KABARBURSA.COM – Sudah Dua pekan ini, dolar AS menguat ke level tertinggi. Kenaikan Greenback ke area 97,85 bukan semata refleksi kekuatan ekonomi AS, melainkan respons langsung atas meningkatnya volatilitas lintas aset, mulai dari saham, komoditas, hingga mata uang utama dunia.
Dorongan utama datang dari memburuknya pasar saham AS. Hal ini tercermin dari menurunnya Nasdaq Composite hampir 2,9 persen dalam dua hari berturut-turut. Sebagai implikasi, aliran dana defensive menuju dolar.
Melemahnya Nasdaq disebabkan laporan keuangan emiten teknologi besar yang sangat agresif, khususnya di sektor kecerdasan buatan generatif. Perubahan struktur belanja ini memicu penyesuaian valuasi, terutama pada saham perangkat lunak yang sebelumnya menjadi tulang punggung reli pasar.
Secara bersamaan, pasar tenaka kerja AS melambat. Klaim pengangguran mingguan tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Sementara, pembukaan lapangan kerja pada Desember berada di bawah ekspektasi.
Kondisi ini menahan laju pergerakan dolar agar tidak terlalu agresif. Apalagi, kedua data di atas belum cukup kuat untuk mengubah kebijakan moneter Federal Reserve, terlebih inflasi inti masih berada di atas level aman dan pertumbuhan ekonomi tetap solid secara agregat.
Hal lainnya terkait dengan nominasi Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell. Situasi ini menciptakan ruang spekulasi, bahwa kebijakan moneter AS akan tetap berada dalam fase higher for longer, sebuah narasi yang secara struktural menopang dolar dalam jangka pendek.
Poundsterling Inggris Terpukul
Posisi kuat dolar AS juga didukung dengan melemahnya poundsterling. Mata uang Inggris ini melemah setelah Bank of England mempertahankan suku bunga. Pelemahan sterling hingga ke kisaran USD1,3550 juga diperburuk oleh faktor politik domestik Inggris, di mana ketidakpastian kepemimpinan dan dinamika penunjukkan diplomatik menambah premi risiko terhadap aset Inggris.
Beralih ke euro, yang bergerak lebih stabil. Keputusan Bank Sentral Eropa mempertahankan subu bunga, tidak memicu reaksi besar. Ekspektasi pasar sudah terbentuk sebelumnya, Euro secara tahunan menguat sekitar 13 persen terhadap dolar AS.
Dan, apresiasi ini berpotensi menekan inflasi lebih jauh, yang kini berada di sekitar 17 persen, di bawah target resmi ECB.
Sementara itu, rupiah ditutup lesu pada penutupan perdagangan Kamis, 5 Februari 2026. Rupiah melemah 0,39 persen menjadi 16.841 per USD.
Harga Emas dan Perak Kembali Tertekan
Dolar AS semakin digjaya setelah harga emas dan perak kembali tertekan. Penurunan tajam harga kedua logam mulia tersebut, hingga lebih dari 15 persen, sejalan dengan penguatan dolar dan meningkatnya kebutuhan likuiditas tunai di pasar global.
Secara keseluruhan, perdagangan dolar AS saat ini berada di persimpangan antara faktor defensif dan fundamental. Di satu sisi, meningkatnya volatilitas saham, tekanan pada komoditas, serta pelemahan mata uang utama memperkuat peran dolar sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang mulai melunak menahan potensi reli lanjutan agar tidak berubah menjadi tren satu arah. Pasar kini bergerak dalam fase evaluasi ulang risiko, di mana setiap rilis data dan sinyal kebijakan berpotensi memicu rotasi aset secara cepat lintas kelas instrumen.(*)