KABARBURSA.COM — Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kembali membuka tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) tahap kedua, dengan total 14 lokasi yang masuk dalam lelang. Tiga fasilitas di Jakarta, termasuk Bantargebang, akan turut serta dalam proyek ini.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan tahap kedua mencakup 10 wilayah tambahan, yakni Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Tangerang, Kota Tangerang, Serang, dan Jakarta.
“Tambahkan tiga lokasi di Jakarta, termasuk Bantargebang. Mudah-mudahan kejadian longsor sampah kemarin di TPST Bantargebang tidak terulang lagi. Ini menunjukkan kita perlu mempercepat proses. Kita tidak ingin ada masalah serupa lagi,” ujar Zulhas di Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2026.
Fasilitas PSEL Bantargebang nantinya direncanakan mampu mengolah 3.000 ton sampah per hari, terdiri dari 2.000 ton sampah baru dan 1.000 ton timbunan sampah lama.
Selain itu, fasilitas di Tanjungan akan memiliki kapasitas 2.000 ton per hari di atas lahan 8 hektare. Sementara, PSEL di Sunter juga mampu mengolah 2.000 ton sampah per hari. “Jadi, tahap kedua ini kami akan kejar pembangunan 14 PSEL baru,” kata Zulhas.
Sebelumnya, Danantara telah menyelesaikan tender dan kontrak untuk empat lokasi, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta. Tahap groundbreaking untuk proyek-proyek ini direncanakan mulai Juni 2026, dengan target operasional sebagian fasilitas pada 2027. Empat fasilitas lainnya dijadwalkan mulai beroperasi awal 2028, sementara 12 fasilitas sisanya menyusul pertengahan 2028.
“Janji kami, akhir 2027, waste to energy sudah ada yang berjalan,” kata Zulhas.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menangani permasalahan sampah di Jakarta, yang baru-baru ini memicu longsor di Bantargebang dan menelan tujuh korban jiwa.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbunan sampah Jakarta mencapai 9.180,98 ton per hari, namun hanya 2.888,81 ton atau 31 persen yang terkelola.
Perusahaan China Menang Proyek PSEL di Bekasi
Pemerintah sebelumnya telah menetapkan pemenang tender pertama proyek PSEL, yakni dua perusahaan pengelola yang akan mengoperasikan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bekasi dan Denpasar Raya.
Keputusan ini diumumkan pada Jumat 6 Maret 2026 setelah proses seleksi yang disebut berlangsung panjang dan ketat. Dua perusahaan lingkungan asal China terpilih sebagai mitra operasional proyek tersebut.
Untuk fasilitas di Bekasi, Danantara menunjuk Wangneng Environment Co., Ltd. Sementara proyek di Denpasar Raya akan dijalankan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.
Penunjukan ini menjadi langkah penting dalam program nasional pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy yang didorong pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Investasi Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan proses pemilihan operator dilakukan melalui evaluasi yang melibatkan perusahaan internasional berpengalaman dengan sejumlah tahapan seleksi yang ketat.
Menurut Pandu, proyek tersebut merupakan bagian dari implementasi Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mengatur percepatan pengolahan sampah menjadi energi listrik.
“Pengumuman hari ini menjadi langkah penting untuk memastikan fasilitas Waste to Energy dikelola dengan standar tertinggi dalam hal keandalan operasional, keselamatan, dan akuntabilitas,” ujar Pandu dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Maret 2026.
Program Waste to Energy yang dijalankan pemerintah tidak hanya bertujuan menghasilkan listrik. Program ini juga dirancang untuk menekan ketergantungan kota-kota besar terhadap tempat pembuangan akhir atau TPA yang selama ini menjadi sumber persoalan lingkungan.
Dengan teknologi pengolahan sampah modern, limbah kota diharapkan dapat diubah menjadi sumber energi sekaligus mengurangi volume sampah yang harus ditimbun. Pandu mengatakan Danantara akan terus bekerja sama dengan berbagai pihak agar proyek tersebut berjalan sesuai target.
“Kami akan terus bekerja sama dengan mitra, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait untuk menghadirkan kemajuan nyata dalam pengurangan sampah dan produksi energi bersih,” ujarnya.
Proyek ini sekaligus menjadi salah satu program penting pemerintah dalam memperkuat pengelolaan sampah perkotaan yang selama ini dinilai belum optimal.
Wajib Gandeng Mitra Lokal
Dalam pelaksanaannya, operator internasional yang terpilih tidak dapat bekerja sendiri. Danantara mewajibkan kedua perusahaan tersebut membentuk konsorsium dengan perusahaan lokal.
Skema ini dimaksudkan untuk mendorong transfer teknologi sekaligus memperkuat keterlibatan industri dalam negeri dalam proyek energi berbasis lingkungan.
Kolaborasi dengan mitra Indonesia juga diharapkan mempermudah koordinasi dengan pemerintah daerah serta memastikan proyek berjalan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Danantara menekankan bahwa proyek Waste to Energy tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tata kelola yang kuat. Karena itu proses pemilihan operator dilakukan dengan pendekatan mitigasi risiko serta transparansi.
Pandu menegaskan mitra yang telah ditunjuk harus mampu menjaga standar operasional yang konsisten serta memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku. Selain itu, keterlibatan masyarakat sekitar juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proyek tersebut.
Menurut Pandu, Danantara ingin memastikan pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai sosial bagi masyarakat.
Ia menegaskan lembaga tersebut akan terus mendorong pengembangan solusi pengelolaan sampah terpadu yang mampu memberikan dampak jangka panjang.
Bagi pemerintah, proyek ini bukan sekadar pembangunan fasilitas energi. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan menjadi model baru pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Baru-baru ini, Danantara mengumumkan mitra pengelola fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bogor Raya. Mitra tersebut akan mengelola fasilitas Waste to Energy atau PSEL di wilayah tersebut.
Penetapan dilakukan setelah proses seleksi yang melibatkan sejumlah perusahaan internasional. Dari proses tersebut, perusahaan asal China, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. terpilih sebagai mitra pengelola proyek.
Proyek PSEL Bogor Raya dikembangkan dengan fokus pada keandalan operasional. Selain itu, pengelolaan lingkungan menjadi aspek utama dalam pengembangannya.
Kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal juga menjadi bagian dari strategi proyek.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan penandatanganan ini menjadi langkah penting. Menurutnya, proyek tersebut merupakan bagian dari solusi pengelolaan sampah terpadu.
“Penandatanganan hari ini adalah langkah penting merealisasikan solusi pengelolaan sampah terintegrasi,” kata Pandu, Jumat, 13 Maret 2026.
Ia berharap mitra pengelola mampu menjaga kinerja operasional secara konsisten. Selain itu, perusahaan diharapkan mematuhi seluruh regulasi yang berlaku. “Mitra yang terpilih diharapkan memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan mendukung keterlibatan masyarakat,” ujarnya.
Danantara menyatakan akan terus mendorong solusi pengelolaan sampah terpadu di berbagai daerah. Langkah tersebut diharapkan menciptakan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.