Logo
>

Dukung B57+, Kadin Sebut Potensi Ekonomi Industri Halal dan Syariah Mencapai USD8 Triliun

Kawasan Asia Pasifik mencakup pasar luas, serta memiliki dinamika ekonomi yang terus tumbuh

Ditulis oleh Harun Rasyid
Dukung B57+, Kadin Sebut Potensi Ekonomi Industri Halal dan Syariah Mencapai USD8 Triliun
Anindya Bakrie (tengah) selaku Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) sebut B57+ mampu perkuat posisi Indonesia dalam memanfaatkan potensi ekonomi industri halal global dan keuangan syariah dengan nilai mencapai USD8 triliun. Foto: Harun/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - B57+ sebagai forum bisnis negara-negara Islam akan memperkuat peran Indonesia dalam industri halal global serta keuangan syariah.

Terlebih Indonesia saat ini menjadi kantor pusat B57+ Asia Pacific Regional Chapter dengan Arsjad Rasjid yang menjabat sebagai ketua umum.

Anindya Bakrie, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tersebut.

Kadin menilai posisi penting Indonesia dalam B57+, bakal semakin membuka peluang bisnis di kawasan Asia Pasifik yang memiliki potensi ekonomi besar.

“Selamat buat Pak Arsjad yang menjadi chairman daripada B57+ Asia Pacific Regional Chapter. Ini kebanggaan buat Indonesia, karena Asia Pasifik bukan hanya Indonesia atau Asia Tenggara, tapi seluruh Asia Pasifik,” ujar Anindya dalam Halal Bihalal B57+ Asia Pacific Regional Chapter di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu 22 April 2026.

Menurutnya, kepemimpinan Indonesia di forum tersebut menjadi penting. Sebab kawasan Asia Pasifik mencakup pasar luas, serta memiliki dinamika ekonomi yang terus tumbuh. 

Kehadiran figur Indonesia di posisi strategis ini, diyakini mampu memperkuat posisi tawar nasional dalam ekonomi global.

Lebih lanjut, Kadin menyoroti besarnya potensi ekonomi halal dan keuangan syariah global dalam beberapa tahun ke depan. 

Hal ini dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia yang tengah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Kalau kita lihat dari angkanya, saya lihat datanya itu bahwa selama tiga sampai empat tahun ke depan, baik halal sektor dari 3 triliunan USD, maupun Islamic Finance Asset di 5 sampai 8 triliun USD. Itu besar sekali. Sedangkan Indonesia pada saat ini sangat membutuhkan growth story,” jelas pria yang biasa dipanggil Anin tersebut.

Bagi Kadin, dorongan pertumbuhan tersebut selaras dengan target pemerintah untuk meningkatkan laju ekonomi nasional secara bertahap hingga mencapai 8 persen. 

Namun di sisi lain, tantangan global yang penuh ketidakpastian membuat Indonesia perlu memperluas kemitraan strategis.

“Pak Presiden ingin sekali bertahap menuju pertumbuhan ekonomi ke 8 persen dan kita sedang dalam situasi perang. Jadi butuh sekali teman yang banyak, teman yang reliable yang ingin sama-sama maju,” kata Anin.

Dalam konteks ini, B57+ dipandang sebagai mitra potensial karena terdiri dari negara-negara yang memiliki kesamaan kepentingan dalam pengembangan ekonomi berbasis Islam.

Kadin juga menilai forum ini memiliki kedekatan dengan ekosistem organisasi internasional seperti Organisation of Islamic Cooperation (OIC) dan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD).

“Jadi ini reliable dan peospektif partner untuk bisa mengembangkan industri halal dan islamic finance," kata Anin.

Pengembangan industri halal dan keuangan syariah ini, dipandang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara merata.

“Indonesia adalah negara muslim yang terbesar di dunia, membutuhkan kesejahteraan. Terutama kesejahteraan yang bisa sampai kepada pelosok-pelosok di daerah,” pungkas Anin.

Ke depannya, Kadin siap mendukung penuh kepemimpinan Indonesia dalam B57+ Asia Pacific Regional Chapter,  termasuk rencana agenda lanjutan di kawasan Asia Pasifik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.