KABARBURSA.COM - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bakal menerbitkan Panda Bond atau surat utang global berdenominasi Yuan di China pada Juli 2026.
Panda Bond diharapkan menjadi instrumen yang dapat membuka sumber pendanaan baru untuk pembangunan negara.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu, Herman Saheruddin, pihaknya sudah bertemu dengan bank sentral Tiongkok yakni People's Bank of China (PBOC) terkait perizinan Panda Bond.
"(Penerbitan Panda Bond) sesuai jadwal. Perizinannya kemarin harus masuk juga ke PBOC. Pak Menteri (Purbaya) sudah ketemu dengan Gubernur bank sentralnya dan beliau berkomitmen, oke kita bersedia untuk membantu kita bisa cepat. Tapi kan tetap administrasi harus kita lakukan," ujarnya kepada media di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis 26 Juni 2026.
Sebelumnya pemerintah sempat bertolak ke China selama 17-20 Juni lalu untuk mendulang minat investor asing terhadap Panda Bond.
Pada kesempatan tersebut, sekitar 15 investor berminat membeli Panda Bond. 15 investor asing ini diantaranya Agricultural Bank of China, Bank of China Wealth Management, Zhongou Asset Management, ICBC Wealth Management, Minsheng Tonghui AMC, CITIC-Prudential Life Insurance Company, China Exim Bank, serta Harvest Fund Management.
Herman menyebut, respons Panda Bond cukup baik di mata investor tersebut. Bahkan ada pihak underwriter atau lembaga penjamin kelayakan investasi yang telah lebih dulu memesan Panda Bond.
"Paling tidak dari underwriter-nya mereka dengan confidence ambil porsi yang mereka boleh beli sendiri, sisanya kan harus dijual ke luar gitu kurang lebih. Jadi itu suatu tanda bahwa pada saat kita ketemu dengan investor-investor lain itu, selain yang di underwriter bahwa minatnya cukup tinggi," jelasnya.
Sebelumnya terkait Panda Bond, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa telah bertemu dengan Kementerian Keuangan China, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), dan investor di Beijing, Kamis 18 Juni 2026.
"Hasilnya cukup baik. Kita bertemu Menteri Keuangan Tiongkok, People’s Bank of China, dan juga para investor di sini. Dukungan yang diberikan kepada Indonesia sangat kuat," ungkap Menkeu dalam keterangannya, 18 Juni lalu.
Purbaya menyebut, penerbitan Panda Bond merupakan strategi diversifikasi pembiayaan pembangunan nasional agar tidak bergantung pada satu mata uang saja, terutama dolar AS.
"Kita ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan sehingga tidak dipengaruhi oleh satu sumber mata uang saja. Ini juga sejalan dengan kerja sama transaksi mata uang lokal yang sudah terjalin antara Indonesia dan China," kata Purbaya.
Menkeu juga mengklaim, fundamental ekonomi Indonesia masih terbilang sehat di tengah dinamika global.
"Fundamental ekonomi Indonesia tidak ada masalah. Beberapa isu yang menjadi perhatian investor sudah direspons dan sedang diperbaiki oleh pemerintah sesuai arahan Presiden untuk menciptakan iklim investasi yang semakin baik," pungkasnya.(*)