Logo
>

Brent dan WTI Lanjutkan Tren Pelemahan: Survey Reuters Berikan Prediksi ini

Harga minyak melemah di akhir pekan, tertekan rekor produksi AS, negosiasi Rusia–Ukraina yang berlarut, serta antisipasi keputusan OPEC+ di tengah kekhawatiran surplus.

Ditulis oleh Yunila Wati
Brent dan WTI Lanjutkan Tren Pelemahan: Survey Reuters Berikan Prediksi ini
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: freepik

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia bergerak melemah pada akhir pekan Jumat waktu New York, 28 November 2025. Perdagangan berlangsung dalam suasana rapuh setelah gangguan pada sistem CME Group sempat menghentikan sejumlah kontrak. Namun, akhirnya arah pasar tetap menunjukkan tekanan yang konsisten.

Minyak Brent kontrak terdekat untuk Januari ditutup turun 14 sen ke USD63,20 per barel, sementara kontrak Februari yang lebih aktif berakhir di USD62,38 per barel, turun 49 sen dibanding penutupan sebelumnya. 

WTI, yang kembali diperdagangkan setelah gangguan sistem, ditutup di USD58,55 per barel, melemah 10 sen. 

Meski kedua benchmark ini mencatat kenaikan sekitar 1 persen secara mingguan, keduanya tetap membukukan penurunan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut. Tren empat bulan pelemahan ini menjadi yang terpanjang sejak 2023, dan semakin mempertegas tekanan berkelanjutan akibat ekspektasi pasokan global yang lebih tinggi.

Produksi Minyak Mentah AS Cetak Rekor

Di pasar fisik dan fundamental, kekhawatiran mengenai suplai semakin kuat setelah Administrasi Informasi Energi (EIA) melaporkan bahwa produksi minyak mentah AS kembali mencetak rekor. Output minyak AS naik 44.000 barel per hari pada September, mencapai 13,84 juta barel per hari. 

Angka ini memperdalam pandangan bahwa pasar minyak global tengah bergerak menuju surplus, terutama ketika permintaan global menunjukkan tanda-tanda perlambatan di beberapa wilayah. Margin keuntungan kilang memang memberi sedikit sandaran bagi permintaan di sejumlah pasar, tetapi efek bullish itu tertahan oleh gambaran oversupply yang semakin nyata.

Dari sisi ekspektasi jangka panjang, survey Reuters terhadap 35 ekonom dan analis menunjukkan proyeksi yang cenderung melemah. Brent diperkirakan akan rata-rata berada di USD62,23 per barel pada 2026, turun dari perkiraan sebelumnya USD63,15. 

Sepanjang 2025, Brent tercatat berada pada rata-rata USD68,80. Ini mencerminkan penurunan bertahap yang semakin terlihat dalam tren harian.

Negosiasi Damai Rusia-Ukraina

Geopolitik menjadi variabel besar yang membayangi harga sepanjang pekan. Harapan terhadap kesepakatan damai Rusia–Ukraina sempat menekan harga minyak secara signifikan pada awal pekan. 

Namun, dengan negosiasi yang ternyata lebih panjang dan tanpa kejelasan hasil, membuat harga pulih dalam tiga sesi terakhir. Pasar pada dasarnya telah mengantisipasi potensi kesepakatan damai yang dapat mengurangi risiko geopolitik dan meredakan premi harga minyak. Namun, ketiadaan kemajuan membuat para pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan sanksi yang lebih ketat terhadap ekspor minyak Rusia, terutama jika dialog gagal mencapai titik temu.

Sorotan selanjutnya tertuju pada pertemuan OPEC+ yang akan berlangsung pada esok hari. Indikasi awal menunjukkan bahwa kelompok produsen tersebut kemungkinan akan mempertahankan tingkat produksi saat ini dan menyepakati mekanisme untuk mengukur kapasitas produksi maksimum anggotanya. 

Namun, ekspektasi ini belum cukup untuk mendongkrak harga mengingat pasar lebih mengutamakan sinyal pengetatan suplai nyata di tengah kekhawatiran oversupply. Arab Saudi, eksportir terbesar dunia, bahkan diprediksi menurunkan harga jual minyak untuk pembeli Asia pada Januari, ke level terendah dalam lima tahun. 

Sebabnya, tekanan persediaan melimpah dan prospek surplus terus membayangi.

Di tengah kondisi seperti ini, dinamika perdagangan minyak memperlihatkan pasar yang tersandera oleh sejumlah variable, seperti potensi surplus struktural, produksi AS yang terus meningkat, ketidakpastian kesepakatan damai, serta keputusan OPEC+ yang belum tentu agresif. 

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat minyak tetap berada pada fase tekanan jangka pendek, di mana reli kecil dalam tiga sesi terakhir belum mampu mengubah arah tren yang lebih besar. Dengan sentimen yang masih berat sebelah pada isu pasokan berlebih, pasar minyak global berada dalam posisi defensif menunggu sinyal yang lebih jelas dari sisi kebijakan maupun geopolitik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79