Logo
>

Bisnis Apa Saja yang Terdampak dari Perang Iran vs AS-Israel?

Perang Iran melawan AS dan Israel mengguncang bisnis global mulai dari penerbangan, energi, logam industri hingga sektor teknologi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bisnis Apa Saja yang Terdampak dari Perang Iran vs AS-Israel?
Seorang anggota pasukan keamanan dan penyelamatan Israel bekerja di lokasi kejadian di mana rudal balistik yang ditembakkan dari Iran menghantam dan menyebabkan kerusakan di Tel Aviv, Israel, pada pagi hari tanggal 1 Maret 2026. Foto: Xinhua

KABARBURSA.COM — Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai memicu guncangan luas terhadap aktivitas bisnis global. Dampaknya terasa mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok bahan baku penting, hingga munculnya keraguan terhadap keamanan jalur perdagangan internasional yang selama ini menjadi urat nadi distribusi barang, mulai dari pangan hingga komponen otomotif.

Sejumlah sektor industri kini merasakan langsung dampak konflik tersebut. Gangguan paling terasa terjadi pada transportasi udara, perdagangan energi, pasokan bahan baku industri, hingga sektor teknologi dan perbankan.

Kekacauan Penerbangan Global

Perang yang melibatkan Iran memicu kekacauan besar dalam industri penerbangan dunia. Dilansir dari Reuters, Jumat, 13 Maret 2026, puluhan ribu penerbangan terpaksa dibatalkan, dialihkan rutenya, atau dijadwal ulang akibat penutupan sebagian besar wilayah udara Timur Tengah.

Penutupan tersebut juga mencakup wilayah udara Qatar karena ancaman serangan rudal dan drone. Dampak situasi ini membuat industri penerbangan global menghadapi krisis terbesar sejak pandemi Covid-19. Operasional Bandara Internasional Dubai yang merupakan bandara tersibuk dunia untuk penumpang internasional ikut terganggu.

Sebagai akibatnya, bandara-bandara transit utama di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi jalur penting penerbangan jarak jauh ikut mengalami tekanan besar.

Sebagian penumpang yang terjebak di kawasan Teluk bahkan memilih menggunakan jet pribadi untuk meninggalkan wilayah tersebut. Ada pula yang menempuh perjalanan darat berjam-jam melintasi gurun menuju Riyadh Arab Saudi dengan harapan dapat pulang dari sana.

Selain itu, gangguan jalur ekspor minyak juga membuat harga bahan bakar pesawat melonjak tajam. Kenaikan harga avtur ini memicu kenaikan tarif penerbangan sekaligus memunculkan kekhawatiran akan turunnya permintaan perjalanan udara.

Kargo udara yang membutuhkan pengiriman cepat juga ikut terdampak. Pengiriman barang mulai dari produk pangan segar hingga komponen pesawat kini tertahan karena kapasitas angkutan kargo menyusut dan tarif pengiriman melonjak.

Penutupan wilayah udara di kawasan Teluk juga memukul jaringan penerbangan global. Harga tiket penerbangan antara Asia dan Eropa melonjak tajam. Sejumlah maskapai seperti Wizz Air dan Lufthansa terpaksa mengubah rute penerbangan mereka, sementara Ryanair justru mencatat lonjakan permintaan pada penerbangan jarak pendek.

Harga bahan bakar pesawat yang merupakan biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja bahkan melonjak dua kali lipat sejak konflik dimulai. Kondisi ini memaksa maskapai menaikkan harga tiket, mengenakan biaya tambahan bahan bakar, hingga mengurangi kapasitas penerbangan.

Bagi pilot, konflik Iran juga meningkatkan risiko keselamatan penerbangan karena meningkatnya ancaman drone di wilayah udara yang dilalui pesawat.

Maskapai India juga ikut terpukul karena wilayah udara Timur Tengah merupakan koridor utama penerbangan mereka menuju Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi ini makin berat setelah Pakistan sebelumnya menutup wilayah udaranya bagi maskapai India.

Pariwisata Timur Tengah Terancam

Konflik ini juga berpotensi merusak citra Timur Tengah sebagai destinasi wisata mewah dan aman yang selama ini dibangun melalui investasi besar selama bertahun-tahun, terutama di kota-kota seperti Abu Dhabi dan Dubai.

