Logo
>

BPS: Inflasi Juni 2026 Sebesar 0,44 Persen, Sektor Transportasi Jadi Pemicu Utama

BPS mencatat inflasi Juni 2026 sebesar 0,44% mtm akibat lonjakan tarif angkutan udara dan penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
BPS: Inflasi Juni 2026 Sebesar 0,44 Persen, Sektor Transportasi Jadi Pemicu Utama
Data rilis BPS menunjukkan sektor transportasi menjadi motor utama inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen mtm karena kenaikan bensin dan tiket pesawat. Foto: Tangkapan layar YouTube BPS.

KABARBURSA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi nasional untuk kondisi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Dari seluruh kelompok pengeluaran masyarakat, sektor transportasi mencatatkan kenaikan indeks harga paling signifikan dan menjadi motor utama penggerak inflasi pada periode tersebut.

Lonjakan inflasi ini didorong oleh kombinasi dua faktor utama, yakni kebijakan penyesuaian harga energi domestik dan efek musiman dari siklus liburan.

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Secara tahunan, inflasi berada di level 3,34 persen, sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date/ytd mencapai 1,79 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan kelompok pengeluaran transportasi mengalami inflasi kelompok sebesar 2,29 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan nasional.

"Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan itu terbesar pada transportasi dengan inflasi sebesar 2,29 persen. Kelompok transportasi ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers daring, Rabu, 1 Juli 2026.

Struktur Pendorong di Dalam Sektor Transportasi

Jika dibedah secara struktural, andil inflasi sektor transportasi sebesar 0,28 persen tersebut ditopang oleh tiga komoditas utama:

  • Bensin: Memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen
    Tarif Angkutan Udara: Memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen.
    Pelumas/Oli Mesin: Memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Akar utama dari tingginya andil komoditas bensin dipicu oleh penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi sebanyak dua kali sepanjang bulan berjalan. Fenomena fluktuasi ganda ini memengaruhi ekspektasi harga di tingkat konsumen.

“BBM non-subsidi yang mengalami perubahan harga sebanyak dua kali... Yang pertama, pada tanggal 1 Juni dan juga tanggal 10 Juni tahun 2026," jelas Ateng.

Secara rinci, BPS mencatat pada tanggal 1 Juni terjadi divergensi harga, di mana harga Pertamax Turbo naik, namun harga Dexlite dan Pertamina Dex justru mengalami penurunan. Tekanan inflasi kemudian terakumulasi pada tanggal 10 Juni seiring dengan keputusan kenaikan harga Pertamax, yang memiliki basis volume pengguna lebih luas di sektor transportasi kendaraan pribadi dan logistik ringan.

“Kita tahu bersama pada tanggal 1 Juni tahun 2026 terjadi kenaikan harga pada pertama turbo, tapi juga penurunan harga pada Dexlite dan juga Pertamina Dex. Kemudian, pada tanggal 10 Juni terjadi kenaikan harga pada pertama," kata Ateng.

Selain faktor harga energi domestik, kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi oleh sisi permintaan akibat siklus tahunan libur sekolah. Keterbatasan kapasitas armada transportasi udara berhadapan dengan lonjakan volume penumpang pada periode ini mengerek harga tiket di pasar.

“Sementara itu, kenaikan untuk tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring dengan adanya periode libur sekolah pada bulan Juni ini," kata Ateng.

Data BPS menunjukkan tekanan inflasi transportasi domestik pada Juni 2026 ini bersifat endogen atau dipicu oleh kebijakan domestik, karena pasar komoditas energi dan aset aman (safe haven) internasional justru sedang mengalami tren penurunan harga:

  1. Minyak Mentah Dunia: Mengalami koreksi berturut-turut pada Mei dan Juni 2026. Sepanjang Juni, harga minyak mentah dunia berada di level rata-rata 82,82 USD per barel.

    Emas Internasional: Kembali mengalami penurunan harga dibanding Mei 2026, mencatatkan tren penurunan selama 4 bulan berturut-turut.

Dengan demikian, data menunjukkan tren penurunan harga minyak mentah global ke level 82,82 USD per barel belum bertransmisi langsung ke penurunan harga BBM non-subsidi di dalam negeri pada periode Juni 2026 sehingga sektor transportasi tetap menjadi kontributor utama inflasi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).