Logo
>

China Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi 2026: ini Risiko dan Peluang RI

Beijing diperkirakan akan menurunkan target pertumbuhan ekonominya untuk 2026, menjadi sekitar 4,5 persen-5,0 persen

Ditulis oleh Pramirvan Datu
China Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi 2026: ini Risiko dan Peluang RI
Ilustrasi Perdagangan Internasional. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Beijing diperkirakan akan menurunkan target pertumbuhan ekonominya untuk 2026, menjadi sekitar 4,5 persen-5,0 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi tahun ini yang mendekati 5,0 persen. Penyesuaian ini muncul di tengah tekanan yang membayangi sektor properti, meningkatnya ketegangan perdagangan global, serta fenomena demografis berupa populasi yang menua, ungkap analis dari Nomura Research.

    Angka target tersebut kemungkinan besar akan menjadi pokok bahasan dalam Central Economic Work Conference (CEWC) yang digelar akhir bulan ini, meski pengumuman resmi baru dijadwalkan pada Maret 2026. Dalam konteks fiskal, Beijing diprediksi akan mempertahankan rasio defisit anggaran di level 4,0 persen dari PDB, sementara kuota obligasi khusus pemerintah pusat berpotensi meningkat hingga 1,6 triliun yuan, naik dari 1,3 triliun yuan pada 2025. Seperti dilansir Dow Jones Newswires.

    Selain itu, analis memperkirakan CEWC akan menegaskan kelanjutan program tukar tambah (trade-in program), meskipun sebagian besar kebijakan konsumsi yang direncanakan pada 2026 kemungkinan besar hanya merupakan kelanjutan dari langkah-langkah yang diterapkan pada 2025. Keputusan-keputusan ini diharapkan mampu menyeimbangkan dinamika ekonomi domestik di tengah tantangan eksternal dan tekanan struktural yang terus berkembang.

    Lalu Seperti Apa Dampaknya ke Indonesia

    Target pertumbuhan ekonomi China yang lebih rendah akan memiliki beberapa pengaruh signifikan bagi Indonesia, mengingat keterkaitan ekonomi kedua negara yang erat, baik melalui perdagangan, investasi, maupun rantai pasok regional. Berikut rinciannya:

    Ekspor Indonesia

    China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di China dapat menurunkan permintaan impor, terutama untuk komoditas seperti batubara, minyak sawit, nikel, karet, dan mineral lainnya. Hal ini berpotensi menekan pendapatan ekspor Indonesia.

    Harga Komoditas Global

    Perlambatan ekonomi China biasanya menurunkan permintaan global terhadap komoditas, sehingga harga komoditas dunia bisa lebih rendah. Ini akan berdampak pada pendapatan devisa dan neraca perdagangan Indonesia.

    Investasi Asing dan Proyek Infrastruktur

    China adalah salah satu investor utama di Indonesia, terutama melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI). Pertumbuhan yang lebih rendah bisa membuat perusahaan China lebih berhati-hati dalam ekspansi investasi, sehingga beberapa proyek infrastruktur atau kerja sama mungkin melambat.

    Rantai Pasok dan Industri Manufaktur

    Banyak perusahaan Indonesia bergantung pada bahan baku atau komponen dari China. Perlambatan ekonomi China bisa memengaruhi harga dan ketersediaan bahan baku, sehingga memengaruhi sektor manufaktur dan ekspor Indonesia.

    Pasar Keuangan dan Sentimen Investor

    Target pertumbuhan yang lebih rendah dapat memicu volatilitas di pasar global, termasuk pasar saham dan nilai tukar Rupiah, karena investor regional menyesuaikan ekspektasi risiko dan return.

    Secara keseluruhan, perlambatan pertumbuhan China menjadi risiko eksternal bagi ekonomi Indonesia, khususnya pada perdagangan dan harga komoditas, namun peluang tetap ada jika Indonesia mampu mengalihkan ekspor ke pasar lain atau meningkatkan nilai tambah produk domestik.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.