Industri pariwisata kawasan tersebut bernilai sekitar USD367 miliar per tahun atau sekitar Rp6.200 triliun. Gangguan ini juga memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan sistem perjalanan udara global terhadap sejumlah hub utama, terutama Dubai yang menjadi bandara internasional tersibuk di dunia.

Di Dubai dan sejumlah pusat perbelanjaan besar di Timur Tengah, banyak toko bahkan sempat tutup atau beroperasi dengan jumlah karyawan terbatas dalam beberapa hari terakhir.

Industri Pertahanan Meningkat

Konflik Iran juga memicu peningkatan aktivitas industri pertahanan. Amerika Serikat menggunakan berbagai jenis senjata dalam serangan terhadap target Iran, termasuk rudal jelajah Tomahawk, pesawat tempur siluman, serta drone serangan sekali pakai berbiaya rendah yang terinspirasi dari desain Iran.

Pentagon juga memanfaatkan layanan kecerdasan buatan milik perusahaan Anthropic dalam operasi tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan bertemu dengan pimpinan tujuh perusahaan kontraktor pertahanan pada 6 Maret. Pertemuan itu dilakukan saat Pentagon berupaya mengisi kembali persediaan senjata yang berkurang akibat serangan terhadap Iran dan operasi militer lainnya.

Pasokan Logam dan Bahan Baku Terancam

Gangguan juga terjadi pada pasokan logam industri. Pabrik peleburan aluminium di Qatar milik Qatalum mulai menghentikan operasionalnya. Sementara Aluminium Bahrain menghentikan pengiriman logam dan menyatakan keadaan darurat karena tidak dapat mengirim produk melalui Selat Hormuz.

Kawasan Teluk sendiri menyumbang sekitar 8 persen pasokan aluminium global. Akibat kabar tersebut, harga aluminium di London Metal Exchange melonjak tajam. Premi fisik aluminium di Eropa dan Amerika Serikat bahkan naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Produsen nikel di Indonesia juga berpotensi terkena dampak karena sekitar 75 persen kebutuhan sulfur mereka berasal dari Timur Tengah. Jika gangguan pengiriman berlanjut, beberapa produsen mungkin terpaksa mengurangi produksi.

Industri Pangan dan Fashion Ikut Terpukul

Konflik ini juga berdampak pada industri tekstil global. Sejumlah pengiriman pakaian dari Bangladesh dan India dilaporkan tertahan di bandara karena gangguan penerbangan. Padahal kawasan Asia Selatan merupakan pusat produksi pakaian dunia yang memasok berbagai merek fast fashion global.

Sektor barang mewah juga menghadapi tekanan tambahan di tengah pelemahan permintaan global sebelumnya. Perusahaan seperti Richemont dan Zegna disebut menjadi salah satu yang paling terpapar risiko.

Di India, sejumlah restoran dan hotel memperingatkan potensi gangguan operasional bahkan penutupan sementara akibat terganggunya pasokan gas memasak. Pemerintah India bahkan membentuk panel khusus untuk mengevaluasi permintaan industri terkait dampak konflik tersebut.

Gangguan rantai pasok juga memicu kenaikan harga air minum kemasan di India. Beberapa produsen mulai menaikkan harga karena pasokan bahan seperti botol plastik, tutup, label, hingga kardus ikut terganggu.

Harga minyak yang meningkat juga menaikkan biaya produksi polimer yang menjadi bahan utama pembuatan botol plastik.

Risiko Bagi Industri Teknologi

Korea Selatan memperingatkan konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan bahan penting untuk industri semikonduktor, termasuk helium yang digunakan dalam proses produksi chip dan tidak memiliki pengganti yang efektif.

Serangan drone yang merusak beberapa pusat data milik Amazon di Uni Emirat Arab dan Bahrain juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan rantai pasok teknologi serta ekspansi perusahaan teknologi besar di kawasan tersebut.

Bank Tingkatkan Kewaspadaan

Sektor perbankan juga mulai mengambil langkah pencegahan. Citigroup dan Standard Chartered dilaporkan meminta karyawan mereka di Dubai bekerja dari rumah menyusul ancaman Iran terhadap kepentingan perbankan yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.

HSBC bahkan menutup seluruh cabangnya di Qatar untuk sementara waktu demi menjaga keselamatan karyawan dan nasabah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).