KABARBURSA.COM – Dolar AS memasuki akhir pekan dengan dinamika yang penuh ketegangan. Pergerakannya dipengaruhi dua kekuatan utama, yaitu intervensi verbal Jepang yang mendorong penguatan yen, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menjaga dominasi greenback terhadap mayoritas mata uang global.
Yen menjadi fokus utama pasar valuta asing pada Jumat waktu setempat, 21 November 2025, ketika pernyataan tegas Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama memicu lonjakan tajam mata uang tersebut.
Katayama menegaskan bahwa intervensi langsung di pasar valuta asing adalah “kemungkinan nyata” bila pergerakan yen dianggap terlalu bergejolak dan spekulatif. Pernyataan ini cukup membuat trader global mundur selangkah. Mereka mengantisipasi potensi aksi beli besar-besaran yen oleh otoritas Tokyo, seperti yang pernah terjadi pada Juli 2024.
Yen langsung menguat 0,63 persen ke level 156,54 per dolar. Penguatannya bangkit dari posisi terlemah dalam hampir sepuluh bulan yang tersentuh sehari sebelumnya. Namun hal ini tidak menghapus fakta bahwa yen masih berada di jalur penurunan mingguan sebesar 1,2 persen.
Hal ini mencerminkan pelemahan struktural akibat beban fiskal Jepang. Begitu pula dengan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kebijakan dan perubahan sentimen setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi terpilih pada awal Oktober kemarin.
Intervensi Jepang Kehilangan Kredibilitas
Di sisi lain, sebagian analis menilai ancaman intervensi Jepang mulai kehilangan kredibilitas. John Velis dari BNY Markets menyebut bahwa pasar semakin ragu intervensi ini akan dilakukan. Apalagi, ada ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) baru akan menaikkan suku bunga paling cepat akhir tahun atau awal 2026.
Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat pergerakan yen tetap tertahan, meski intervensi verbal semakin keras.
Berbeda halnya dengan pergerakan dolar terhadap mata uang lain, yang tetap menunjukkan kekuatan solid. Indeks dolar sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Mei, yang artinya permintaan terhadap greenback masih besar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Para pelaku pasar terus memburu dolar karena anggapan bahwa ekonomi AS masih lebih tangguh dibandingkan kawasan lain, meskipun kabut penutupan pemerintahan dan data ekonomi yang tertunda sempat mengganggu ritme pasar tenaga kerja.
Komentar Dovish Pejabat the Fed
Salah satu faktor yang menahan penguatan dolar justru datang dari komentar dovish Presiden The Fed New York John Williams. Ia menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga masih dimungkinkan dalam waktu dekat tanpa membahayakan target inflasi.
Pernyataan ini cukup untuk menurunkan tensi bullish dolar, terutama setelah probabilitas pemangkasan suku bunga Desember melonjak dari 39 persen menjadi 71 persen dalam sehari.
Namun, komentar Williams tidak sepenuhnya seirama dengan nada pejabat Fed lainnya. Presiden Fed Boston Susan Collins menilai kebijakan saat ini (tidak menurunkan suku bunga) sudah berada di titik tepat.
Hal senada disampaikan Presiden Fed Dallas Lorie Logan. Dia menegaskan perlunya menahan suku bunga lebih lama untuk menilai dampak pengetatan yang sudah berjalan.
Nah, perbedaan pandangan inilah yang kemudian menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar obligasi dan valuta asing.
Euro dan poundsterling juga tidak mampu memanfaatkan jeda penguatan dolar. Euro melemah ke USD1,1511 dan menuju penurunan mingguan sebesar 1 persen, meski data PMI menunjukkan pertumbuhan aktivitas bisnis zona euro mulai pulih.
Namun sektor manufaktur yang masih berkutat di wilayah kontraksi, tetap menjadi beban bagi sentimen mata uang tunggal tersebut.
Sterling juga tergelincir ke USD1,3105 di tengah kewaspadaan menjelang pengumuman anggaran Inggris minggu depan. Investor menilai ekonomi Inggris menghadapi tekanan berat, sehingga ruang penguatan pound menjadi terbatas.
Pasar obligasi pun diperkirakan akan bereaksi keras terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah Inggris.
Bitcoin Meluncur Deras ke USD84.146,2
Di pasar aset kripto, dolar yang kuat menambah tekanan pada Bitcoin yang jatuh ke level terendah tujuh bulan. Harga Bitcoin turun 3,52 persen ke USD84.146,2, memperjelas pola risk-off yang mendominasi pasar global.
Keseluruhan dinamika ini menggambarkan pasar valuta asing yang berada di persimpangan antara kekuatan dolar yang masih dominan, ancaman intervensi Jepang yang belum sepenuhnya dipercaya, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Dolar tetap menjadi mata uang paling kuat secara struktural, namun volatilitas meningkat karena pasar harus menimbang setiap sinyal kebijakan dari The Fed, intervensi Asia, hingga tren makro yang menekan permintaan global.
Dalam lanskap seperti ini, pergerakan dolar cenderung tetap agresif, tetapi jauh lebih sensitif terhadap perubahan narasi kebijakan dan geopolitik dibanding pekan-pekan sebelumnya.(*)