Logo
>

Brent-WTI Kembali Tergelincir, Harga Minyak Terombang-ambing Politik Global

Harga minyak jatuh ke level terendah satu bulan akibat dorongan diplomasi Rusia–Ukraina, dolar yang menguat, serta sinyal suku bunga AS yang saling bertentangan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Brent-WTI Kembali Tergelincir, Harga Minyak Terombang-ambing Politik Global
Ilustrasi kilang minyak WTI.

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia kembali berada di bawah tekanan berat setelah merosot sekitar satu persen pada penutupan perdagangan Jumat, 21 November 2025. Tekanan ini mengantarkan Brent dan WTI ke posisi terendah dalam satu bulan terakhir. 

Penurunan ini bukan sekadar respons terhadap pelemahan teknikal, tetapi juga reaksi menyeluruh terhadap dinamika geopolitik dan moneter yang saling bertabrakan. Pasar minyak berada pada persimpangan antara harapan penyelesaian konflik Rusia–Ukraina dan ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.

Katalis utama datang dari Washington, yang mendorong percepatan rencana perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Prospek diplomasi ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa ekspor energi Rusia dapat kembali meningkat. 

Sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, setiap peluang pembukaan keran pasokan Rusia akan langsung menekan harga. Sementara, proposal damai dari Amerika Serikat menuai respons beragam. Pasar tampaknya lebih fokus pada potensi bertambahnya suplai ketimbang realitas politik di lapangan.

Komentar dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Presiden Rusia Vladimir Putin, justru memperkuat suasana ketidakpastian. Zelenskiy memperingatkan bahwa menerima proposal damai bisa mengorbankan prinsip mendasar negara tersebut.

Sementara Putin, menyebut rencana itu dapat menjadi dasar penyelesaian konflik, meski diiringi ancaman bahwa penolakan akan membuat Rusia melanjutkan langkah militernya. Narasi seperti ini menciptakan volatilitas emosional di pasar, sehingga pasokan kemungkinan bertambah tetapi risiko geopolitik tetap menggantung.

Sanksi Rosneft dan Lukoil Menambah Katalis Negatif

Kondisi semakin rumit dengan berlakunya sanksi Amerika Serikat terhadap Rosneft dan Lukoil. Alih-alih memperketat pasokan, kombinasi antara dorongan diplomatik dan sanksi yang tidak dianggap efektif justru memberikan sedikit ruang bagi harga minyak untuk turun lebih dalam. 

Para analis mulai memandang bahwa sanksi baru tersebut mungkin tidak signifikan dalam menahan ekspor Rusia, terutama karena tenggat waktu penjualan aset Lukoil masih terbuka hingga pertengahan Desember.

Di luar faktor geopolitik, penguatan dolar AS menjadi tekanan tambahan. Mata uang yang menyentuh level tertinggi dalam enam bulan ini membuat harga minyak berdenominasi dolar semakin mahal bagi pembeli global, sehingga melemahkan permintaan. Kondisi ini menguatkan posisi bear yang sudah terbentuk sejak awal pekan.

Sinyal kebijakan moneter AS memperdalam kebingungan pasar. Presiden Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden Fed Boston Susan Collins sama-sama mengisyaratkan perlunya menahan suku bunga pada level saat ini. 

Hal ini bertolak belakang dengan komentar Presiden Fed New York John Williams, yang menyatakan pemangkasan suku bunga masih memungkinkan dalam waktu dekat. 

Perbedaan pandangan ini membuat pelaku pasar belum berani membangun posisi agresif, karena arah kebijakan masih belum solid. Padahal, suku bunga lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi permintaan minyak melalui peningkatan aktivitas ekonomi.

Di sisi ekonomi makro, data manufaktur AS yang melambat ke level terendah empat bulan menjadi refleksi bahwa tekanan inflasi, tarif, dan melemahnya permintaan sudah mulai menggerogoti pondasi pertumbuhan. 

Perlambatan sektor manufaktur memunculkan kekhawatiran bahwa permintaan minyak dapat menurun lebih jauh, terutama jika penumpukan persediaan terus berlanjut.

Keseluruhan dinamika ini menggambarkan pasar minyak yang dikelilingi sejumlah tekanan sekaligus, yaitu  harapan perdamaian yang membuka pasokan baru, sanksi yang tidak lagi menahan suplai seperti sebelumnya, dolar yang menguat, serta sinyal kebijakan suku bunga yang saling bertentangan. 

Dengan kondisi seperti ini, harga minyak cenderung kesulitan menemukan lantai yang stabil. Pasar lebih mudah bereaksi terhadap sentimen geopolitik jangka pendek ketimbang fundamental permintaan yang tampak melemah. 

Untuk sementara, minyak berada dalam fase di mana arah harga lebih ditentukan oleh diplomasi global dan arah kebijakan moneter. Bukan oleh keseimbangan pasokan-permintaan yang biasa menjadi acuan utama.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79