Logo
>

Dolar AS Melemah Hingga Sembilan Persen, Pertanda Apa?

Dolar AS bergerak datar menjelang keputusan The Fed, sementara euro dan pound melemah dan yen justru menguat didorong ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dolar AS Melemah Hingga Sembilan Persen, Pertanda Apa?
Ilustrasi dolar AS. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indeks Dolar (DXY) Amerika Serikat nyaris tidak bergerak pada perdagangan Jumat pagi WIB, 5 Desember 2025. Dolar AS hanya bergeser 0,1 persen, menguat ke level 99.02. Sayangnya, penguatan ini tidak dapat mengangkat Dolar dari level terendahnya selama lima pekan.

Secara keseluruhan, dolar telah merosot sekitar 9 persen sepanjang tahun ini dan menjadi pelemahan tahunan terbesar dalam satu dekade terakhir. Narasi dominan pasar saat ini berpusat pada sikap moneter The Fed yang diperkirakan akan lebih longgar.

Sekarang, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada FOMC pekan depan mencapai hampir 90 persen berdasarkan data LSEG. Sebuah lonjakan besar dibanding beberapa pekan lalu. 

Para trader semakin yakin bahwa The Fed tidak akan mempertahankan nada hawkish, bahkan meski klaim pengangguran AS kembali turun ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun. Data tenaga kerja tersebut, yang biasanya memperkuat dolar, justru gagal memberikan dukungan berarti, karena fokus pasar sudah sepenuhnya tertuju pada penurunan suku bunga sebagai tema utama.

Sentimen terhadap dolar juga melemah oleh dinamika politik yang semakin intens. Pasar tengah menimbang kemungkinan Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih, akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei mendatang. 

Hassett dipandang sebagai sosok yang condong mendorong penurunan suku bunga yang lebih agresif, sejalan dengan preferensi Presiden Donald Trump. 

Laporan Financial Times menunjukkan adanya kecemasan di pasar obligasi, bahwa pergantian kepemimpinan tersebut bisa menekan dolar lebih jauh. Itulah mengapa pelaku pasar masih berhati-hati untuk menambah posisi bearish dolar, karena tren pelemahan sulit dihentikan tanpa katalis baru.

Euro dan Poundsterling Lemah, Yen Kuat

Di Eropa, euro terkoreksi 0,2 persen ke USD1,1649. Meski melemah, mata uang tunggal tersebut masih mendapat fondasi yang cukup kuat dari data aktivitas bisnis zona euro yang tumbuh cept dalam 30 bulan sepanjang November. 

Namun kekuatan itu teredam oleh dominasi sentimen global terhadap pergerakan dolar menjelang FOMC.

Poundsterling juga turun 0,2 persen ke USD1,3333, tetapi tetap bertahan dekat level tertinggi satu setengah bulan setelah revisi data sektor jasa dan manufaktur memberikan sinyal ekonomi Inggris yang lebih resilien. Meski terkoreksi, pound masih bergerak dalam pola bullish moderat.

Pergerakan paling menarik terjadi pada yen Jepang. Yen menguat 0,2 persen ke 155,015 per dolar, mendekati level terkuat sejak 17 November. Mata uang ini mengambil momentum dari ekspektasi kuat bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir bulan. 

Tiga pejabat pemerintah Jepang mengatakan kepada Reuters bahwa kenaikan suku bunga pada Desember sangat mungkin terjadi, meski jalur kebijakan selanjutnya masih belum jelas. Pasar kini memperkirakan satu kenaikan tambahan tahun depan dengan peluang sekitar 50 persen untuk kenaikan kedua.

Tekanan carry trade, yaitu investor meminjam yen berbiaya rendah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi, masih sangat kuat. Namun meningkatnya imbal hasil obligasi Jepang akibat spekulasi kebijakan fiskal yang ekspansif memberikan tekanan pada tren pelemahan yen. Hal ini menciptakan dinamika yang sangat sensitif terhadap berita kebijakan.

Secara keseluruhan, pergerakan dolar hari ini mencerminkan pasar global yang berada dalam fase penantian dan kewaspadaan. Dolar tidak menguat karena fundamentalnya kuat, melainkan karena pasar mulai mengambil jeda setelah pelemahan panjang. 

Semua mata kini tertuju pada The Fed: keputusan suku bunga akan menentukan apakah dolar berbalik menguat secara temporer atau kembali memasuki tren penurunan menuju awal 2026.

Untuk saat ini, mata uang global tampak bergerak di sekitar satu poros besar: harapan pelonggaran kebijakan moneter Amerika. Dan hingga The Fed berbicara, pasar valuta asing masih akan bergerak hati-hati, dengan volatilitas yang sewaktu-waktu bisa meningkat tajam.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79