Logo
>

JP Morgan Melihat bakal Ada Surplus Minyak dan Lonjakan Emas di 2026

JP Morgan memproyeksikan pasar komoditas global bergerak timpang, dengan pasokan minyak melimpah sementara emas diperkirakan terus menguat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
JP Morgan Melihat bakal Ada Surplus Minyak dan Lonjakan Emas di 2026
JP Morgan memprediksi surplus minyak global pada 2026, sementara harga emas diperkirakan melonjak ditopang permintaan bank sentral. Foto: Dok. Rhomax SA

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pasar komoditas global sedang bergerak ke fase yang tampak berlimpah pasokan, tetapi tidak sepenuhnya nyaman. Dalam proyeksi terbaru JP Morgan, permintaan minyak dunia masih tumbuh, namun laju suplai diperkirakan jauh lebih agresif. Ketimpangan ini, setidaknya di atas kertas, membuka peluang surplus besar pada 2026.

    JP Morgan memperkirakan permintaan minyak global akan meningkat sekitar 0,9 juta barel per hari pada 2026 dan naik menjadi 1,2 juta barel per hari pada 2027. Namun, pasokan diproyeksikan melampaui permintaan hingga tiga kali lipat pada 2026, sebelum melambat pada tahun berikutnya. Surplus ini secara teoritis berpotensi menekan harga.

    Meski begitu, JP Morgan menilai kondisi pasar tidak akan sepenuhnya mengikuti hitungan matematis. Penyesuaian diyakini akan terjadi secara alami, baik dari sisi permintaan maupun produksi, seiring respons pasar terhadap harga.

    “Kami memperkirakan pasar akan menemukan keseimbangan melalui kombinasi kenaikan permintaan yang didorong oleh harga yang lebih rendah, serta pemangkasan produksi baik yang bersifat sukarela maupun terpaksa. Sejalan dengan pandangan ini, kami mempertahankan proyeksi harga Brent di USD58 pada 2026 dan menetapkan proyeksi 2027 di USD57, meskipun kami menyadari bahwa upaya besar akan dibutuhkan untuk menstabilkan harga di level tersebut,” kata Kepala Strategi Komoditas Global JP Morgan, Natasha Kaneva, dikutip dari laman JP Morgan, Sabtu, 17 Januari 2026.

    Artinya, harga minyak memang berpotensi tertekan oleh limpahan suplai, tetapi tidak akan dibiarkan jatuh terlalu dalam. Mekanisme pasar, termasuk penyesuaian produksi, dinilai masih akan menjaga keseimbangan harga.

    Dari sisi energi lainnya, pasokan gas alam cair atau LNG diperkirakan meningkat signifikan. Beroperasinya sejumlah proyek baru diproyeksikan menekan harga gas global dalam jangka menengah hingga panjang.
    “Seiring proyek-proyek pasokan baru mulai beroperasi, kami memperkirakan harga jangka panjang akan cenderung turun dari level saat ini. Kami memproyeksikan harga TTF rata-rata sebesar 28,75 euro per MWh pada 2026 dan 24,75 euro per MWh pada 2027, atau sekitar 3–4 euro per MWh di bawah harga forward saat ini,” ujar Otar Dgebuadze dari tim Riset Komoditas Global JP Morgan.

    Kondisi ini berpotensi menguntungkan negara dan sektor industri yang bergantung pada impor gas, namun menjadi tantangan tersendiri bagi produsen LNG yang menghadapi tekanan margin.

    Berbeda dengan energi, logam mulia justru diproyeksikan memasuki fase reli. JP Morgan tetap optimistis terhadap emas, ditopang oleh pembelian agresif bank sentral dan permintaan investor yang dinilai masih solid.

    Harga emas diperkirakan melonjak hingga USD5.000 per troy ounce pada kuartal IV 2026, dengan rata-rata harga tahunan sekitar USD4.753 per ounce. Tren penguatan juga diproyeksikan merembet ke perak dan platinum.

    “Harga perak diperkirakan naik mendekati USD58 per ounce pada kuartal keempat, dengan rata-rata tahunan sekitar USD56 per ounce, sementara platinum berpotensi tetap diperdagangkan lebih tinggi dalam waktu lebih lama sebelum proses penyeimbangan pasokan kembali berjalan,” kata Kepala Strategi Logam Dasar dan Mulia JP Morgan, Gregory Shearer.

    Reli logam mulia ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai, terutama di tengah ketidakpastian global dan perubahan lanskap kebijakan moneter.

    Sementara itu, sektor pertanian menunjukkan sinyal kewaspadaan tersendiri. JP Morgan mencatat volatilitas harga mulai meningkat, meski belum ada indikasi krisis pasokan dalam waktu dekat, kecuali di sektor peternakan dan sebagian pasar kakao.

    “Meskipun belum terlihat tanda-tanda kekurangan atau tekanan pasokan dalam waktu dekat, kecuali pada sektor peternakan dan sampai batas tertentu pasar kakao, proyeksi rasio stok terhadap penggunaan global kami tetap berada di dekat level terendah dalam beberapa tahun untuk periode 2026–2027 dan 2027–2028,” ujar Tracey Allen, ahli strategi komoditas pertanian JP Morgan.

    Ia menilai rendahnya margin produsen membuat pasar pertanian menjadi lebih sensitif terhadap gangguan pasokan. Dalam kondisi stok yang menipis, gangguan cuaca atau distribusi berpotensi memicu lonjakan harga yang tajam.

    Bagi pelaku pasar dan investor, laporan JP Morgan ini menjadi pengingat bahwa surplus di atas kertas tidak selalu berarti stabilitas harga di lapangan. Di tengah limpahan pasokan, pasar komoditas global tetap bergerak dinamis, penuh kompromi, dan sarat risiko yang perlu dicermati.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).