Logo
>

Deal Dagang Prabowo–Trump Buka Jalan Industri Chip di Indonesia

Kesepakatan dagang RI–AS dorong investasi semikonduktor USD4,9 miliar dan peluang Indonesia masuk rantai pasok teknologi global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Deal Dagang Prabowo–Trump Buka Jalan Industri Chip di Indonesia
Kerja sama RI–AS membuka investasi chip USD4,9 miliar. Indonesia berpeluang naik kelas dari basis komoditas ke industri teknologi bernilai tambah tinggi. Foto: Dok. SMCB

KABARBURSA.COM – Kesepakatan perdagangan final antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak hanya menurunkan tarif ekspor, tetapi juga membuka jalan bagi Indonesia untuk masuk ke rantai pasok industri semikonduktor global. Proyek kerja sama di sektor ini dinilai menjadi fase baru transformasi struktur industri nasional yang selama ini bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam.

Tim riset Stockbit Sekuritas menilai kerja sama semikonduktor merupakan bagian paling strategis dalam paket kesepakatan tersebut. “Kami menyoroti kerja sama di bidang semikonduktor karena hal tersebut akan menandai babak baru keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok teknologi tinggi,” tulis riset Stockbit Sekuritas, Jumat, 20 Februari 2026.

Nilai investasi pada tahap awal proyek ini diperkirakan mencapai USD4,9 miliar atau sekitar Rp82,56 triliun. Jika tahap awal berjalan sesuai rencana, pengembangan lanjutan disebut dapat mendorong tambahan investasi hingga USD26,7 miliar atau sekitar Rp449,9 triliun untuk membangun ekosistem produksi semikonduktor yang terintegrasi di dalam negeri.

Masuknya Indonesia ke sektor ini menjadi signifikan karena selama ini industri semikonduktor global didominasi negara dengan basis manufaktur teknologi tinggi seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Keterlibatan Indonesia membuka peluang baru bagi peningkatan nilai tambah industri, transfer teknologi, serta penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi.

Kesepakatan dagang tersebut merupakan kelanjutan dari kerangka kerja sama yang telah diumumkan pada Juli 2025. Secara umum, detail realisasi yang disepakati kedua negara dinilai tidak banyak berubah dari kerangka awal. “Detail realisasi kesepakatan dagang relatif sejalan dengan kesepakatan awal yang sebelumnya diumumkan pada Juli 2025,” tulis tim riset Stockbit.

Dalam perjanjian itu, Amerika Serikat menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Sejumlah komoditas utama seperti minyak sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, hingga komponen pesawat terbang juga memperoleh fasilitas tarif nol persen.

Penurunan tarif tersebut membuat posisi Indonesia sejajar dengan beberapa negara Asia Tenggara lain dalam akses pasar ke AS. “Penurunan tarif menjadi 19 persen ini membuat tarif Indonesia sejajar dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia dan Filipina, meski sedikit lebih rendah dibandingkan Vietnam 20 persen,” tulis riset tersebut.

Namun di sisi lain, Indonesia juga membuka pasar domestik secara luas dengan menghapus bea masuk untuk lebih dari 99 persen produk AS. Selain itu, pemerintah berkomitmen mengimpor barang dan jasa dari AS hingga USD33 miliar atau sekitar Rp556,05 triliun yang mencakup energi, sektor penerbangan, dan produk pertanian.

Struktur kesepakatan yang bersifat timbal balik ini membuat kerja sama semikonduktor menjadi penting sebagai sumber nilai tambah jangka panjang. Tanpa pengembangan sektor teknologi tinggi, perjanjian dagang berisiko hanya memperbesar impor tanpa mendorong transformasi industri domestik.

Masuknya proyek semikonduktor juga sejalan dengan agenda hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah. Setelah mineral dan energi, sektor teknologi dinilai menjadi tahap berikutnya dalam upaya memperluas basis industri nasional.

Dalam paket kerja sama turunan, perusahaan-perusahaan Indonesia dan AS juga menandatangani 11 nota kesepahaman senilai USD38,4 miliar atau sekitar Rp647,04 triliun. Selain semikonduktor, kerja sama mencakup pengembangan mineral penting, perpanjangan kerja sama Freeport, pembelian komoditas pertanian, industri furnitur, hingga pengolahan bahan baku tekstil daur ulang.

Pembentukan dewan perdagangan dan investasi antara kedua negara akan menjadi instrumen untuk mengawal implementasi kesepakatan tersebut setelah proses ratifikasi legislatif selesai dalam waktu sekitar 90 hari.

Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Semikonduktor Global

Di tengah rencana investasi proyek semikonduktor senilai USD 4,9 miliar, struktur ekspor elektronik Indonesia saat ini menunjukkan bahwa sektor tersebut belum menjadi tulang punggung manufaktur nasional.

Data perdagangan dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan nilai ekspor mesin dan perlengkapan listrik serta elektronik berada di kisaran USD 14–15 miliar pada 2023 atau sekitar 5–6 persen dari total ekspor. Komposisinya pun masih didominasi produk berteknologi menengah seperti kabel listrik, komponen elektronik sederhana, dan perangkat elektronik konsumen, bukan chip bernilai tambah tinggi.

Di sisi lain, Indonesia masih berstatus net importir untuk integrated circuit dan komponen semikonduktor. Kebutuhan industri ponsel, komputer, otomotif, hingga peralatan listrik domestik sebagian besar dipenuhi dari impor. Kondisi ini menegaskan posisi Indonesia yang masih berada pada tahap perakitan dan manufaktur berteknologi menengah dalam rantai pasok global, dengan kekuatan utama pada penyediaan bahan baku seperti silika, timah, dan nikel, bukan pada desain chip, wafer fabrication, maupun advanced packaging.

Struktur tersebut berbeda dengan beberapa negara ASEAN yang telah lebih dahulu masuk ke industri semikonduktor bernilai tambah tinggi. Malaysia, misalnya, menjadi pusat pengujian dan pengemasan chip global dengan pangsa sekitar 13 persen pasar dunia. Vietnam menjadikan elektronik sebagai kontributor utama ekspor melalui ekosistem investasi besar dari perusahaan teknologi global. Sementara Singapura telah berada pada level manufaktur wafer dan riset teknologi tinggi.

Dalam konteks itu, proyek semikonduktor yang tengah dijajaki Indonesia menjadi signifikan bukan semata karena nilai investasinya, melainkan karena berpotensi menggeser posisi Indonesia dari sekadar pemasok bahan baku dan basis perakitan menuju bagian yang lebih dalam dari rantai pasok teknologi global.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).