KABARBURSA.COM — Cadangan bahan bakar minyak Indonesia saat ini berada di kisaran 27 hingga 28 hari di tengah krisis energi global akibat konflik Timur Tengah. Angka ini menjadi penopang sementara di saat pasokan dunia terganggu dan harga minyak melonjak, namun sekaligus memunculkan pertanyaan soal seberapa lama ketahanan energi nasional mampu bertahan jika situasi memburuk.
Krisis energi global mulai menunjukkan dampak nyata setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan energi global, praktis tersendat. Pasokan berkurang, harga melonjak, dan negara-negara mulai menahan konsumsi.
Gangguan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu krisis energi paling serius dalam sejarah modern. Badan Energi Internasional menilai situasi ini melampaui tekanan yang pernah terjadi saat embargo minyak 1973.
Tekanan terhadap pasokan tidak hanya datang dari gangguan distribusi, tetapi juga kerusakan infrastruktur energi. Serangan yang saling berbalas di kawasan Teluk menghantam ladang gas, kilang minyak, hingga terminal ekspor yang diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Sekitar 400 juta barel minyak hilang dari peredaran, setara empat hari pasokan dunia. Harga minyak melonjak lebih dari 50 persen. Chief investment officer Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menilai krisis ini tidak bisa diatasi hanya dengan penghematan konsumsi.
“Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan berhemat. Dampaknya akan berupa kenaikan harga yang cukup tinggi hingga orang berhenti mengonsumsi,” ujarnya, dikutip dari AP, Ahad, 22 Maret 2026.
Harga minyak acuan dunia kini telah menembus USD110 per barel atau sekitar Rp1,85 juta. Untuk minyak dari Timur Tengah, harga bahkan mendekati USD164 per barel atau sekitar Rp2,76 juta.
Senior vice president Rystad Energy, Aditya Saraswat, melihat skala dampak krisis kali ini jauh lebih luas dibanding sebelumnya. “Luasnya sektor yang terdampak, mulai dari bahan bakar, kimia, LNG, hingga bahan baku pupuk, membuat situasi ini berbeda secara fundamental dari krisis sebelumnya,” katanya.
Kenaikan harga ini mulai menekan berbagai sektor. Biaya transportasi naik, harga energi melonjak, dan tekanan inflasi semakin besar. Analis JP Morgan, Natasha Kaneva, menilai kondisi pasar kini berada dalam situasi kekurangan pasokan yang serius. “Pasar menghadapi kekurangan produk yang akut, yang tidak bisa dikonsumsi karena memang tidak tersedia,” ujarnya.
Indonesia Masih Aman untuk Sekarang
Di tengah tekanan global tersebut, pemerintah Indonesia menyatakan kondisi energi nasional masih dalam batas aman. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyebut cadangan bahan bakar minyak berada di kisaran 27 hingga 28 hari.
“Untuk ketersediaan BBM, cadangan minimal itu justru jauh sudah terlewati. Masyarakat bisa dengan aman menikmati mudik lebaran 2026 ini,” kata Yuliot, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM.
Pemerintah juga memastikan tidak ada pembatasan pembelian bahan bakar selama periode Lebaran. “Kita belum ada pembatasan. Itu baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat, juga oleh pemerintah daerah,” ujarnya.
Yuliot pun mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Selain BBM, sistem kelistrikan nasional juga disebut dalam kondisi stabil. Daya mampu mencapai 52 gigawatt dengan cadangan atau risk margin sekitar 48 persen.
Namun dalam konteks krisis global yang belum mereda, angka cadangan 27 hingga 28 hari menjadi penting untuk dicermati. Ketergantungan pada impor minyak membuat Indonesia tetap rentan terhadap gangguan pasokan global.
Selama konflik terus berlangsung dan harga energi tinggi, tekanan terhadap sistem energi nasional akan semakin besar. Ketahanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah cadangan, tetapi juga kemampuan menjaga distribusi dan stabilitas pasokan.
Di tengah situasi yang bergerak cepat, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah Indonesia aman hari ini, melainkan seberapa kuat bertahan jika krisis energi global berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.