Logo
>

Dolar AS Mengamuk ke Area 99,27, Mata Uang Dunia Berguguran

Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi akibat perang Iran membuat dolar AS makin perkasa. Yen, euro, hingga poundsterling ikut tertekan dalam sepekan terakhir.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dolar AS Mengamuk ke Area 99,27, Mata Uang Dunia Berguguran
Dolar AS naik ke area 99,27 dan mencatat penguatan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pasar keuangan global kembali masuk fase defensif. Dolar Amerika Serikat mendadak menjadi tempat berlindung utama investor setelah perang Iran memicu lonjakan harga minyak dan mengubah arah ekspektasi suku bunga The Fed.

Mata uang Negeri Paman Sam itu menguat untuk hari kelima berturut-turut pada perdagangan Jumat waktu setempat. Indeks dolar AS atau dollar index naik ke area 99,27 dan mencatat penguatan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.

Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama. Harga minyak WTI melonjak lebih dari 4 persen ke USD105,38 per barel, sementara Brent naik ke USD109,34 setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memukul harapan pasar terhadap penyelesaian konflik di Selat Hormuz.

Ketika jalur energi global terganggu, investor langsung menghitung ulang potensi kenaikan biaya produksi, distribusi, hingga tekanan harga konsumen di seluruh dunia. Situasi itu membuat pasar obligasi AS bergerak liar.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun ikut melonjak ke 4,59 persen, tertinggi dalam setahun terakhir. Yield tenor 30 tahun bahkan sempat menembus 5,13 persen. Kenaikan yield tersebut menjadi sinyal bahwa pasar mulai bersiap menghadapi era suku bunga tinggi yang lebih panjang.

Pasar kini mulai percaya The Fed belum selesai menjaga inflasi. Bahkan peluang kenaikan suku bunga tambahan mulai kembali masuk hitungan investor. Berdasarkan CME FedWatch, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada Desember melonjak ke hampir 50 persen, padahal sepekan sebelumnya masih sekitar 14 persen.

Situasi tersebut otomatis menjadi bahan bakar baru bagi penguatan dolar AS. Investor global mulai memindahkan dana ke aset berbasis dolar karena dinilai lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih menarik dibanding mata uang lain.

Efeknya langsung terasa ke berbagai penjuru pasar mata uang dunia.

Euro Rontok, Poundsterling Jatuh ke Level Terendah

Euro menjadi salah satu korban terbesar. Mata uang Eropa itu turun ke USD1,1623 dan sempat menyentuh level terlemah dalam lima pekan terakhir. Dalam sepekan, euro sudah melemah sekitar 1,4 persen terhadap dolar AS.

Tekanan juga menghantam poundsterling Inggris. Pound jatuh ke USD1,3323 dan mencatat pelemahan mingguan terbesar sejak November 2024. Selain tertekan penguatan dolar, sterling juga dibebani ketidakstabilan politik di Inggris setelah Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan politik domestik.

Yen Jepang Dekati Zona Rawan

Sementara itu di Asia, yen Jepang kembali mendekati zona rawan. Dolar AS naik ke level 158,74 yen dan membuat mata uang Jepang semakin dekat ke area psikologis 160 yang sebelumnya sempat memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Yang menarik, pelemahan yen terjadi justru ketika inflasi grosir Jepang naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi dan bahan kimia. Kondisi ini membuat pasar mulai berspekulasi Bank of Japan bisa kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun langkah tersebut belum cukup menahan tekanan terhadap yen karena arus dana global masih terus mengalir ke dolar AS.

Pasar kini melihat dolar bukan sekadar mata uang cadangan dunia, tetapi juga benteng utama menghadapi kombinasi paling sensitif saat ini: perang, inflasi, dan ketidakpastian suku bunga global.

Ketika harga minyak terus naik dan obligasi AS menawarkan imbal hasil tinggi, mata uang negara lain mulai kehilangan tenaga satu per satu. Dan selama konflik Iran belum menunjukkan tanda mereda, dolar tampaknya masih sulit dijatuhkan dari singgasananya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79