KABARBURSA.COM – Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani menilai saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih sangat menarik untuk investasi jangka panjang.
Ia mengklaim kondisi fundamental yang solid, dividend yield yang tinggi, serta valuasi yang relatif murah membuka ruang kenaikan harga saham yang cukup besar ke depan meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tengah mengalami tekanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan saat menghadiri konferensi pers bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, dan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria di Gedung BEI, Senin, 19 Mei 2026.
Kehadiran Rosan dan Dony di BEI menjadi perhatian pelaku pasar karena berlangsung di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain itu, Danantara digadang-gadang akan masuk ke bursa melalui demutualisasi yang saat ini tengah digodok. Kunjungan itu juga terjadi sehari setelah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menerima Friderica Widyasari Dewi bersama jajaran OJK, sebagaimana diungkap Luhut melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam kesempatan itu, Rosan menegaskan bahwa Danantara memandang pasar modal sebagai instrumen investasi strategis dengan horizon jangka panjang, bukan untuk mengejar pergerakan harga harian.
“Bursa buat kami di Danantara adalah investasi jangka panjang. Secara fundamental maupun valuasi, saham-saham BUMN sangat menarik dan mampu memberikan yield di atas 10 persen hingga 11 persen,” ujar Rosan.
Ia menyebut sejumlah emiten BUMN, termasuk bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta perusahaan tambang pelat merah, masih menawarkan tingkat imbal hasil yang sangat kompetitif.
Menurut Rosan, valuasi saham BUMN saat ini juga berada di level yang menarik. Ia mencontohkan sejumlah saham perbankan diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) di bawah 1 kali, padahal dalam kondisi normal valuasinya bisa mencapai 2 hingga 3 kali.
“Kalau price to book bank-bank kita masih di bawah 1 kali, padahal normalnya bisa di atas 2 kali atau 3 kali. Artinya, ada potensi upside yang sangat besar,” katanya.
Rosan menilai kondisi tersebut mencerminkan peluang investasi yang menarik bagi investor yang memiliki perspektif jangka menengah hingga panjang. Ia juga mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan OJK dan BEI untuk memperdalam pasar modal, meningkatkan transparansi, serta memperkuat tata kelola.
Menurut Rosan, proses reformasi tersebut sedang bergerak ke arah yang benar dan akan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Yang kami lakukan sekarang adalah proses menuju pasar modal yang lebih baik, lebih transparan, dan lebih dipercaya investor,” ujar Rosan.
Ia menambahkan, peningkatan jumlah investor pasar modal menjadi indikator bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Bursa terus meningkat. Saat ini jumlah investor telah mencapai sekitar 27 juta single investor identification (SID), naik signifikan dari sekitar 20 juta pada tahun lalu.
“Kalau investor terus bertambah, artinya mereka percaya pasar modal Indonesia punya prospek yang baik,” tuturnya.
Rosan juga menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat memahami bahwa investasi di pasar modal seharusnya dilakukan dengan perspektif jangka panjang.
Menurut dia, fluktuasi harga saham dalam jangka pendek merupakan hal yang wajar. Namun selama fundamental perusahaan tetap kuat, potensi imbal hasil dalam jangka panjang tetap terbuka lebar.
“Pendekatan kami bukan harian atau bulanan. Kami melihat pasar modal dari perspektif jangka panjang,” kata Rosan.(*)