pembayaran nasional.
Dengan kombinasi kebijakan stabilisasi dan stimulus, BI optimistis perekonomian Indonesia akan tetap solid sepanjang 2026, dengan pertumbuhan yang didukung konsumsi domestik, investasi, serta aliran modal yang tetap terjaga.(*)